Jakarta, kartanusa – Muktamar, kata itu selalu terdengar megah, tapi di Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Muktamar bukan sekadar forum, tetapi perjumpaan tertinggi, wadah merangkul, sekaligus ruang berkhidmat. Menjelang Muktamar VIII IPHI yang akan digelar 15–16 Juni 2026, harapan itu semakin nyata: bagaimana haji mabrur bisa diwujudkan sepanjang hayat, bukan hanya sepanjang perjalanan pulang dari tanah suci.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum (Ketum) Pengurus Pusat (PP) Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia, Dr. Ir. H. Erman Suparno, MBA., M.Si., pada Senin (25/5/2026) menegaskan bahwa Bali dipilih sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan.
“Muktamar sebagai gerakan pengabdian. PP IPHI memilih Bali untuk memberi dukungan pengabdian PW IPHI Bali. Ada simbol kuat di balik pilihan itu; dukungan, kebersamaan, dan pengakuan atas kerja keras semua Pengurus Daerah dan Pengurus Wilayah.” Tutur Ketum PP IPHI, Dr. Erman, panggilan akrabnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa IPHI periode 2020-2025 telah mewujudkan legalitas IPHI dan bagaimana IPHI menjaga hubungan Kelembagaan dengan eksekutif, legislatif, dan Ormas Islam.
“IPHI yang menyampaikan usulan membentuk kementerian haji dan umroh RI.” Tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PP IPHI, Ir. Bambang Irianto, dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan bahwa Muktamar VIII IPHI wujud bersatu dalam berkhidmat.
“Kalimat itu sederhana, tapi maknanya dalam. Bersatu bukan hanya soal hadir bersama, melainkan berbagi peran, berbagi tenaga, berbagi hati.” Tegasnya.
Senada, dalam kesempatan yang sama, Sekretaris PW IPHI Jawa Timur, KH. Imam Mawardi Ridlwan menegaskan harapan yang lebih luas, dimana haji adalah puncak ibadah, yang mestinya menjadi haji yang mabrur sepanjang hayat.
“Haji itu puncak ibadah, semoga semua yang telah ibadah haji jadi mabrur sepanjang hayat.” Tuturnya.
Menurutnya, kemabruran bukan hanya soal pribadi, tapi juga sosial. Haji mabrur harus menambah kepedulian, menambah tauladan. Ia juga menegaskan bahwa peran IPHI yang sudah banyak; mulai Rumah Sakit Islam, pembinaan spiritual, bahkan yang mengusulkan pembentukan BPKH.
“Semua itu adalah bukti bahwa IPHI bukan organisasi yang berhenti di seremoni.” Tegasnya.
Kiyai Imam juga menegaskan bahwa IPHI bergerak dan berbuat. Maka Muktamar VIII diharapkan menjadi titik temu potensi, jika ada yang belum bersama, maka sebaiknya ada islah, damai untuk kebaikan bersama.
“IPHI pasca Muktamar VIII sebaiknya mengeksekusi gagasan menjadi solusi kebersamaan.” Harapnya.
Organisasi, lanjut Kiyai Imam, hanya akan efektif jika selalu menghasilkan jalan keluar. Itulah yang ditunggu dari Muktamar VIII IPHI, bukan sekadar kumpul, bukan sekadar debat.
“Tapi jalan keluar, jalan keluar untuk merangkul, jalan keluar untuk berkhidmat. Jalan keluar untuk mewujudkan haji mabrur sepanjang hayat.” Pungkasnya. (Humas/Gus).







