spot_img
No menu items!
More
    HomeEkonomi & BisnisBara di Timur Tengah, Luka di Kantong Rakyat

    Bara di Timur Tengah, Luka di Kantong Rakyat

    Bara di Timur Tengah, Luka di Kantong Rakyat

    Oleh Erlinda Adelia Anucasana

    (Mahasiswa S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya)

    Ada ironi yang menyesakkan dada setiap kali kita memelototi tajuk berita belakangan ini. Di satu sisi, pemerintah sibuk memoles citra stabilitas ekonomi dengan angka-angka pertumbuhan yang tampak cantik di atas kertas. Namun, begitu konflik pecah di Timur Tengah, narasi manis itu seketika terasa seperti istana pasir yang terhempas ombak.

    “Kita dipaksa menyaksikan kenyataan pahit: fondasi ekonomi kita nyatanya masih serapuh kaca di tengah badai global”

    Konflik antara Iran, Amerika, dan Israel bukan sekadar berita mancanegara yang bisa kita abaikan sambil menyeruput kopi. Ia adalah cermin telanjang yang memperlihatkan betapa lemahnya ketahanan nasional kita. Setiap kali rudal meluncur di belahan bumi lain, denyut nadi APBN kita ikut bergejolak.

    “Kita seolah terjebak dalam kutukan tawanan fluktuasi harga minyak dunia yang tak kunjung usai”

    Selama bertahun-tahun, publik dijejali janji tentang kemandirian energi dan transisi hijau yang megah. Namun, faktanya Indonesia masih menjadi pengikut setia harga pasar global. Pola penanganan pemerintah pun cenderung reaktif—mirip tukang tambal sulam yang baru sibuk mengutak-atik subsidi ketika krisis sudah mengetuk pintu rumah.

    Ketidakmampuan kita memutus ketergantungan pada minyak impor bukan hanya soal kegagalan teknis, melainkan bukti nyata dari absennya visi kedaulatan yang substantif.

    Dampaknya? Rakyat kecil selalu menjadi barisan terdepan yang menanggung beban. Saat ketegangan dunia memicu pelarian modal ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS, Rupiah pun terjun bebas. Di titik inilah, diplomasi “Bebas Aktif” yang sering kita banggakan terasa kehilangan tajinya di hadapan realitas pasar.

    “Ketidakstabilan global ini segera bermuara pada kenaikan biaya logistik yang menyambar harga kebutuhan pokok”

    Beras, telur, hingga cabai di pasar lokal meroket bukan semata karena gagal panen, melainkan karena sistem ekonomi kita yang terlalu sensitif terhadap batuknya ekonomi dunia. Polanya selalu repetitif: kaum elit sibuk mengamankan aset mereka, sementara rakyat dipaksa menelan pil pahit inflasi dengan bungkusan kata “bersabar”.

    Kita harus berhenti mengukur harga diri bangsa dari kemegahan seremonial atau retorika di panggung internasional. Sejatinya, kehormatan sebuah negara dipertaruhkan pada kemampuan pemerintah menjaga isi piring rakyatnya tanpa harus mendongak pada restu keadaan dunia.

    Badai global kali ini adalah ujian kejujuran bagi Indonesia: apakah kita benar-benar bangsa yang merdeka, atau sekadar pengikut yang nasibnya disetir oleh harga komoditas global?

    Sudah saatnya pemerintah berhenti bersikap defensif. Kita butuh tindakan radikal untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan energi yang nyata, bukan sekadar slogan kosong yang habis setelah masa kampanye.

    “Jika ketergantungan ini terus dipelihara, jangan terkejut jika bangsa ini ikut terbakar saat bara di Timur Tengah berubah menjadi api yang lebih besar”

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here