Madiun, kartanusa – Dosen Prodi Informatika Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), Galih Wiratmoko, M.Kom., menjadi narasumber Spesial Program Jaga Malam di RRI Pro 2 Madiun, Selasa, 27 Oktober 2026.
Tema yang dibahas dalam Spesial Program yang juga disiarkan di kanal YouTube RRI Madiun itu adalah; “Pemberantasan Judi Online: Di Balik Layar Judi Online, Algoritma, Bandar, dan Pemblokiran”.
Pada sesi awal pembahasan, Galih Wiratmoko menjelaskan bahwa judi online (judol) sudah merambah berbagai kelompok usia maupun pekerjaan. Kalau bicara judol, tidak hanya soal tampilan aplikasi yang digunakan pemain, tetapi juga sistem teknologi yang mendukungnya, termasuk penyediaan dan cara kerja aplikasi judol.
“Jadi kalau kita lihat dari aplikasinya sendiri atau wadahnya, sistem yang dikembangkan bisa berbasis web maupun aplikasi mobile. Website juga bisa diakses melalui browser di HP, sehingga pemain tidak selalu perlu memasang aplikasi.” Ungkap Galih Wiratmoko.
Diterangkan Galih Wiratmoko, secara sederhana aplikasi judol memiliki dua bagian, yaitu antarmuka yang digunakan pemain (front end) dan sistem pengolahan di server (back end). Pada permainan seperti slot online, HP pemain menampilkan antarmuka dan animasi, sementara hasil permainan umumnya diproses di server operator atau penyedia permainan.
Galih Wiratmoko menyampaikan bahwa judol, khususnya slot online, memiliki desain permainan yang secara matematis menguntungkan bandar dalam jangka panjang. Pada situs yang tidak transparan, pemain juga menghadapi risiko penipuan atau manipulasi sistem.
Jika dibedah lebih dalam, aplikasi judol dibangun menggunakan algoritma. Pada permainan seperti slot online, peluang hasil dan besaran pembayaran dirancang untuk memberikan keunggulan matematis kepada bandar. Namun, hal ini tidak berarti bandar menang dalam setiap putaran atau setiap pemain selalu kalah.
Diterangkan Galih Wiratmoko, ada beberapa komponen dan karakteristik penting dalam permainan slot online.
Pertama, di bidang IT dikenal istilah RNG (Random Number Generator), yang berfungsi menghasilkan angka acak. Ketika pemain melakukan spin atau menekan tombol permainan, sistem menggunakan keluaran RNG yang dipetakan menjadi hasil permainan sesuai aturan dan peluang yang dirancang.
Kedua, Return to Player (RTP), yaitu persentase pengembalian teoretis dari total nilai taruhan kepada pemain dalam jumlah permainan yang sangat banyak. Misalnya, RTP 80 persen berarti rata-rata pengembaliannya secara teoretis sebesar 80 persen dari total taruhan, bukan berarti peluang menang pemain sebesar 80 persen. Angka tersebut juga bukan jaminan pengembalian bagi setiap pemain dalam satu sesi permainan.
“Kalau bahasa sederhananya, kita ibaratkan ada dua wadah: pengembalian untuk pemain dan bagian bandar. Jika 100 pemain masing-masing memasang taruhan Rp10 ribu, total taruhannya Rp1 juta. Sebagai ilustrasi, pada RTP teoretis 80 persen, rata-rata pengembalian dalam jumlah permainan yang sangat banyak adalah Rp800 ribu per Rp1 juta total taruhan. Selisih 20 persen merupakan keunggulan matematis bandar sebelum biaya operasional. Ini bukan pembagian pasti pada setiap kelompok 100 pemain dan tidak menentukan siapa yang menang atau kalah.” Terang Galih Wiratmoko.
Ketiga, volatilitas, yaitu ukuran variasi hasil atau pembayaran permainan. Ada volatilitas rendah dan volatilitas tinggi yang memberikan pola hadiah berbeda kepada pemain.
Volatilitas rendah cenderung memberikan hadiah kecil lebih sering. Sementara itu, volatilitas tinggi cenderung memberikan hadiah besar lebih jarang. Perbedaan pola hadiah ini dapat memengaruhi pengalaman bermain.
“Tapi garis besarnya ya itu tadi, peluang hasil dan besaran pembayaran sudah dirancang dalam sistem permainan. Pada permainan dengan RTP di bawah 100 persen, secara matematis bandar diuntungkan dalam jangka panjang. Namun, itu tidak berarti setiap pemain pasti kalah pada setiap putaran atau sistem sudah menentukan pemain tertentu untuk dikalahkan.” Terang Galih Wiratmoko.
Dari hal ini, menurut Galih Wiratmoko, masyarakat yang gemar judi online diharapkan menyadari bahwa permainan seperti slot online memiliki desain yang secara matematis menguntungkan bandar dalam jangka panjang, meskipun pemain sesekali bisa menang.
Galih Wiratmoko juga menyampaikan penjelasan terkait langkah pemblokiran situs judi online, misalnya yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Namun, setelah suatu situs judi online diblokir, operator dapat kembali menyediakan akses melalui domain lain. Kondisi ini menimbulkan kesan “mati satu tumbuh seribu” dalam penanganan situs judi online.
Diterangkan Galih, pada judol berbasis website, pemblokiran akses terhadap suatu domain dapat diibaratkan menutup salah satu pintu masuk. Tindakan tersebut membatasi akses melalui alamat yang diblokir, tetapi tidak otomatis menonaktifkan server yang menjalankan layanannya.
“Jadi ada nama domain sebagai alamat situs, dan DNS yang menerjemahkan nama domain menjadi alamat IP. Ketika akses ke satu domain diblokir, operator dapat menggunakan domain lain untuk mengakses layanan yang sama, selama infrastrukturnya masih berjalan. Pergantian ini bisa berlangsung relatif cepat apabila domain alternatif sudah disiapkan. Sistemnya bisa tetap sama, tetapi alamat aksesnya berganti. Ini menjadi salah satu kendala pemberantasan judol melalui pemblokiran.” Pungkas Galih. (Humas/Joko)









