spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaKeluarga Besar Muhammadiyah Diajak Kembali ke Akar Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan demi...

    Keluarga Besar Muhammadiyah Diajak Kembali ke Akar Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan demi Menjaga Militansi Persyarikatan

    Surabaya, kartanusa – Terus berkemajuan dan mencerahkan, gerakan dakwah Muhammadiyah di tengah dinamika zaman modern perlu terus merawat dan menghidupkan kembali mata air pemikiran sang pendiri, K.H. Ahmad Dahlan.

    Pesan yang disampaikan oleh Ustadz Drs. H. Alim Nur Shodiq, M.Pd.I. Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 5 (Spemma) Pucang Surabaya pada periode 2019–2024, pada Kajian Pembinaan Rutin Guru dan Karyawan di Meeting Room Spemma pada Rabu (02/09/2026).

    Dalam tausiyahnya, Ustadz Alim, panggilan akrabnya, menegaskan pentingnya bagi seluruh warga, kader, guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) serta pimpinan persyarikatan agar senantiasa meluruskan niat serta orientasi dalam berorganisasi dan berkhidmat.

    Dalam khazanah sosiologi organisasi Islam, lanjut Ustadz Alim, keterikatan seseorang terhadap Muhammadiyah umumnya dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jalur utama motivasi atau latar belakang, yaitu:

    Pertama, Beogenetik (Faktor Pekerjaan), dimana anggota atau kader yang masuk dan berafiliasi dengan Muhammadiyah karena terikat profesi, bekerja di amal usaha Muhammadiyah (AUM) seperti sekolah, universitas, rumah sakit, atau kantor layanan, sehingga hubungan yang terjalin kerap bersifat administratif dan profesional.” Tutur Ustadz Alim.

    Kedua, Sosiogenetik (Faktor Kepentingan): Individu yang bergabung didasari oleh motif sosial, relasi kultural, jaringan, mobilitas sosial, maupun kepentingan praktis tertentu yang bersinggungan dengan ruang gerak persyarikatan.

    Ketiga, Theogenetik (Faktor Ideologis dan Keimanan): Kader yang mendedikasikan diri ke dalam Muhammadiyah secara sadar atas dasar panggilan iman, pemahaman teologis, kecintaan terhadap misi dakwah Islam amar makruf nahi mungkar, serta pemikiran berkemajuan yang diwariskan K.H. Ahmad Dahlan.

    “Ikatan beogenetik dan sosiogenetik hendaknya tidak berhenti sekadar pada urusan duniawi atau fungsional semata. Tantangan terbesar persyarikatan hari ini adalah bagaimana mentransformasikan seluruh elemen tersebut menjadi kesadaran theogenetik, yakni menjadikan Muhammadiyah sebagai jalan pengabdian total yang dilandasi tauhid murni dan semangat beramal saleh.” Ungkap Ustadz Alim.

    Di akhir tausyiahnya, Ustadz Alim mengingatkan bahwa dengan meneladani keikhlasan K.H. Ahmad Dahlan yang membangun Muhammadiyah bukan untuk mencari kedudukan melainkan semata-mata menegakkan kalimat Allah, para kader diharapkan mampu menjaga integritas, memperkuat ukhuwah, serta memajukan masyarakat tanpa kehilangan ruh keikhlasan ber-Muhammadiyah yang sejati. (Humas/Gus).

    fortasi
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here