Wednesday, May 29, 2024
spot_img
CleanTexs
20240303_141948
agaddhita
UMcmps
previous arrowprevious arrow
next arrownext arrow
Shadow

Pesan Aris Hidayah: Tersinggung Tidak Harus Dendam, Maafkanlah!

Surabaya, kartanusa.id – Sekitar 10 santri binaan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Rumah Pintar Matahari PCM Krembangan Surabaya melaksanakan pembinaan perdana pasca libur lebaran di Masjid Al-Mukhlis, Rabu (17/4/24).

Kali ini di berikan materi tentang pentingnya memaafkan oleh salah satu pengurus LKSA Rumah Pintar Matahari PCM Krembangan Surabaya Aris Hidayah.

“Setelah setahun lamanya saling berinteraksi dari Ramadan tahun lalu, kadang-kadang ada kerlingan mata tajam, bisikan kata-kata sinis yang membuat hati kita risih untuk mendengarkannya, namun itu adalah sebuah dosa yang tanpa kita sadari meskipun kecil menurut pandangan kita tapi kalau keseringan akhirnya akan menjadi banyak dan bertumpuk sehingga akan menjadi salah satu penghalang dalam mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wata’ala,” ujar Aris yang juga anggota Majelis Kader PCM Krembangan Surabaya.

“Hubungan sesama manusia itu akan cair atau baik jika kita saling memaafkan, maka pada kesempatan inilah momen yang penting untuk saling memaafkan,” imbuh Aris.

Pengertian silaturrahim, sambung Aris, bahwa silah itu menyambung atau menghubungkan, rahim adalah kasih sayang (hubungan kerabat) dan sesungguhnya, semua manusia berasal dari rahim ibu yang merupakan bentuk kasih sayang dari Allah Ta’ala yang dititipkan melalui janin hingga berkembang menjadi besar sampai terlahir kedunia ini. Hubungan silaturrohim tidak dibatasi oleh waktu dan tempat, kapanpun dan dimanapun.

“Bulan Ramadan telah kita jalani dan pada bulan itu kita lebih fokus hubungan vertikal kepada Allah Subhanahu Wata’ala (hablumminallah) yakni kita berpuasa karena perintah Allah walaupun disitu ada zakat yang berdimensi sosial tapi ibadah-ibadah yang ditegakkan pada bulan tersebut porsi terbanyak menekankan hubungan kepada Allah Ta’ala tapi disini kita juga tidak boleh melupakan hubungan sesama manusia (hablumminannas),” paparnya.

Bulan puasa yang lalu kita sering berdoa :

“Allahumma Innaka Afuwwun tuhibbul Afwa faffuannii”

artinya : Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai permintaan maaf, maka maafkanlah kami.

“Jadi, kalau kita mau dimaafkan oleh Allah hendaknya kita menjadi orang yang pemaaf jangan sampai kita minta maafNya Allah Subhanahu Wata’ala  tapi kita tidak pernah mau memaafkan manusia,” tuturnya.

Kenapa yang diperintahkan oleh Al-qur’an itu adalah memberi maaf, karena kalau meminta maaf gampang tapi bagaimana memaafkan orang lain itulah yang susah dan perlu diupayakan, dalam surat Ali Imron Allah Subhanahu Wata’ala menyatakan orang muhsin itu adalah orang yang senantiasa menahan amarahnya dan memaafkan manusia.

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS: Ali Imran 134)

“Yang perlu diingat disini bukan sekedar lambang permohonan maaf melalui jabat tangan yang diinginkan atau bertemu dengan ucapan, namun lebih bagaimana bathin yang ada dalam hati ini ikhlas dan tulus untuk memaafkan. Walaupun dia berjabat tangan tapi hatinya tetap mendongkol itupun dosanya belum luruh,” ujarnya.

“Sesungguhnya silaturahim, begitu juga saling memafkan waktunya bukan hanya ditunggu sesudah lebaran tapi begitu kita sadar telah berbuat salah kita langsung mohon maaf atau memaafkan orang yang bersalah kepada kita,” imbuhnya.

Setiap bani Adam melakukan kesalahan dan sebaik-baiknya yang salah adalah yang bertaubat  (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

“Kita berdoa kepada Allah, semoga nilai-nilai Ramadan yang kita dapat sebulan tersebut, dapat terefleksi keluar selama 11 bulan di luar Ramadan, sampai bertemu Ramadan berikutnya, mudah-mudahan takwa yang kita raih itu betul-betul melekat pada diri kita, inilah sebetulnya buah yang kita harapkan,” tuturnya.

Keberhasilan Ramadan, lanjut Aris, bukan hanya dilihat ketika memasuki bulan Ramadan, tetapi lebih dilihat ketika bulan Ramadan telah berlalu, sama halnya ibadah haji yang kita kerjakan, bukan hanya dilihat ketika kita berada di kota suci Mekkah atau Madinah, karena disana orang sudah terkondisikan untuk taat, begitu pula bulan Ramadan, iklimnya kondusif untuk beramal, namun setelah selesai Ramadan atau haji itulah akan dinilai keberhasilannya.

“Apakah dengan selesainya dari ibadah tersebut seseorang makin bertakwa dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya,” imbuhnya.

Hal lain yang bisa dicontohkan seperti seorang mahasiswa, keberhasilan kesarjanaannnya bukan hanya dilihat ketika di kampus tapi lebih dilihat setelah selesai dari kampus, dia terjun ketengah masyarakat apakah bisa mengamalkan ilmunya.

“Taqabbalallahu minna wa minkum”

Artinya : semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian.

“Kita berdoa semoga amal kita diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala karena tidak ada jaminan amal kita diterima, bisa karena kurang ikhlas atau kurang sempurna dan begitu juga untuk saudara kita yang lain kita doakan supaya amalnya selama bulan ramadhan diterima pula,” ungkapnya.

“Mari kita saling nasehat menasehati dengan kebenaran, saling berpesan dengan kesabaran dan saling nasehat menasehati di dalam kasih sayang,” ungkapnya.

Mala, salah satu santri binaan LKSA Rumah Pintar Matahari PCM Krembangan Surabaya mengatakan bahwa, “Saya awal nya tidak tahu kalau dendam itu tidak boleh setelah di jelaskan saya jadi faham. Karena saya kadang suka tidak menyapa dengan teman sekolah karena rebutan penghapus, dan lain sebagainya, Terimakasih ustadz Aris penjelasan
nya.” (Tama/Aris)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles