Surabaya, kartanusa – Konsep ziyadatul khoir atau bertambahnya kebaikan menjadi fondasi penting dalam membimbing umat menuju kehidupan yang berkah dan diridhai Allah SWT. Hal ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Sholihin Fanani, MPSDM., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dalam Kajian Rutin Pembinaan Guru dan Karyawan Sekolah Unggul Nasional SMP Muhammadiyah 5 (Spemma) Pucang Surabaya. Rabu (07/10/2026).
Dalam paparannya, Ustadz Sholihin, panggilan akrabnya, menjelaskan tentang pentingnya menjaga kebaikan ini dengan mencakup empat pilar utama, yaitu bil qauli (lisan), bil fi’li (perbuatan), bil maali (harta), dan bil qolbi (hati), serta penerapan “Rumus 4 I”, yakni;
Pilar pertama, bil qauli; menekankan pentingnya menjaga ucapan agar senantiasa bernilai positif, optimis, memotivasi, dan menginspirasi.
“Lisan yang baik menjadi cermin dari iman yang baik. Saya teringat kenangan dan motivasi mendalam yang ditanamkan oleh orang tua dan guru sejak masa kecil, dimana mereka memberikan motivasi dan inspirasi dalam kehidupan.” Ujar Ustadz Sholihin.
Pilar kedua, bil fi’li, berfokus pada kualitas dan kuantitas ibadah. Keduanya harus berjalan seimbang dan konsisten.
Sementara itu, pilar ketiga, bil maali, menekankan bahwa bertambahnya harta hendaknya diiringi dengan peningkatan kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah.
“Kewajiban zakat sebesar 2,5% harus senantiasa ditunaikan kepada yang berhak, diiringi keyakinan niat sesuai hadis Nabi SAW bahwa semakin banyak memberi, semakin banyak pula kebaikan yang diterima.” Ungkapnya.
Pilar keempat, bil qolbi, menuntut penataan hati agar semakin khusyuk, tawaduk, dan istiqamah. Hati harus dibersihkan dari penyakit diri seperti iri, dengki, sifat nifak (munafik), serta kibir (sombong).
“Semakin bertambah usia, seseorang sepatutnya menjadi pribadi yang lebih baik dan makin rendah hati.” Tegasnya.
Lebih lanjut, Ustadz Sholihin mengingatkan tentang panduan praktis, terdapat Rumus 4 I yang menjadi pijakan dalam beramal:
Pertama, Iman: Meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkannya dalam perbuatan.
“Prinsipnya adalah semakin lama semakin rajin dan baik (tambah suwe tambah rajin, tambah suwe tambah apik), yang dibuktikan melalui akhlak mulia kepada sesama.” Tandasnya.
Kedua, Ilmu: Setiap amalan wajib berlandaskan ilmu agama, mencakup akidah yang terbebas dari syirik, ibadah, akhlak, dan muamalah.
Ketiga, Istiqomah: Menjaga semangat konsisten dalam seluruh kebaikan, baik ibadah ritual maupun muamalah.
Keempat, Ikhlas: Beramal semata-mata mengharap keridaan Allah SWT tanpa mengincar pujian maupun balasan dari manusia.
“Seluruh amalan tersebut hendaknya dilaksanakan berdasarkan perintah Allah SWT, meneladani Rasulullah SAW, serta dikerjakan secara tulus ikhlas demi meraih keberkahan yang hakiki.” Pungkasnya. (Humas/Gus).









