spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaInspirasi Kehidupan : Menanti Rembulan Setelah Hujan Badai

    Inspirasi Kehidupan : Menanti Rembulan Setelah Hujan Badai

    Inspirasi Kehidupan : Menanti Rembulan Setelah Hujan Badai

    Oleh Ustadz Awal Syahyudi

    (Wakil Sekretaris PW IPHI Jawa Timur)

    Di sebuah desa yang terjepit di antara pundak gunung dan bisikan hutan, hiduplah sebuah keyakinan: bahwa rembulan adalah sebuah koin perak yang dicuci oleh para dewa. Namun, malam ini, langit sedang murka.

    Hujan tidak sekadar turun; ia menghujam. Angin menderu seperti serigala lapar yang mencakar-cakar pintu gubuk kayu, sementara petir sesekali membelah kegelapan, menunjukkan kilasan pohon-pohon yang menari gila dalam balutan air.

    Sang Penjaga Cahaya

    Di sudut gubuk yang paling sunyi, seorang lelaki tua bernama Aki Sura duduk bersila. Di depannya, sebuah pelita kecil berkedip-kedip, seolah ikut gemetar mendengar guntur yang menggetarkan bumi.

    “Apakah ia akan kembali, Aki?” tanya seorang bocah kecil yang meringkuk di balik sarungnya. “Langit tampak begitu marah, seolah ia ingin menelan malam selamanya.”

    Aki Sura tersenyum, garis-garis di wajahnya tampak seperti peta kuno di bawah cahaya temaram. “Hujan badai ini hanyalah cara langit membersihkan debu-debu kesedihan dunia, Nak. Semakin hebat badainya, semakin terang pula wajah Sang Rembulan saat ia menyapa kita nanti.”

    Ritual Penantian

    Penduduk desa itu punya cara unik untuk menanti. Mereka tidak tidur. Mereka menyeduh teh dari pucuk melati dan duduk di dekat jendela yang tertutup rapat. Mereka percaya bahwa kesabaran adalah jembatan menuju cahaya.

    • Langkah Pertama: Menenangkan napas agar tidak kalah riuh dengan badai.
    • Langkah Kedua: Menyalakan lilin di ambang jendela sebagai tanda bahwa ada yang merindukan langit.
    • Langkah Ketiga: Berbisik pada angin, memintanya membawa pergi awan-awan hitam ke samudera terjauh.

    Keajaiban di Balik Awan

    Tepat ketika jam kayu tua berdentang dua belas kali, deru angin mulai melunak menjadi desiran. Suara hujan yang tadinya seperti derap kaki kuda, kini berubah menjadi petikan kecapi yang lembut di atas atap rumbia.

    Aki Sura bangkit, membuka selot pintu yang lembap. Udara dingin menyergap, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa amukan alam. Perlahan, tirai awan hitam tersingkap.

    “Lihat,” bisik Aki Sura. Dari balik robekan awan, muncullah ia. Sang Rembulan.

    Ia hadir bukan sebagai kepingan perak biasa. Malam ini, ia tampak lebih besar, lebih bulat, dan berkilau dengan cahaya putih susu yang sejuk. Permukaannya tampak berkilauan, seolah benar-benar baru saja dibilas oleh air hujan yang paling murni. Hutan yang tadinya menyeramkan kini berubah menjadi kerajaan perak yang tenang.

    Pelajaran dari Langit Malam

    Dalam folklore desa itu, menanti rembulan setelah badai adalah pengingat bahwa kedamaian tidak datang dengan menolak badai, melainkan dengan bertahan melaluinya. Rembulan tidak pernah pergi; ia hanya bersembunyi untuk memberi ruang bagi langit meluapkan duka.

    “Badai sudah lewat,” Ujar Aki Sura sambil meniup pelitanya. “Sekarang, tidurlah di bawah penjagaan cahaya yang paling setia.”

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here