Monday, July 15, 2024
spot_img
CleanTexs
20240303_141948
agaddhita
UMcmps
previous arrowprevious arrow
next arrownext arrow
Shadow

Mengenal Model Pembelajaran Kontekstual, Belajar Cerah Ceria di Sekolah Adab SDMUDA

Mengenal Model Pembelajaran Kontekstual, Belajar Cerah Ceria di Sekolah Adab SDMUDA

Surabaya, kartanusa.id – Dalam ranah pembelajaran, terdapat beragam model pembelajaran yang dapat diterapkan di dalam dan di luar kelas dengan susana cerah ceria.

Salah satu tujuan penerapan model pembelajaran cerah ceria di kelas atau di luar kelas adalah kemampuan peserta didik memahami konsep akademis dan mampu untuk menerapkannya di dunia nyata.

Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran cerah ceria berbasis kontekstual. Model ini, ada di sekolah adab MBA Spartans SDMUDA Surabaya sejak semester genang 2023/2024.

Apa pembelajaran kontekstual cerah ceria ?
Para peneliti berpendapat bahwa model pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik sehingga dapat menyelesaikan masalah nyata yang ada di depan mereka, seperti masalah yang dihadapi dalam keluarga, masyarakat, lingkungan saat ini dan masa akan datang.

Berangkat dari pemikiran tersebut Sekolah Adab MBA Spartans SDMUDA mulai semester genap menerapkan model pembelajaran dengan label “Belajar Cerah Ceria” (BCC).

Model pembelajaran ini tidak bisa dipisahkan dengan perubahan paradigma dari pengajaran bergeser menjadi pembelajaran, salah satunya, suasana belajar hidup menyenangkan dan interaktif, dan yang paling penting tempat belajar tidak terbatas ruang kelas tetapi seluas jagat raya.

Menurut ustadzah Indira Yunia Elvi ketua tim kreatif kurikulum sekolah adab MBA Spartans SDMUDA, setelah memahami potensi yang ada pada “Belajar  Cerah Ceria” (BCC), beserta kecakapan yang diperlukan untuk melaksanakannya, kini harus mau juga memahami salah satu konsep yang juga harus dilaksanakan yakni tanpa 3 M tanpa melarang, tanpa memerintah dan tanpa marah.

“Namun, pelaksanaan 3 M tidak boleh dilaksanakan asal-asalan, harus melalui proses dasar pendidikan dengan memahami karakteristik siswa, memiliki data siswa, artinya harus memiliki pijakan saintifik,” ujar ustadzah Indira Yunia Elvi juga sebagai guru Bahasa Indonesia.

“Dalam hal pelaksanaan konsep pembelajaran tanpa 3 M, guru di sekolah, orang tua di rumah dan lingkungan harus sinkron. Jangan sampai, anak anak mendapat treatment tanpa 3 M di sekolah oleh gurunya, di rumah dan dilingkungan orang tuanya melakukan 3 M. Akibatnya, anak akan mengalami kebingungan,” tandas ustadzah Indira Yunia Elvi. (Sudar/yud)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles