Catatan Demokrasi : Benarkah Redominasi Jalan Mulus Kesejahteraan?
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Wakil Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Gerakan Bela Negara Jawa Timur)
Redominasi rupiah atau yang sering dikenal dengan penyederhanaan nominal mata uang, misalnya Rp1.000 menjadi Rp1 sering kali memicu perdebatan seru. Singkatnya: “Redominasi bukanlah obat ajaib untuk ekonomi, tapi lebih ke arah perapihan administrasi”.
Apakah itu solusi terbaik? Tergantung pada apa masalah yang ingin kita selesaikan. Mari kita bedah secara objektif tentang hal itu :
Pertama, Kapan Redominasi Menjadi Solusi Terbaik; Redominasi sangat efektif untuk meningkatkan efisiensi teknis. Jika masalahnya adalah hal-hal berikut ini, maka redominasi adalah solusi terbaiknya, yakni :
- Penyederhanaan Transaksi; Bayangkan belanja miliaran rupiah tanpa deretan nol yang memusingkan. Ini mengurangi risiko kesalahan input data di perbankan dan akuntansi.
- Efisiensi Sistem IT; Banyak sistem komputer lama memiliki batasan digit. Mengurangi jumlah nol bisa memperpanjang umur sistem tersebut.
- Martabat Mata Uang; Secara psikologis, mata uang dengan terlalu banyak nol sering dipersepsikan lemah atau bernilai rendah di mata internasional, meskipun secara fundamental ekonomi mungkin stabil.
Kedua, Apa yang Tidak Bisa Diselesaikan Redominasi; Ini adalah miskonsepsi umum. Redominasi bukanlah solusi untuk hal berikut:
- Daya Beli; Jika harga beras Rp15.000 menjadi Rp15, dan gaji Anda Rp5.000.000 menjadi Rp5.000, daya beli Anda tetap sama.
- Inflasi Tinggi; Redominasi hanya bisa dilakukan dengan sukses saat inflasi sudah rendah dan stabil.
“Jika dilakukan saat inflasi tinggi, harga akan terus naik dan nol-nol tersebut akan kembali lagi dengan cepat”
Ketiga, Risiko yang Harus Diwaspadai; Redominasi bisa menjadi bumerang jika persiapannya setengah matang, maka perlu dipertimbangkan dengan baik, hal-hal berikut:
- Ilusi Uang (Money Illusion); Masyarakat mungkin merasa barang jadi murah karena harganya hanya Rp15 (padahal sebelumnya Rp15.000), sehingga menjadi lebih konsumtif.
- Pembulatan ke Atas; Pedagang cenderung membulatkan harga. Jika barang seharga Rp1.200 diredominasi menjadi Rp1,20—pedagang mungkin akan membulatkannya menjadi Rp1,50 atau Rp2,00. Ini memicu inflasi dadakan.
- Trauma Masa Lalu; Masyarakat sering bingung membedakan Redominasi dengan Sanering (pemotongan daya beli uang seperti yang terjadi di Indonesia tahun 1959).
“Jika masyarakat panik, mereka akan berbondong-bondong menukar uang ke dollar atau emas, yang justru bisa merusak nilai rupiah”
Redominasi adalah solusi terbaik untuk modernisasi sistem keuangan, tapi bukan solusi untuk memperbaiki fundamental ekonomi. Syarat utamanya adalah kondisi politik yang stabil dan komunikasi publik yang sangat masif agar tidak terjadi kepanikan.
Sebenarnya Indonesia sudah menyiapkan RUU Redominasi selama bertahun-tahun, namun pemerintah sangat berhati-hati menunggu momen ekonomi yang benar-benar tenang.







