Wednesday, May 22, 2024
spot_img
CleanTexs
20240303_141948
agaddhita
UMcmps
previous arrowprevious arrow
next arrownext arrow
Shadow

Kesuksesan Munas Tarjih ke-32 di Pekajangan Pekalongan

Kesuksesan Munas Tarjih ke-32 di Pekajangan Pekalongan

oleh: Dr Thoat Stiawan MHI
-Dekan FAI UM Surabaya
-Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Surabaya

Pekalongan, kartanusa.id – Munas Tarjih ke-32, mengusung tema “Meneguhkan Islam Berkemajuan dalam Membangun Peradaban Semesta,” sungguh mencerminkan semangat progresif Muhammadiyah.

Dr Thoat Stiawan MHI selaku Ketua MTT PDM Kota Surabaya yang hadir dalam munas sebagai peninju menyatakan, Munas Tarjih ke-32 di Pekajangan Pekalongan Ini bukan sekadar mengorientasikan wacana keagamaan saja, tetapi juga progresivitas untuk meneguhkan Islam sebagai landasan kokoh dalam menghadapi dinamika tantangan global.

“Adapun materi yang dibahas dalam Munas ini, seperti Pengembangan Manhaj Tarjih Muhammadiyah, Fikih Wakaf Kontemporer, dan Kalender Hijriyah Global Tunggal, ini menegaskan bahwa, komitmen Muhammadiyah dalam merumuskan pandangan yang relevan dengan kehidupan kontemporer umat Islam, dan keseriusan Muhammadiyah dalam menghadirkan pemikiran keagamaan yang sholihun likulli zaman,” terangnya, Senin (26/2/24).

Musyawarah Nasional Tarjih ke-32 di Pekajangan Pekalongan yang dilaksanakan tanggal 23-25 Februari 2024 memang telah berakhir dengan lahirnya tiga produk pemikiran fikih kontemporer, yakni kalender hijriah global tunggal, fikih wakaf kontemporer dan manhaj tarjih Muhammadiyah, namun mendiskusikan ketiga produknya untuk memahami corak pengembangan dan orientasi fikih kontemporer Muhammadiyah dalam merespon isu-isu sosial dan keagamaan adalah hal yang tetap menarik dan aktual.

Adapun hasil Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXII hari ini (25/02/24) menyetujui tigal hal yakni,

Pertama, Munas menyetujui peralihan penggunaan kalender Hijriyah Global. Kalender Hijriyah Global ini merupakan jihad baru Muhammadiyah, yang harus diperjuangkan untuk melahirkan peradaban Islam yang maju.

Kedua, Munas menyetujui lahirnya fiqih wakaf kontemporer. “Dengan fiqih wakaf kontemporer ini kita bisa mengelola wakaf baik berupa benda bergerak maupun benda tidak bergerak sebaik-baiknya. Beragama kit semakin baik, dan kehidupan manusia juga semakin baik,” ucap Hamim.

Ketiga, Munas Tarjih Menyetujui pengembangan manhaj Tarjih Muhammadiyah. Dengan ini wawasan agama warga Muhammadiyah semakin lengkap, dan berorientasi pada kemaslahatan manusia, lingkungan, juga semesta.

Dalam penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXII Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Dr Hamim Ilyas (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah) menyampaikan bahwasanya di Muhammadiyah beragama itu tidak hanya mencari kebahagiaan akhirat dengan mencari pahala dan menghindari dosa guna meraih surga.

“Beragama juga harus membangun peradaban dan melahirkan surga di dunia ini. Sehingga tercipta sejahtera yang sesejahtera-sesejahteranya, damai sedamai-damainya, dan bahagia yang sebagai-bahagianya,” tandasnya.

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles