spot_img
No menu items!
More
    HomeEkonomi & BisnisIndonesia Aman! Tapi, Apakah Benar-benar Siap?

    Indonesia Aman! Tapi, Apakah Benar-benar Siap?

    Indonesia Aman! Tapi, Apakah Benar-benar Siap?

    Oleh Nurul Fajriana Aprilia 

    (Mahasiswa S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya)

    Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, banyak masyarakat Indonesia merasakan satu hal yang sama: rasa aman. Secara letak geografis, Indonesia berada jauh dari kawasan konflik di Timur Tengah. Tidak ada suara sirene, tidak ada ancaman rudal yang melintas.

    Namun, pertanyaan yang lebih mendasar sebenarnya bukan: apakah kita aman? melainkan: apakah kita sudah siap?

    Ada satu asumsi yang sering luput disadari, yaitu menganggap bahwa kondisi aman berarti kesiapan sudah terpenuhi. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa keduanya tidak selalu sejalan. Indonesia memang bukan sasaran langsung, tetapi dampak perang di era modern tidak lagi terbatas pada wilayah pertempuran. Saat Iran menolak tawaran damai dari Amerika dan konflik terus berlanjut, ketegangan global semakin meningkat, bahkan korban telah mencapai ribuan jiwa.

    “Ini jelas bukan konflik kecil, melainkan situasi yang berpotensi mengganggu stabilitas dunia”

    Pernyataan dari para pemimpin dunia juga memperlihatkan betapa seriusnya eskalasi yang terjadi. Presiden Amerika Serikat menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlangsung hingga target tercapai, bahkan menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran.

    Sementara itu, Iran menganggap serangan tersebut sebagai tindakan ilegal dan menyatakan akan terus melakukan perlawanan selama masih diserang. Ini bukan lagi bahasa diplomasi, tetapi sudah masuk pada komunikasi konflik terbuka.

    Dampaknya pun mulai terasa dalam skala global. Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan, bahkan dilaporkan meningkat hingga sekitar 67% akibat konflik ini.

    Bahkan, Lembaga seperti Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) juga memperingatkan bahwa perang yang berkepanjangan berpotensi memicu inflasi global serta memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Lalu, muncul pertanyaan penting: sejauh mana Indonesia siap menghadapi dampak berantai ini?

    Di titik ini, kita perlu melihat kondisi dalam negeri secara lebih jujur, yakni:

    Pertama, Dari sisi ketahanan pangan; Indonesia masih mengandalkan impor untuk beberapa komoditas penting. Dalam kondisi global yang tidak stabil, gangguan rantai pasok bisa terjadi kapan saja.

    Kedua, Sektor energi; Kenaikan harga minyak dunia secara langsung akan memengaruhi subsidi, harga BBM, dan daya beli masyarakat.

    Ketiga, Aspek pertahanan; Walaupun Indonesia bukan negara yang terlibat konflik, muncul pertanyaan apakah sistem pertahanan kita cukup kuat untuk menghadapi ancaman modern seperti serangan siber, penyebaran disinformasi, hingga tekanan ekonomi.

    Ada kecenderungan berpikir yang perlu diwaspadai: karena Indonesia tidak terlibat perang, kita merasa tidak perlu melakukan persiapan lebih. Ini mencerminkan false sense of security.

    Padahal, dunia saat ini saling terhubung. Bahkan gangguan di Selat Hormuz—yang merupakan jalur vital distribusi minyak dunia—saja sudah cukup untuk mengguncang perekonomian global, termasuk Indonesia.

    Jika dilihat dari sudut pandang lain, bisa jadi selama ini Indonesia bukan benar-benar siap, melainkan hanya berada dalam posisi yang menguntungkan. Letak geografis yang jauh dari konflik dan tidak menjadi kepentingan strategis global membuat kita relatif aman. Namun, bergantung pada keberuntungan jelas bukan sebuah strategi jangka panjang.

    Dalam situasi dunia yang semakin tidak stabil, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan status netral atau jarak geografis dari konflik.

    “Kesiapan harus dibangun secara nyata, mulai dari penguatan kemandirian pangan, diversifikasi sumber energi, hingga modernisasi sistem pertahanan”

    Jadi, apakah Indonesia aman? Untuk saat ini, mungkin iya. Namun, apakah kita benar-benar siap menghadapi ketidakpastian global yang semakin meningkat? Jawabannya belum tentu seaman yang kita bayangkan.

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here