spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaCatatan Demokrasi: Suara Rocky Gerung adalah Gombal

    Catatan Demokrasi: Suara Rocky Gerung adalah Gombal

    Catatan Demokrasi: Suara Rocky Gerung  adalah Gombal

    Oleh KH. Nurbani Yusuf 

    (Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar)

    “Demokrasi adalah nonsens, kata Socrates. Suara rakyat adalah suara gombal. Memilih para pengelola pemerintahan dengan cara pungut suara adalah tak masuk akal”

    Bukankah seorang pilot, nakhoda, dan masinis tidak dipilih dengan pungut suara? Socrates barangkali sedikit melucu dengan sedikit sarkasme, tapi para muridnya, terutama Plato, membuktikan betapa benarnya sang guru.

    Pada tahun 400 SM, kaum Demokrat yang menang mewajibkan orang miskin hadir dalam eklessia, majelis permusyawaratan rakyat. Majelis memang hendak dihindarkan dari kekuasaan orang kaya. Orang borjuis dan berpendidikan harus dibatasi kekuasaannya agar tak membangun kroni yang merugikan si miskin.

    Kekayaan dan kepemilikan dibatasi, bila perlu dibagi rata, agar tidak ada lagi kesenjangan, apalagi cemburu sosial. Si miskin harus diutamakan dan tak boleh dipinggirkan. Ini menjadi jargon yang terus-menerus didengungkan seakan menjadi dosa tak berampun jika diabaikan, meski realitasnya tetap tak ada perubahan meski sedikit.

    Berbagai kebijakan untuk melindungi si miskin yang tak berpendidikan itu sudah dimaksimalkan, tapi mereka tetap menempati posisi marginal yang dieksploitasi.

    Sekumpulan orang lapar dan tak berpendidikan memenuhi ruang sidang dan lobi-lobi untuk memutus berbagai persoalan: “Dari utang negara yang terus menumpuk hingga soal monopoli kepemilikan tanah oleh orang asing tak bertuan”.

    Pendek kata, demokrasi di Yunani menjelang ambruknya sesak dengan orang lapar yang lantang bersuara, pandai berdebat, dan pintar membuat dusta, tapi tak pecus bekerja. Mereka hanya pandai menilai dan memproduksi hoax.

    Sebab, ketika mereka ditagih mampu bicara tentang masa depan bangsanya, sementara pikiran mereka kosong dan perutnya lapar, maka ditetapkanlah berbagai aturan untuk memenuhi segala kebutuhan mereka sendiri tanpa menghiraukan kepentingan negara.

    Maka, setiap yang hadir memperoleh imbalan uang yang kurang lebih memadai dengan upah sehari kerja sebagai pengganti pendapatan. Tak ayal, majelis pun dikuasai orang-orang lapar yang tidak berpendidikan dan tidak punya keterampilan cukup. Yang kaya, berpendidikan, dan punya keterampilan lebih baik memilih tinggal di rumah.

    Kehadiran si melarat yang tidak berpendidikan itulah yang kemudian dituding sebagai penyebab menurunnya kualitas majelis. Keputusan salah sering terjadi. Ribut setiap hari. Tidak mengerti persoalan, asal bicara yang penting bisa membuat sensasi. Mereka hanya berpikir tentang diri sendiri agar bisa terpilih kembali tahun depan.

    Baginya, rakyat hanyalah kawanan jelata di pinggir savana. Mereka hanya pintar berpidato di atas panggung seperti pelawak atau badut, bicaranya kian meracau ketika mendengar riuh suara tepuk tangan.

    Demokrasi di Yunani kuno akhirnya rubuh setelah 100 tahun turun naik. Di hari menjelang rubuhnya, di Yunani muncul sejenis Republik Advocate. Yang didengar khalayak hanyalah para orator, sejumlah tukang pidato, juru narasi, serta juru debat di depan publik, berbuih di belakang mikrofon, beraksi penuh api.

    Beradu pendapat, berdebat, dan riuh suara argumentasi membakar rasa dan gairah. Yang termasyhur di antaranya adalah Demosthenes. Dia sanggup berbulan-bulan mengunci diri di gua, berlatih orasi melontarkan kata-kata membakar. Yang paling memikat, termasuk ketika ia harus berdusta di depan publik.

    Tak heran bila Plato kerap mengernyitkan dahi pada kebisingan itu. Para orator dan juru pidato baginya tak lebih dari sekadar pemberi racun yang membunuh demokrasi.

    “Sebab, yang diumbar adalah kebanggaan massa dan jumlah pengikut, membangun prasangka, membentuk opini, serta menebar rasa takut dan cemas, bukan pikiran yang tenang lagi bijaksana”

    fortasi
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here