Monday, July 15, 2024
spot_img
CleanTexs
20240303_141948
agaddhita
UMcmps
previous arrowprevious arrow
next arrownext arrow
Shadow

Ini Pesan KH Mahsun Djayadi Dalam Halalbihalal Fokal IMM se-FAI UMSurabaya

Surabaya, kartanusa – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Al-Qossam Universitas Muhammadiyah Surabaya melaksanakan acara Halalbihalal IMM bersama Fokal IMM se-Fakultas Agama Islam; Al-Qossam, FIAD dan Al-Faruq. Kegiatan dilaksanakan pada hari Rabu, 01 Mei 2024 Gedung At-Tauhid Tower UMSurabaya lantai 13.

Sejumlah Fokal IMM se-Fakultas Agama Islam UMSurabaya hadir, Dr Thoat Setiawan MHI (Ketua Fokal IMM FAI, Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Surabaya), Dr KH Mahsun Djayadi MAg (Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya 2015-2022, Ketua DPD PAN Kota Surabaya, Direktur Ma’had Umar Ibnu Al-Khattab), Arin Setiyowati SHI MA (Ketua Fokal IMM UMSurabaya), serta Ketua Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Surabaya H Dikky Syadqomullah MHES. Rabu, (1/5/24).

Diawali sambutan oleh Ketua IMM Al-Qossam, Ketua Fokal IMM FIAD, dan Ketua Fokal IMM UMSurabaya. Dilanjutkan tausyiah oleh Dr KH Mahsun Jayadi MAg dan sharing session Fokal IMM se-FAI UMSurabaya lintas generasi dan latar belakang. Kemudian ditutup dengan do’a oleh Ustadz Gandung Fajar Panjalu MA.

Dr KH Mahsun Djayadi MAg selaku Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya 2015-2022 dan alumni IMM FIAD UMSurabaya menyampaikan, “Saya ini alumni IMM FIAD, perjuangan mahasiswa pada waktu itu sangat luar biasa, termasuk ketika awal mendirikan IMM FIAD. Dulu sepeda (ontel) menjadi trand, dalam kegiatan IMM, mulai kegiatan perkuliahan, kajian dan menyebarkan proposal kegiatan”.

“Saya teringat betul, bagaimana dinamika organisasi dan perkuliahan kala itu, nilai perjuangan dalam mencari ilmu menjadi pelajaran tersendiri yang harus terus diteladani bagi para kader. Selanjutnya dalam acara halalbihalal kali ini, halalbihalal itu sendiri adalah sebuah rangkaian budaya yang ada nilai keagamaannya, kalau jaman nabi tidak ada,” tuturnya.

Masih KH Mahsun, dalam halalbihalal, ada 2 momentum yang bisa kita fahami bersama, yaitu :

Pertama, Momentum Silaturrahim; menyambung kekerabatan, menyambung kekeluargaan dalam ini adalah alumni dan kader IMM se-FAI Universitas Muhammadiyah Surabaya. Memontem ini harus kita jaga bersama dalam rangka menguatkan ukhuwah Islamiyah.

Kedua, Selain Memonten Silaturrahim Menyambung Kekeluargaan, Juga Silaturrahim Afkar; sinergi pemikiran, sambung rasa pemikiran yang merupakan salah satu identas asli IMM, yaitu intelektualitas.

“Bedanya dengan Pemuda Muhammadiyah, karena lebih banyak berkecimpung di Pemuda Muhammadiyah, dimana Pemuda Muhammadiyah lebih kuat, lebih kental nuasa politiknya, sedangkan IMM lebih kental kepada intelektualnya. Saya masih ingat betul, dulu Pak Wahyudi dan teman-teman kala itu menyampaikan; setiap bicara harus bisa dalil, kalau tidak punya dalil tidak sah,” ujarnya.

Nah, dalam hal Silaturrahim Afkar, maka ada 3 hal yang harus menjadi kebiasaan baik kader dan alumni IMM, yaitu :

Pertama, Fikroh Diniyah (Pemikiran Keagamaan); Kajian rutin harus dilakukan, sebagai bagian dari penguatan pemahaman keagamaan dan penguatan akhlak. Bisa kajian hadits, bulughul maram, riyadus sholihin, dll. Termasuk kajian Himpunan Putusan Tarjih (HPT), harus bisa memahami isinya, apalagi kita bagian dari pimpinan dan warga Persyarikatan Muhammadiyah.

Kedua, Fikroh Intima’iyah (Pemikiran Sosial Kemasyarakatan); Kepedulian terhadap sesama, Kita harus update dengan perkembangan masyarakat, mencarikan solusi terhadap masalah keumatan. Ini bagian dari nilai-nilai yang ada dalam IMM, yaitu humanitas yang merupakan ruh dakwah Muhammadiyah yang sangat kental dengan filantropinya.

Ketiga, Fikroh Siyasah (Politik Kebangsaan); Politik dalam arti teori politik dan politik praktis. Pemikiran politik kebangsaan harus didasarkan pada politik nilai, hal ini menjadi jalan yang dipilih oleh Persyaratan Muhammadiyah.

“Saya dan ustadz Dikky belum dikabulkan oleh Allah SWT. Dalam hal do’a, apa yang menjadi keinginan saya selalu dikabulkan, tapi khusus dalamĀ  hal politik kali ini, Allah SWT belum mengabulkan. Dalam hal do’a, ada 3 hal yang difahami; do’a langsung dikabulkan, ditunda, dan dikabulkan dalam bentuk yang lain,” tegasnya. (Salman)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles