spot_img
No menu items!
More
    HomeKebudayaanKabar Nusantara : Catatan Sejarah Nusantara

    Kabar Nusantara : Catatan Sejarah Nusantara

    Catatan Sejarah Nusantara 

    Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR 

    (Pimpinan Redaksi Kabar Berita Nusantara)

    Tugu Pahlawan adalah salah satu monumen paling ikonik di Kota Surabaya, Jawa Timur. Monumen ini dibangun untuk mengenang dan menghormati perjuangan para pahlawan yang gugur dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.

    Latar Belakang dan Tujuan Pembangunan

    Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, gejolak pertempuran masih terjadi di berbagai daerah, termasuk Surabaya. Peristiwa heroik pada 10 November 1945, di mana “Arek-arek Suroboyo” (sebutan untuk pemuda Surabaya) berjuang mati-matian melawan pasukan Sekutu, menjadi salah satu pertempuran terbesar setelah proklamasi.

    Untuk mengenang pengorbanan ribuan pejuang yang gugur, Pemerintah Pusat menyambut baik usulan untuk mendirikan sebuah tugu peringatan. Tugu ini bertujuan untuk:

    Pertama, Menghargai jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan.

    Kedua, Membangun jiwa nasionalisme dan menanamkan nilai-nilai kepahlawanan kepada generasi penerus bangsa.

    Ketiga, Menumbuhkan rasa cinta tanah air.

    Proses Pembangunan Tugu Pahlawan

    Tugu Pahlawan didirikan di bekas lokasi Gedung Kempetai (Polisi Militer Jepang) yang hancur akibat terkena tembakan meriam Sekutu saat pertempuran.

    Ide pembangunan tugu ini mendapat perhatian dari Wali Kota Surabaya saat itu, Doel Arnowo. Untuk mendapatkan desain terbaik, diadakanlah sayembara. Pemenang sayembara adalah Ir. R. Soeratmoko, yang kemudian menjadi arsitek Tugu Pahlawan.

    Pembangunan dimulai pada 20 Februari 1952 dan selesai pada 3 Juni 1952. Proyek ini awalnya ditangani oleh Balai Kota Surabaya, kemudian dilanjutkan oleh Indonesian Engineering Corporation, dan diselesaikan oleh Pemborong Saroja.

    Tugu Pahlawan diresmikan secara langsung oleh Presiden Soekarno pada tanggal 10 November 1952, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.

    Detail Fisik dan Makna

    • Bentuk; Tugu ini memiliki bentuk menyerupai “paku terbalik” atau “lingga”.
    • Ukuran; Tingginya mencapai 41,15 meter.
    • Simbolisme; Tugu ini memiliki 10 lengkungan pada tubuhnya dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi tugu (41,15 m), ruas (11), dan lengkungan (10) memiliki makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945, sebagai penanda peristiwa bersejarah Pertempuran Surabaya.
    • Ukiran; Pada bagian bawah tugu, terdapat ukiran-ukiran yang menggambarkan simbol-simbol perjuangan, seperti trisula, cakra, stamba, dan padma.

    Museum Sepuluh November

    Di area Tugu Pahlawan juga dibangun Museum Sepuluh November. Museum ini berada 7 meter di bawah tanah dan diresmikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 19 Februari 2000. Museum ini menyimpan berbagai koleksi foto, senjata, dan artefak peninggalan Pertempuran Surabaya, serta diorama yang menggambarkan kronologi pertempuran.

    Hari ini, Kamis 4 September 2025, Ribuan warga dari berbagai elemen tumpah ruah di Tugu Pahlawan, untuk membacakan Ikrar Jogo Suroboyo. Mereka bersepakat menjaga Kota Pahlawan tetap aman, damai, dan bebas dari aksi anarki.

    Kegiatan diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya dilanjutkan doa bersama yang dipimpin Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Surabaya, Ustadz Dr. M Yazid. Dalam doanya, ia mengajak seluruh warga menguatkan solidaritas, gotong royong, dan persaudaraan lintas agama serta profesi demi Surabaya yang rukun dan harmonis.

    Selanjutnya, enam poin ikrar dibacakan bersama. Di antaranya menjaga Surabaya tetap aman, menguatkan gotong royong sebagai jati diri warga kota, menyampaikan aspirasi dengan tertib, menolak kekerasan, hingga meneguhkan persatuan dalam harmoni. Ikrar ditutup dengan pekik khas, “Suroboyo! Wani wani wani!”

    Dalam kesempatan tersebut juga, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, Ustadz Dr. Muhammad Ridwan, M.Pd., menyampaikan bahwa aksi anarki hanya akan menodai persatuan. Ia juga menegaskan bahwa hari ini warga Surabaya menunjukkan tekad untuk menghindari permusuhan dan menjaga kota ini tetap kondusif.

    Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan terima kasih atas partisipasi masyarakat. Ia mengajak warga meneladani semangat kepahlawanan dan menjaga kota dari segala bentuk perpecahan.

    “Surabaya pernah terluka akibat aksi anarki. Hari ini kita bangkit bersama. Darah arek-arek Suroboyo adalah darah kepahlawanan. Mari kita jaga kota ini dengan persaudaraan dan gotong royong.”

    Kamis, 04 September 2025, Kabar Berita Nusantara (kartanusa)

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here