Jakarta, kartanusa — Ketua Panitia Muktamar NU ke-35, Drs. KH. Saifullah Yusuf, S.I.P., yang juga Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), atau yang sering dipanggil Gus Ipul, mengusulkan Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur, sebagai lokasi penyelenggaraan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Alim Ulama NU 2026. Dilansir dari laman resmi media sosial PBNU pada Kamis (21/05/2026).
Hal ini disampaikan oleh Gus Ipul dalam Rapat Pleno PBNU di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya, Jakarta. Menurutnya, Ploso menjadi salah satu tempat yang layak dipertimbangkan karena memiliki akar sejarah, tradisi keilmuan, dan kedudukan penting dalam khazanah pesantren NU.
Usulan menjadikan Ploso sebagai lokasi Munas dan Konbes, lanjut Gus Ipul, juga merupakan tindak lanjut dari usulan KH. Nurul Husna Djazuli dan Gus Muhammad Alkautsar yang menginginkan agar agenda permusyawaratan ulama NU tersebut digelar di Pesantren Ploso.
“Kami bertemu dengan KH. Huda dan Gus Kautsar. Beliau berpesan dan siap Ploso dijadikan lokasi Munas dan Konbes.” Ujarnya.
Selain itu, ia juga mengusulkan agar rangkaian pembukaan Munas dan Konbes Alim Ulama NU 2026 dilaksanakan di kawasan pesantren atau Makbarah Syaikhona Muhammad Kholil, Bangkalan, Madura.
“Gagasan ini penting sebagai bentuk tabarruk, penghormatan, dan penyambungan sanad perjuangan NU kepada salah satu mahaguru para ulama Nusantara.” Tegasnya.
Dengan skema tersebut, pembukaan Munas dan Konbes dapat diawali dari Makbaroh Syaikhona Kholil Bangkalan sebagai simbol penghormatan kepada akar spiritual dan keilmuan NU. Setelah itu, rangkaian sidang, pembahasan, dan forum-forum permusyawaratan dilanjutkan di Pondok Pesantren Ploso, Mojo, Kediri.
Gus Ipul juga menegaskan bahwa Munas dan Konbes Alim Ulama merupakan forum penting bagi NU untuk merumuskan pandangan keagamaan, kebangsaan, dan organisasi. Karena itu, pelaksanaannya perlu ditempatkan di lokasi yang memiliki kekuatan simbolik, tradisi keilmuan, serta kedekatan historis dengan dunia pesantren.
Menurutnya, Pesantren Ploso memiliki kelayakan untuk menjadi tuan rumah karena selama ini dikenal sebagai salah satu pesantren besar yang melahirkan banyak ulama, kiai, dan kader NU. Selain itu, Ploso juga memiliki tradisi keilmuan yang kuat dan menjadi salah satu pusat rujukan pesantren di Jawa Timur.
Sementara itu, Makbaroh Syaikhona Kholil Bangkalan memiliki makna historis dan spiritual yang sangat kuat bagi Nahdlatul Ulama. Syaikhona Kholil dikenal sebagai guru dari para pendiri NU dan menjadi salah satu mata rantai penting dalam tradisi keilmuan pesantren.
Karena itu, pembukaan Munas dan Konbes di Bangkalan diharapkan menjadi penanda bahwa keputusan-keputusan besar NU tetap berpijak pada sanad keilmuan, adab, dan ruh perjuangan para masyayikh.
Meski demikian, Gus Ipul menegaskan bahwa usulan tersebut masih akan dibahas lebih lanjut bersama jajaran PBNU. Keputusan akan ditetapkan melalui mekanisme organisasi.
Dalam rapat pleno tersebut, Gus Ipul juga menyampaikan perkembangan usulan lokasi Muktamar Ke-35 NU. Secara resmi, terdapat tiga Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama yang telah mengajukan diri sebagai calon tuan rumah, yakni Jakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatra Barat.
“Secara resmi ada tiga wilayah yang mengusulkan, satu Jakarta, dua NTB, tiga Sumatra Barat, dan terakhir ada Jawa Timur.” Katanya.
Menurut Gus Ipul, NTB menjadi wilayah yang paling aktif menunjukkan kesiapan. Dukungan tidak hanya datang dari PWNU setempat, tetapi juga dari pemerintah daerah, termasuk dukungan resmi dari gubernur.
“Gubernurnya juga ikut memberikan dukungan resmi.” Tandas Ketua Panitia Pelaksana Munas-Konbes dan Muktamar Ke-35 NU itu. (Humas/Gus).







