Catatan Sejarah Nusantara
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR
(Pimpinan Redaksi Kabar Berita Nusantara)
Sejarah kota tua Melaka adalah kisah tentang pusat perdagangan maritim yang berkembang pesat, perebutan kekuasaan oleh bangsa-bangsa Eropa, dan akhirnya, pengakuan sebagai situs warisan dunia. Kota ini menjadi cermin perpaduan budaya dan peradaban yang membentuknya.
Era Kesultanan Melaka (1400-1511)
Kota tua Melaka dimulai dengan didirikannya Kesultanan Melaka oleh Parameswara sekitar tahun 1400. Berkat lokasinya yang sangat strategis di Selat Melaka, kota ini dengan cepat menjadi pelabuhan entrepôt (pusat perdagangan) terpenting di Asia Tenggara.
Pedagang dari India, Tiongkok, Arab, dan berbagai penjuru Nusantara berdatangan untuk menukar rempah-rempah, sutra, porselen, dan emas. Pada masa ini, Melaka juga menjadi pusat penyebaran agama Islam dan kebudayaan Melayu yang gemilang.
Periode Portugis (1511-1641)
Kekayaan dan posisi strategis Melaka menarik perhatian bangsa-bangsa Eropa. Pada tahun 1511, Portugis di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque berhasil menaklukkan Melaka. Mereka membangun benteng besar bernama A Famosa dan gereja di puncak Bukit St. Paul.
Namun, penguasaan Portugis memindahkan jalur perdagangan, dan Melaka mulai kehilangan kejayaannya sebagai pusat perdagangan. Reruntuhan benteng A Famosa dan sisa Gereja St. Paul adalah saksi bisu dari era ini.
Periode Belanda (1641-1824)
Setelah mengepung kota selama berbulan-bulan, Belanda berhasil merebut Melaka dari Portugis pada tahun 1641. Meskipun benteng A Famosa rusak, Belanda memperbaikinya. Mereka juga membangun gedung-gedung monumental di sekitar area Benteng, termasuk Stadthuys (Balai Kota), Gereja Kristus (Christ Church), dan bangunan-bangunan merah lainnya yang kini menjadi ciri khas kota.
Di bawah kekuasaan Belanda, Melaka tidak lagi menjadi pusat perdagangan utama karena Belanda lebih memilih Batavia (Jakarta) sebagai pusat kekuasaan mereka.
Periode Inggris dan Pengakuan Dunia (1824-Sekarang)
Melalui Perjanjian Inggris-Belanda tahun 1824, Melaka diserahkan kepada Inggris. Kota ini menjadi salah satu dari tiga Negeri-Negeri Selat bersama Singapura dan Penang. Meskipun Melaka mengalami beberapa modernisasi, kota ini tetap berada di bawah bayang-bayang Singapura yang berkembang pesat.
Pada tahun 2008, kota tua Melaka, bersama dengan George Town di Penang, diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Pengakuan ini diberikan karena Melaka memiliki warisan sejarah dan budaya yang unik, yang terbentuk dari percampuran budaya lokal dengan pengaruh kolonial Portugis, Belanda, dan Inggris.
Hingga kini, kota ini terus memelihara bangunan-bangunan bersejarah, kuil, masjid, dan jalan-jalan kuno yang menceritakan kisahnya yang berlapis.
Senin, 25 Agustus 2025, Kabar Berita Nusantara (kartanusa)







