spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaDosen Ilmu Lingkungan UMJT Madiun : Kerusakan Lingkungan Terjadinya Karhutla Perlu Diwaspadai

    Dosen Ilmu Lingkungan UMJT Madiun : Kerusakan Lingkungan Terjadinya Karhutla Perlu Diwaspadai

    Madiun, kartanusa – Kebakaran hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah tanah air masih terjadi hingga akhir bulan Agustus 2026. Kebakaran terakhir yang berlangsung pada Ahad malam, 30 Agustus 2026 di Kalimantan Tengah (Kalteng, disebut Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalteng, menjadi yang terbesar dan parah karena dekat dengan permukiman penduduk.

    Luas Karhutla secara Nasional Januari-Juni 2026 mencapai 178.232 hektare ( tiga kali luas Singapura). Data tersebut merujuk pada platform pemetaan kebakaran berbasis citra satelit dan klasifikasi deep learning, Mapbiomas Fire, yang dijalankan Auriga Nusantara bersama Sembilan jaringan organisasi masyarakat sipil.

    Kementerian Kehutanan melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) mencatat luas karhutla nasional pada periode yang sama sebesar 107.465,47 hektare.

    Bagaimana perspektif ilmu lingkungan terkati persoalan Karhutla ini, dosen Prodi Ilmu Lingkungan Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), yang merupakan transformasi dari Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), Khairunisa, M.Si memberikan wawasannya.

    Menurut Khairunisa, penyebab Karhutla itu pertama faktor alam dengan munculnya fenomena pemanasan suhu El Nino yang menyebabkan kemarau lebih panjang.

    Namun Khairunisa, El Nino ini hanya kondisi, bukan pemantik api karena selama lahan gambut basah maka tidak mudah terbakar atau menimbulkan api.

    Selain faktor alam, faktor manusia juga menjadi penyebab terjadinya Karhutla dengan praktik pembukaan lahan melalui pengeringan lahan serta pembakaran untuk membersihkan lahan.

    Wilayah Kalimantan memiliki lahan gambut yang sangat luas yang mestinya selalu basah. Namun saat kering menjadi mudah terbakar karena lahan gambut ini terdiri dari bahan organik yang membusuk tidak sempurna dalam waktu yang lama dalam kondisi basah.

    “Pada lahan gambut, api menjalar di bawah permukaan tanah melalui pori-pori material organik sehingga timbul bara api tersembunyi.” Ujar Khairunisa.

    Dampak Karhutla

    Menurut Khairunisa, Karhutla menimbulkan dampak yang besar bagi kehidupan makhluk hidup. Dampak lingkungan yang ditimbulkan adalah munculnya persoalan keberlanjutan (sustainability).

    Persoalan besar bagi lingkungan akibat Karhutla adalah hilangnya tempat hidup (habitat) bagi satwa liar dengan salah satu dampaknya adalah mereka kehilangan tempat berlindung dan mencari makan.

    “Diberitakan ada ular yang mati dan orang utan lemas karena diduga menghirup asap kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan gangguan pernapasan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya kepunahan keanekaragaman hayati.” Terang Nisa, panggilan akrabnya.

    Karhutla juga menyebabkan persoalan pada tanah yang mengalami perubahan sifat. Kawasan gambut yang rusak akibat kebakaran dapat kehilangan kemampuan menyimpan air.

    Selain tanah, dan air yang terganggu keberadaannya, pohon di hutan yang terbakar dapat kehilangan fungsinya sebagai fotosintesis untuk menyerap karbon.

    Kemudian adanya vegetasi yang terbakar juga mengubah karbon tersimpan menjadi CO2 dan dilepaskan ke udara sehingga menyebabkan emisi karbon meningkat

    Mengatasi Masalah

    Khairunisa menyampaikan persoalan Karhutla bisa diatasi dengan memperkuat mitigasi melalui restorasi ekosistem gambut melalui pembasahan kembali.

    Kemudian melakukan rehabilitasi tutupan vegetasi melalui penanaman kembali, serta pemulihan tata kelola hidrologi gambut untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.

    Dalam jangka panjang, menurut Khairunisa, mesti dilakukan pengendalian Karhutla dengan berorientasi pada aspek lingkungan, sosial dan ekonomi masyarakat. (MJK).

    fortasi
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here