Magelang, kartanusa – Teguhkan Aswaja, Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa saat ini kita membutuhkan sebuah Piagam Keulamaan, sebagai panduan ilmu dan spiritual, sekaligus rujukan fungsi ulama sebagai pengayom dan penuntun umat.
Hal ini disampaikan Gus Yahya, Ketum PBNU saat menghadiri Halaqah Nilai-Nilai Keulamaan yang digelar di Ponpes Raudlatut Thullab, Magelang. Dilansir dari laman resmi media sosial TVNU pada Rabu (17/06/2026).
Dalam tausiyahnya, Ketum PBNU, Gus Yahya menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama adalah jam’iyah-nya ulama, namun dirinya menyoroti standar keulamaan, dimana akhir-akhir ini semakin tidak jelas arahnya.
“Hari-hari ini standar keulamaan semakin tidak jelas arahnya, sementara umat semakin bingung kemana arah yang benar.” Tutur Gus Yahya, Ketum PBNU.
Lebih lanjut, Gus Yahya mengungkapkan bahwa kondisi tersebut turut diperparah dengan maraknya nilai-nilai pragmatis yang kerap mendahului kerangka ilmu, sehingga nilai-nilai keulamaan berangsur lemah.
“Maraknya nilai-nilai pragmatis yang kerap mendahului kerangka ilmu, sehingga nilai-nilai keulamaan berangsur lemah dan mulai kehilangan makna sejatinya.” Tegasnya.
Gus Yahya juga menegaskan bahwa sejak berdiri, NU dibentuk untuk memikirkan nasib ulama yang kemudian bergerak bersama dalam membersamai dan melayani umat secara bermartabat. Menurutnya, menjadi sebuah hal yang sia-sia jika kita hanya mengejar kemegahan fisik.
“Menjadi sebuah hal yang sia-sia jika kita hanya mengejar kemegahan fisik, namun hakikat keulamaan itu luput dari benak kita.” Pungkasnya. (Humas/Gus).







