Inspirasi Kehidupan : Konotasi Positif dalam Ungkapan “Iran Keras Kepala”
Oleh Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP.
(Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji)
Pada Rabu 8 April 2026, saya ikut hadir, dalam Rapat Kerja Pemerintah (RKP), salah satu agendanya adalah mendengarkan ceramah pengarahan Presiden Republik Indonesia (RI) Bapak Prabowo Subianto. Dalam bagian ceramah itu terlontar dari presiden kata-kata “keras kepala”.
Awalnya Prabowo menyinggung dirinya disebut oleh sementara pihak sebagai orang yang “keras kepala”. Atas sebutan itu ia pun mengomentari, bahwa sikap keras kepala itu tidak mesti buruk. Terkadang malah baik dan diperlukan.
Contohnya sikap keras kepala para pejuang dan pendiri bangsa ini terhadap penjajah. Justru bangsa Indonesia saat ini bisa menikmati kemerdekaan adalah berkah dari keras kepala mereka itu.
Kemudian Presiden Prabowo mengambil contoh lain, yaitu bangsa Iran. Menurut Presiden Prabowo, karena sikap keras kepala mereka, bangsa Iran bisa bertahan menghadapi sangsi embargo internasional selama kurang lebih 40 tahun.
Malah justru sangsi itu membuat ketahanan nasional Iran berkembang, tangguh, kuat berlipat. Itu terbukti tatkala bangsa Iran harus menghadapi serangan militer dari luar akhir akhir ini.
Iran mampu meladeni dan mengatasi serangan dahsyat dari koalisi Amerika Serikat dan Israel yang dalam teknologi perangnya penuh dengan state of the art.
Jadi frasa “Iran Keras Kepala” yang disebut Presiden Prabowo itu berkonotasi positif. Sama sekali tidak mengandung makna peyoratif, melainkan malah bermakna amelioratif mengenai bangsa Iran.
“Kalau tidak percaya dengan penjelasan saya, saya siap disumpah lho he he he, salam positive thinking. (Dilansir dari laman resmi media sosial miliknya pada Rabu, 9 April 2026)”







