Wednesday, May 29, 2024
spot_img
CleanTexs
20240303_141948
agaddhita
UMcmps
previous arrowprevious arrow
next arrownext arrow
Shadow

Puasa Adalah Perintah Allah SWT

No Ferry No Happy

Bismillahirrahmanirrahim
Embun Pagi Cermin Diri Harian (EPCDH) Edisi RAMADHAN

oleh Ferry Is Mirza (fim) Refrensi Tafsir Al-Quran dan Al-Hadits
Ahad 7 Ramadhan 1445 H, 17 Maret 2024

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puasa Adalah Perintah Allah SWT

Pasukan ketika diperintah oleh komandannya akan bersikap, ‘siaaap’. Apalagi kita sebagai hamba Allah diperintah oleh Sang Khaliq Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Saat perintah puasa Ramadhan pertama kali tahun 2 hijriah, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat sedang dalam perang Badar, tapi mereka tetap menjalankan perintah puasa, dan Allah berikan kemenangan kepada mereka. Kita harus siap menjalankankan perintah Allah.

Yang artinya :“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 183)

Memang nilai puasa Ramadhan bagi kaum muslimin suatu kemuliaan yang luar biasa, karena di situ Allah mendidik orang beriman untuk meningkatkan amal shalih dengan tunduk kepada Allah dan mengalahkan hawa nafsu kita yang tidak jarang menjadi belenggu terbesar. Tapi, balasan Allah itu tanpa batas, sesuai hadits Shahih, dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda :

Yang artinya :“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa’. Amalan puasa tersebut adalah untukKu. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan makanan, minuman dan syahwatnya karenaKu. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan; yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi”. (HR. Bukhari Muslim)

Belum lagi nilai tambah yang lain; interaksi dengan Al-Qur’an, sedekah, qiyamullail, menuntut ilmu agama, i’tikaf, dakwah, dll.

Bahkan Ibnu Rajab dalam kitab “Bughyatul Insaan fie Wadhaif Ramadhan”; mengatakan bahwa Ramadhan itu memiliki 3 keutamaan :

Pertama, Keutamaan Tempat; Seperti keutamaan Masjidil Haram, Mekkah. Shalat di sana sekali seperti 100.000 kali dibanding di tempat kita. Makanya, kalau Ramadhan ummat berbondong-bondong ke Mekkah.

Kedua, Keutamaan Waktu; Ramadhan adalah waktu mulia, itu luar biasa. Bahkan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam mengatakan bahwa :

Yang artinya :“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan- setan dibelenggu”.
(HR. Bukhari Muslim).
Apalagi sepuluh terakhir Ramadhan, nilainya semakin meningkat.

Ketiga, Keutamaan Amal; Banyak amal- amal yang ditetapkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memiliki keutamaan. Contoh: Membaca surah Al-Ikhlas tiga kali seperti pahala orang yang khatam Alqur’an. Sementara untuk mengkhatamkan Al-Qur’an itu butuh waktu lama. Paling cepat, 3 hari yang utama. Luar biasa.

Nah, Ramadhan ini kesempatan yang harus kita maksimalkan untuk mengamalkan amal amal yang bernilai lebih itu. Jadi peluang Ramadhan mengandung tiga kelebihan tadi. Makanya pantas kalau Malaikat Jibril menyampaikan kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam bahwa :

Yang artinya :“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni”. (HR. Ahmad. shahih)

Tinggal bagaimana ummat Islam merespon kesempatan Ramadhan yang luar biasa nilainya itu. Paling tidak ada 4 model :

Pertama, Orang Muslim yang Acuh; Artinya tidak mengindahkan puasa itu, baik tersembunyi maupun terang-terangan tidak berpuasa. Betapa ruginya orang jenis ini, kecuali dia bertaubat.

Kedua, Orang Muslim yang Berpuasa Tapi Perbuatan Dosanya Tetap Jalan; Sah puasanya, tapi hilang pahalanya. Begitu kata Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam.

Ketiga, Muslim yang berpuasa dan sibuk menangkal dosa, tapi kurang maksimal amalnya.

Keempat, Muslim yang puasa sudah mampu menghindari dosa dan sibuk qalbu, lisan dan anggota tubuhnya untuk senantiasa taat kepada Allah. Ini model paling sukses.

“Semoga kita bisa mencapai yang terakhir ini. Kesempatan emas, jangan sampai kita sia-siakan, nanti menyesal, Allahumma Aamiin”.

fimdalimunthe55@gmail.com

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles