Milad KOKAM Ke-61: Benteng Pengawal Agama, Persyarikatan, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Bendahara Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur, Kader Pemuda Muhammadiyah Kota Surabaya)
Peringatan Milad Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) ke-61 yang beririsan langsung dengan Hari Kesaktian Pancasila setiap awal Oktober menjadi momentum spiritual sekaligus kebangsaan yang amat krusial.
Enam dekade lebih perjalanan KOKAM bukanlah rentang waktu yang pendek. Sejak kelahirannya pada 1 Oktober 1965 di tengah kecamuk politik nasional, KOKAM telah menahbiskan dirinya sebagai benteng pengawal agama, persyarikatan, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pertemuan dua momentum bersejarah ini menegaskan satu pesan kunci: “Bela negara bagi KOKAM bukanlah sekadar jargon, melainkan panggilan iman dan kewajiban konstitusional”.
Menautkan Akar Sejarah: KOKAM, Pancasila, dan Pengawalan NKRI
KOKAM lahir dari rahim keprihatinan atas ancaman terhadap keutuhan bangsa. Ketika ideologi Pancasila dan kedaulatan negara berada di ambang krisis pada tahun 1965, pemuda Muhammadiyah mengambil peran aktif untuk menjaga ketertiban, keamanan, serta keselamatan para ulama dan warga masyarakat.
Sejarah mencatat bahwa keterlibatan KOKAM dalam menjaga Pancasila tidak lahir dari dorongan dendam, melainkan komitmen untuk memastikan bahwa Indonesia tetap tegak di atas falsafah Pancasila dan cita-cita proklamasi.
Mengingat kembali peristiwa tersebut hari ini bukan untuk merawat trauma masa lalu, melainkan untuk mempertegas komitmen bahwa Pancasila adalah Darul Ahdi wa Syahadah (Negara Kesepakatan dan Kesaksian) yang wajib dijaga keberlangsungannya oleh setiap kader Muhammadiyah.
Memaknai Bela Negara KOKAM di Era Kontemporer
Di usianya yang ke-61, definisi bela negara bagi KOKAM mengalami perluasan makna tanpa menghilangkan esensi keberanian dan kedisiplinannya. Bela negara hari ini tidak hanya diukur dari ketangkasan fisik atau kesiapan pengamanan acara, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam menjawab tantangan zaman:
Pertama, Kesiapsiagaan KOKAM mengakar pada tiga pilar utama: Kemanusiaan, Kebencanaan, dan Ekologi. Menjadi garda terdepan saat bencana alam melanda, hadir membantu masyarakat yang membutuhkan, serta menjaga kelestarian lingkungan adalah wujud konkret bela negara yang dirasakan langsung oleh rakyat.
Kedua, Menjaga Kedamaian di Tengah Polarisasi: Di era yang rentan diadu domba oleh isu SARA, hoaks, dan polarisasi politik, kader KOKAM dituntut menjadi cooling system (penyejuk) di tengah masyarakat.
“KOKAM harus tampil rasional, tegas, dan tidak mudah terprovokasi, membuktikan bahwa ketahanan bangsa berawal dari kerukunan sosial”
Ketiga, Penguatan Kapasitas dan Penguasaan Teknologi: Ancaman terhadap Pancasila dan kedaulatan negara saat ini juga bergerak di ruang siber dan perang asimetris. Kader KOKAM perlu memperkuat literasi digital, keahlian teknis, dan wawasan kebangsaan agar sakti di lapangan sekaligus canggih di ruang gagasan.
Peneguhan Komitmen: KOKAM untuk Kemanusiaan Semesta
Memperingati Milad ke-61 KOKAM bersamaan dengan Hari Kesaktian Pancasila menyadarkan kita bahwa Pancasila adalah rumah bersama yang harus diisi dengan karya nyata.
KOKAM tidak boleh berhenti hanya sebagai pasukan baris-berbaris atau pengawal simbolis. KOKAM adalah simbol kesiapsiagaan kader muda Islam yang moderat, berani, berakhlak mulia, dan siap berkorban demi keutuhan bangsa.
“Selamat Milad ke-61 KOKAM Pemuda Muhammadiyah. Marwah dijaga, persyarikatan dikawal, Pancasila ditegakkan, dan NKRI dibela hingga akhir hayat”









