Wednesday, May 29, 2024
spot_img
CleanTexs
20240303_141948
agaddhita
UMcmps
previous arrowprevious arrow
next arrownext arrow
Shadow

Embun Pagi Cahaya Diri Harian : Jujurlah dan Jangan Diamkan Kemungkaran

No Ferry No Happy

Bismillahirrahmanirrahim
oleh Ferry Is Mirza (fim)
Refrensi Tafsir Al-Qur’an dan Al-Hadits

Jujurlah Dan Jangan Diamkan Kemungkaran

Hidup di dunia tidaklah sepi dari ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, hendaknya setiap diri berjuang dan bersungguh-sungguh dalam berupaya menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan demi menggapai kebahagiaan.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya :“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga, sedangkan Allah belum mengetahui (melihat) siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang sabar?”. (QS. Ali ‘Imran: 142)

Dengan ujian inilah, akan tampak siapakah orang yang benar keimanannya dengan orang yang hanya berpura-pura.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya :“Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka benar-benar Allah akan mengetahui (membuktikan) siapakah orang-orang yang jujur dan akan mengetahui siapakah orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)

Allah Ta’ala juga berfirman dalam surat lainnya, yang artinya :“Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan, memerintahkan yang makruf, dan melarang yang mungkar. Mereka itulah sebenarnya orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-’Imran: 104)

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Abu Ja’far Al-Baqir setelah membaca ayat, “Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang dimaksud kebaikan itu adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnahku.” (HR. Ibnu Mardawaih. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2, hal. 66.)

Allah Ta’ala berfirman tentang kedurhakaan orang-orang kafir Bani Israil, yang artinya :“Telah dilaknati orang- orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu dikarenakan kemaksiatan mereka dan perbuatan mereka yang selalu melampaui batas. Mereka tidak melarang kemungkaran yang dilakukan oleh sebagian di antara mereka. Amat buruk perbuatan yang mereka lakukan itu.” (QS. Al-Ma’idah: 78-79)

Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Tindakan mereka itu (mendiamkan kemungkaran) menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah, dan kemaksiatan mereka anggap sebagai perkara yang sepele. Seandainya di dalam diri mereka terdapat pengagungan terhadap Rabb mereka, niscaya mereka akan merasa cemburu karena larangan-larangan Allah dilanggar dan mereka pasti akan marah karena mengikuti kemurkaan-Nya.” (Tafsir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241)

Di antara dampak mendiamkan kemungkaran adalah kemungkaran tersebut semakin menjadi-jadi dan bertambah merajalela. Syekh As-Sa’di telah memaparkan akibat buruk ini, “Sesungguhnya hal itu (mendiamkan kemungkaran) menyebabkan para pelaku kemaksiatan dan kefasikan menjadi semakin lancang dalam memperbanyak perbuatan kemaksiatan tatkala perbuatan mereka tidak dicegah oleh orang lain, sehingga keburukannya semakin menjadi-jadi. Musibah diniah dan duniawi yang timbul pun semakin besar karenanya. Hal itu membuat mereka (pelaku maksiat) memiliki kekuatan dan ketenaran. Kemudian, yang terjadi setelah itu adalah semakin lemahnya daya yang dimiliki oleh ahlul- khair (orang baik-baik) dalam melawan ahlusy-syarr (orang-orang jelek), sampai-sampai suatu keadaan di mana mereka tidak sanggup lagi mengingkari apa yang dahulu pernah mereka ingkari.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241.)

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya! Benar-benar kalian harus memerintahkan yang makruf dan melarang dari yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan untuk kalian hukuman dari sisi-Nya kemudian kalian pun berdoa kepada-Nya, namun permohonan kalian tak lagi dikabulkan.” (HR. Ahmad. Sahih Al-Jami’, hadits no. 7070. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2, hal. 66.)

Allah berfirman, yang artinya :“Dan ingatlah ketika suatu kaum di antara mereka berkata, ‘Mengapa kalian tetap menasihati suatu kaum yang akan Allah binasakan atau Allah akan mengazab mereka dengan siksaan yang amat keras?’ Maka, mereka menjawab, ‘Agar ini menjadi alasan bagi kami di hadapan Rabb kalian dan semoga saja mereka mau kembali bertakwa.” (QS. Al-A’raf: 164)

fimdalimunthe55@gmail.com

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles