Inspirasi Kehidupan: Tombo Ati Iku Limo Perkarane, Salah Sijine Kumpul Wong Kang Sholih
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Guru Ismuba SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya)
Memahami makna “Tombo Ati Iku Limo Perkarane” (Obat Hati Itu Ada Lima Perkara) yang dipopulerkan oleh Sunan Ampel, jika dikaitkan dengan hadits Nabi Muhammad SAW tentang Pertemanan (penjual minyak wangi dan pandai besi), membawa kita pada pemahaman bahwa lingkungan sosial adalah salah satu obat atau racun paling utama bagi hati manusia. Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِنَّمَا مَثَلُ الجَلِيسِ الصالحِ وجَلِيسِ السُّوءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ، ونَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إما أنْ يُحْذِيَكَ، وإما أنْ تَبْتَاعَ منه، وإما أن تجد منه رِيحًا طيبةً، ونَافِخِ الكِيرِ: إما أن يحرق ثيابك، وإما أن تجد منه رِيحًا مُنْتِنَةً» (متفق عليه)
Artinya :“Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi (membawa misik) dan pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi, engkau bisa membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu).
Pemahaman Penting untuk Kehidupan yang Damai
Pertama, Hubungan “Tombo Ati” dan Lingkungan Sosial: Syair Tombo Ati mengajarkan lima langkah membersihkan hati:
- Membaca Al-Qur’an dan meresapinya.
- Melaksanakan shalat malam (tahajud).
- Berkumpul dengan orang shalih (duduk bersama para ulama/orang baik).
- Memperbanyak puasa sunnah.
- Memperbanyak dzikir malam.
“Kaping telu wong kang shalih kumpulono; ketiga, berkumpul lah dengan orang shalih, memiliki korelasi langsung dengan pesan Nabi Muhammad SAW dalam hadits tentang pertemanan. Dimana kita diminta untuk memilih dan memilah teman yang bisa membawa kemaslahatan Kehidupan.”
Kedua, Refleksi Hadits: Penjual Minyak Wangi vs Pandai Besi. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang masyhur:
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Bagi penjual minyak wangi, mungkin kamu akan membelinya atau minimal kamu mendapat darinya bau harum. Sedangkan pandai besi, mungkin (percikan apinya) akan membakar pakaianmu, atau kamu akan mendapatkan bau tak sedap darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jika dihubungkan dengan 5 obat hati (tombo ati), pertemanan bekerja dengan hukum penularan energi batin:
Teman yang Shaleh = Penjual Minyak Wangi
Berada di dekat mereka adalah bentuk nyata dari obat hati ketiga. Mereka yang rajin berdzikir, menjaga shalat, dan berakhlak mulia ibarat penjual minyak wangi. Bahkan jika kita tidak ikut beramal sehebat mereka, kita akan ketularan “bau harum” berupa ketenangan batin, keteladanan sikap, dan dorongan untuk selalu ingat kepada Allah SWT.
“Obrolan mereka bermanfaat dan mengingatkan kita pada akhirat”
Teman yang Lalai/Toksik = Pandai Besi
Sebaliknya, bergaul secara akrab dengan lingkungan yang toksik, penuh ghibah, orientasi hidupnya hanya duniawi, dan menjauhkan dari agama ibarat duduk di sebelah pandai besi.
Walaupun kita tidak berniat buruk, percikan “api” keburukan mereka—seperti ucapan kotor, hasutan, atau kelalaian—sedikit banyak akan membakar “pakaian” iman kita atau setidaknya meninggalkan bau busuk (kerusakan hati, kecemasan, dan hilangnya rasa malu dalam bermaksiat).
Ketiga, Hati manusia itu sifatnya mudah berbolak-balik (qalb). Obat hati (seperti shalat malam, baca Qur’an, dan dzikir) adalah benteng internal, sementara memilih teman yang tepat adalah benteng eksternal.
Seseorang tidak akan mungkin bisa menikmati tombo ati secara utuh jika ia salah memilih pergaulan, karena lingkungan yang buruk akan terus-menerus merusak apa yang sudah dibangun oleh ibadah malam dan dzikirnya.
Sebaliknya, berteman dengan orang-orang shalih (penjual minyak wangi kehidupan) akan membuat proses penyembuhan dan penjagaan hati terasa jauh lebih ringan karena kita saling menguatkan dalam kebaikan.









