spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaTangisan Sang Kiai untuk Masa Depan Santri Ponpes Muhammadiyah Al-Munawwir

    Tangisan Sang Kiai untuk Masa Depan Santri Ponpes Muhammadiyah Al-Munawwir

    Bojonegoro, kartanusa — Suasana Kompleks Perguruan Muhammadiyah Balen tampak berbeda pada Ahad (24/05/2026). Ratusan wali santri dan tamu undangan memadati lokasi untuk menghadiri acara Tahtimul Qur’an dan Imtihan Tajwid, Gharib, serta Tahfidz yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Muhammadiyah Al-Munawwir Balen.

    Sejak pagi, rangkaian acara berlangsung khidmat dan penuh semangat. Para santri menampilkan kemampuan terbaiknya dalam hafalan Al-Qur’an, bacaan tajwid, dan gharib di hadapan para tamu undangan.

    Penampilan para santri mendapat apresiasi dan perhatian besar dari para hadirin yang menyaksikan secara langsung hasil proses pendidikan dan pembinaan yang selama ini dijalankan di pondok.

    Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Balen, Ustadz Abdul Malik, menyampaikan harapannya agar para santri terus istiqamah belajar Al-Qur’an. Menurutnya, Pondok Pesantren memiliki peran strategis dalam menyiapkan kader umat yang siap terjun di tengah masyarakat.

    “Kami berharap para santri kelak mampu menjadi penggerak kehidupan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Ilmu yang diperoleh di pondok hendaknya menjadi bekal untuk membangun dan melayani umat.” Tuturnya.

    Sementara itu, harapan serupa juga disampaikan oleh Rudi Suparno, salah satu wali santri kelas IX SMP Muhammadiyah 4 Balen. Ia mengajak para orang tua untuk memberikan dukungan penuh kepada putra-putrinya agar melanjutkan pendidikan hingga jenjang setara Aliyah di pondok pesantren.

    “Enam tahun masa pendidikan di pondok akan memberikan bekal ilmu dan karakter yang lebih kuat. Anak-anak tidak hanya mendapatkan ilmu agama dan umum, tetapi juga pembiasaan hidup yang baik.” Ungkapnya.

    Senada dengan itu, Ustadz Chandra selaku pembina santri Pondok Al-Munawwir Balen juga menegaskan pentingnya keberlanjutan pendidikan santri hingga tuntas agar proses pembinaan karakter dan keilmuan dapat berjalan secara optimal.

    Namun, puncak acara berubah menjadi momen yang sangat mengharukan ketika Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Balen, KH. Abdul Haris, menyampaikan tausiyah penutup. Dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca, beliau beberapa kali menghentikan kalimatnya untuk menahan tangis.

    Di hadapan para santri dan wali santri, sang kiai mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayangnya yang begitu besar kepada anak-anak didiknya. Tangisan itu bukan sekadar luapan emosi, melainkan wujud kecintaan seorang guru yang menginginkan masa depan terbaik bagi para santrinya.

    KH. Abdul Haris juga berharap para santri dapat menuntaskan pendidikan di pondok hingga enam tahun. Menurutnya, pendidikan pesantren merupakan proses pembentukan manusia yang utuh, memadukan ilmu agama, ilmu umum, akhlak, adab, serta pembiasaan hidup yang positif.

    “Di pondok, anak-anak tidak hanya belajar ilmu. Mereka belajar adab, tata krama, kesopanan, kedisiplinan, dan kebiasaan-kebiasaan baik yang akan menjadi bekal sepanjang hidupnya.” Pesannya dengan suara yang masih terbata-bata.

    Suasana aula seketika berubah haru. Banyak wali santri yang tampak menundukkan kepala, sementara sebagian lainnya mengusap air mata yang tak mampu dibendung. Tangisan sang kiai menjadi pengingat bahwa pendidikan sejati lahir dari ketulusan cinta, kesabaran, dan pengorbanan.

    Tahtimul Qur’an dan Imtihan tahun ini akhirnya ditutup dengan doa dan harapan besar agar para santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Al-Munawwir Balen tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak mulia, serta siap mengabdi kepada agama, bangsa, dan masyarakat. (Al Mahmuda Bungkal Damai).

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here