Surabaya, kartanusa— Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober senantiasa menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali cita-cita luhur para pendiri bangsa. Semangat persatuan, kedaulatan negara, serta kesejahteraan rakyat harus terus dikawal dan dibela di tengah dinamika zaman yang terus berkembang.
Dalam pandangan tokoh masyarakat dan kebangsaan, Ir. H. Chairul Djaelani, MMT., bahwa semangat Sumpah Pemuda dan gelora Reformasi harus senantiasa dihidupkan untuk menata masyarakat Indonesia agar menjadi bangsa yang semakin beradab, bermartabat, dan berkeadilan sosial.
“Indonesia Jaya, Luar Biasa! Harus dibela kedaulatan dan kesejahteraan rakyatnya sesuai amanat Sumpah Pemuda 28 Oktober, serta semangat Reformasi untuk menata masyarakat yang lebih beradab dan berkeadilan.” Tutur Chairul Djaelani, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Bela Negara (DPW GBN) Jawa Timur ini.
Landasan Moral: Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Menurut Chairul, bahwa untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang ideal, nilai-nilai keagamaan dan moral universal memegang peranan krusial sebagai kompas kehidupan berbangsa dan bernegara.
Chairul juga menekankan pentingnya pengamalan prinsip dasar Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup sosial, birokrasi, maupun kepemimpinan nasional, yakni:
Pertama, Amar Ma’ruf (Mengembangkan Kebaikan): Mengembangkan, meningkatkan, dan memajukan berbagai kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat, serta senantiasa saling mengingatkan dan mengajak kepada kebaikan, kolaborasi positif, dan kemajuan bersama.
Kedua, Nahi Munkar (Memberantas Keburukan): Ketegasan moral dalam memberantas segala bentuk ketidakbaikan, kejahatan, kemerosotan akhlak, serta kejahatan luar biasa seperti korupsi yang mencederai keadilan sosial dan merugikan kesejahteraan rakyat.
Menjaga Marwah Reformasi dan Kesejahteraan Rakyat
Chairul Djaelani juga menegaskan bahwa semangat Reformasi yang diperjuangkan dengan pengorbanan besar oleh seluruh elemen bangsa tidak boleh luntur. Menurutnya, Reformasi harus terus dimaknai sebagai instrumen pembersihan segala bentuk penyimpangan dan penegakan hukum yang berkeadilan.
“Kedaulatan negara tidak hanya diukur dari kekuatan teritorial semata, melainkan dari sejauh mana perlindungan dan kesejahteraan dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat Indonesia.” Tegasnya.
Melalui momentum Sumpah Pemuda ini, tambahnya, seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda dan para pemangku kebijakan, dipanggil kembali untuk merapatkan barisan.
Dengan memegang teguh persatuan, integritas moral, serta semangat anti-korupsi, cita-cita besar Indonesia yang jaya, adil, dan makmur di kancah global insyaAllah dapat diwujudkan. (Humas/Gus).









