spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaInspirasi Kehidupan: Membangun Sekolah sebagai Laboratorium Pola Pikir

    Inspirasi Kehidupan: Membangun Sekolah sebagai Laboratorium Pola Pikir

    Inspirasi Kehidupan: Membangun Sekolah sebagai Laboratorium Pola Pikir

    Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.

    (Guru Ismuba SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya)

    (Tugas menulis opini pada pelatihan guru menulis di Jawa Pos, Senin (29/06/2026)

    Berbicara tentang pendidikan di Indonesia tentunya harus mampu memahami tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional). Landasan hukum utamanya tertuang dalam UU No 20 Tahun 2003, yang mengatur seluruh proses penyelenggaraan pendidikan mulai dari tujuan, fungsi, hingga standar nasional.

    Secara sistem sudah sangat luar biasa, tetapi yang menjadi problem adalah tentang implementasinya, dimana kita masih sering terjebak dalam hal formal administrasi, sehingga kehilangan ruh dalam mendidik dan mengajar anak-anak.

    Selain itu, ketika sistem sudah berjalan sesuai dengan ketentuan Sisdiknas, ada problem lainnya yang belum terselesaikan yakni terkait infrastruktur. Sebuah sistem yang baik tetapi tidak didukung dengan infrastruktur yang baik maka tidak mungkin rasanya akan menghasilkan lulusan terbaik.

    Perbandingan kualitas pendidikan di kota-kota besar, dan di pelosok tanah air menjadi gambaran dan wajah pendidikan nasional kita. Oleh karena itu, perbaikan pendidikan harus dilakukan Revitalisasi Total, dimana Revitalisasi ini diarahkan pada 2 hal, yakni; Revitalisasi Sekolah dan Pola Pikir.

    Menentukan mana yang lebih prioritas antara Revitalisasi Sekolah dan Revitalisasi Pola Pikir adalah sebuah dialektika yang krusial, terutama jika kita melihatnya dari kacamata pengembangan karakter bangsa. Keduanya bukanlah pilihan yang berdiri sendiri, melainkan dua sisi dari satu koin yang sama.

    Memahami Makna Revitalisasi Pendidikan

    Pertama, Revitalisasi Sekolah: Sekolah adalah ekosistem tempat pendidikan berlangsung. Revitalisasi di sini menyentuh aspek Hardware alias fisik pendidikan, diantaranya adalah:

    • Kurikulum yang Adaptif dan Kreatif: Mengubah metode pembelajaran agar tidak lagi bersifat satu arah, melainkan memicu kreativitas dan berpikir kritis. Dalam kenyataannya, masih banyak diantara kita, mengajar dalam perspektif tuntutan administrasi kedinasan supaya kelihatan baik dan rapi.

    “Hal menjadi tantangan kita bersama, bagaimana ini menjadi momentum untuk menghadirkan diri sebagai guru teladan, bukan guru administrasi”

    • Infrastruktur dan Digitalisasi Pendidikan: Memastikan akses teknologi mendukung pemerataan kualitas, bukan hanya sekadar bangunan fisik yang mewah. Aspek fisik memang sangat membantu dalam proses pembelajaran, tapi ingat bahwa sarana, bukan utama dan satu-satunya dalam pendidikan.

    “Bangunan memang harus bagus, tetapi cara mengajar yang penuh keteladanan, jauh lebih baik dan bermakna”

    • Kesejahteraan dan Kompetensi Guru: Sekolah yang hebat selalu bergantung pada guru yang berjiwa pendidik, yang memahami bahwa tugas utamanya adalah menghidupkan potensi siswa, bukan sekadar menuntaskan target administratif. Tetapi kenyataannya adalah kesejahteraan yang diharapkan tidak sesuai kenyataan, maka jadilah guru yang penuh pengabdian.

    “Kesejahteraan itu sebuah keikhlasan dalam sebuah pengabdian, bahwa guru adalah profesi yang mulia dalam memberikan arah generasi bangsa”

    Kedua, Revitalisasi Pola Pikir: Revitalisasi pola pikir adalah Software atau roh dari pendidikan itu sendiri. Tanpa perubahan pola pikir, sekolah yang megah hanyalah cangkang kosong. Hari ini, isu tersebut menjadi perbincangan hangat di kalangan para pakar dan pemerhati pendidikan, termasuk pemerintah.

    • Pentingnya Memahami Growth Mindset: Menggeser mentalitas asal lulus atau asal nilai bagus menjadi mentalitas pembelajar sepanjang hayat. Karena dilema bagi seorang guru, mulai dari tuntutan atasan karena menyangkut akreditasi sekolah, tuntutan walimurid demi marwah keluarga.

    “Guru sering kali harus “Ngaji; Ngarang Biji”, tetapi tetap terukur sesuai dengan kemampuan masing-masing anak, karena pendekatannya bukan nilai angka, tapi keteladanan sikap dan kreativitas”

    • Memahami Pentingnya Menanamkan Integritas dan Karakter: Menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang kuat, yang sangat relevan dengan semangat Bela Negara, sehingga pendidikan menjadi alat untuk membentuk warga negara yang berdaya, bukan hanya pencari kerja.

    “Nilai-nilai yang terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari, jauh lebih penting dari sekedar angka, karena keteladanan sikap jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan mereka di masa depan”

    Memahami Pentingnya Berpikir Strategis: Mendorong generasi muda agar mampu melihat tantangan zaman (seperti disrupsi teknologi atau krisis global) sebagai peluang, bukan beban. Generasi muda kita hari ini hanya mendapatkan manfaat sampingan dari teknologi. Nah, tugas berat kita adalah bagaimana teknologi ini sebagai sumber mencari informasi dan pengetahuan.

    “Kenyataan yang ada, gimik-gimik dalam bentuk media sosial, game yang didapatkan oleh generasi muda kita dari sebuah teknologi. Ini tanggungjawab kita dalam mendidik dan memahamkan mereka”

    Mana yang Lebih Penting Revitalisasi Sekolah or Pola Pikir?

    “Jika harus memilih titik berangkat, maka Revitalisasi Pola Pikir adalah prioritas utama”

    Memahami makna bahwa pola pikir mendahului perubahan fisik: Jika para pemangku kepentingan (pengambil kebijakan, kepala sekolah, guru, hingga orang tua) memiliki pola pikir yang progresif, mereka akan mampu mengoptimalkan sekolah dengan fasilitas apa pun yang ada.

    Pola pikir menciptakan arah: Sebagus apa pun infrastruktur sekolah, jika pola pikirnya masih terjebak pada hafalan dan birokrasi kaku, maka revitalisasi sekolah akan sia-sia dan hanya menjadi pemborosan sumber daya.

    “Namun, Revitalisasi Sekolah adalah instrumen penguat. Pola pikir yang benar membutuhkan wadah yang suportif agar bisa mewujud menjadi aksi nyata”

    Sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat untuk menerima informasi, tetapi menjadi medan untuk mengasah cara pandang, integritas, dan kemampuan analitis siswa terhadap realitas bangsa.

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here