Malang, kartanusa – Dengan lima pilar teamwork efektif; trust, communication, collaboration, commitment, dan appreciation, setiap tantangan dapat dihadapi bersama. Hal ini disampaikan oleh Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md., Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo dalam Capacity Building Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya, Sabtu-Ahad (2-3/04/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Taufik Hidayanto, A.Md., Wakil Ketua PCM Wonokromo menegaskan bahwa menjadi Sekolah Unggul bukan berarti sekolah tanpa masalah.
“Justru, Sekolah Unggul adalah sekolah yang mampu menghadapi berbagai problematika dengan cara yang baik, terarah, dan melibatkan semua warga sekolah.” Ujarnya.
Lebih lanjut, di Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya, keunggulan tidak hanya dibangun dari program akademik, prestasi siswa, atau fasilitas sekolah.
“Keunggulan juga lahir dari kekuatan teamwork antara kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, orang tua, dan lingkungan sekolah.” Imbuhnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa bayangkan sebuah pagi di SD Muhammadiyah 24 Surabaya. Bel masuk berbunyi, siswa datang dengan berbagai karakter. Ada yang semangat belajar, ada yang masih perlu dibimbing kedisiplinannya, ada yang memiliki potensi besar tetapi kurang percaya diri.
“Di ruang guru, para pendidik sedang menyiapkan pembelajaran, menghadapi tuntutan administrasi, target prestasi, komunikasi dengan wali murid, serta dinamika perkembangan anak-anak zaman sekarang.” Urainya.
5 Pilar Teamwork Efektif di SDM 24 Surabaya
Di tengah semua tantangan itu, sekolah tidak bisa berjalan hanya dengan satu orang hebat. Sekolah unggul membutuhkan tim yang kuat.
Pertama, Trust; Saling Percaya: Pilar pertama adalah trust, yaitu saling percaya. Di sekolah unggul, kepala sekolah perlu percaya kepada guru bahwa mereka mampu mengelola kelas, mendidik siswa, dan menjalankan program sekolah. Guru juga perlu percaya kepada pimpinan bahwa setiap kebijakan dibuat untuk kemajuan bersama.
“Orang tua perlu percaya kepada sekolah bahwa anak-anak mereka dibimbing dengan penuh tanggung jawab.” Tegasnya.
Namun, lanjut Ustadz Taufik, kepercayaan tidak muncul secara instan. Kepercayaan dibangun melalui konsistensi, keterbukaan, dan keteladanan. Misalnya, ketika ada siswa yang mengalami masalah kedisiplinan, guru tidak langsung menyalahkan orang tua. Orang tua juga tidak langsung menyalahkan guru.
“Keduanya saling percaya bahwa semua pihak ingin mencari solusi terbaik untuk anak. Dari kepercayaan inilah lahir suasana kerja yang aman, nyaman, dan saling mendukung.” Katanya.
Kedua, Communication; Komunikasi yang Jelas dan Santun: Pilar kedua adalah communication, yaitu komunikasi. Salah satu problematika sekolah adalah miskomunikasi.
Kadang program sekolah sudah baik, tetapi tidak tersampaikan dengan jelas kepada guru, siswa, atau wali murid. Kadang maksud guru baik, tetapi diterima berbeda oleh orang tua. Kadang siswa mengalami kesulitan, tetapi tidak berani menyampaikan.
“Karena itu, SD Muhammadiyah 24 Surabaya sebagai sekolah unggul perlu membangun budaya komunikasi yang jelas, santun, dan solutif.” Tandasnya.
Ia kemudian mencontohkan ketika ada perubahan jadwal kegiatan, informasi harus disampaikan secara tertib. Ketika ada keluhan dari wali murid, sekolah perlu mendengar terlebih dahulu sebelum menjawab. Ketika guru menghadapi kendala di kelas, perlu ada ruang diskusi agar masalah tidak dipendam sendiri.
“Komunikasi yang baik bukan sekadar banyak berbicara, tetapi mampu menyampaikan pesan dengan adab, mendengar dengan empati, dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.” Jelasnya.
Ketiga, Collaboration; Kolaborasi untuk Mencapai Tujuan Bersama: Pilar ketiga adalah collaboration, yaitu kolaborasi. Sekolah Unggul tidak bisa dibangun oleh kepala sekolah saja, guru saja, atau orang tua saja. Semua harus bergerak bersama.
“Dalam praktiknya, kolaborasi terlihat ketika guru saling berbagi strategi mengajar, wali kelas bekerja sama dengan guru mapel, tim kesiswaan membantu menangani karakter siswa, dan orang tua mendukung pembiasaan baik di rumah.” Katanya.
Misalnya, lanjut Ustadz Taufik, ketika sekolah ingin meningkatkan budaya literasi, tugas itu bukan hanya milik guru Bahasa Indonesia. Guru kelas, pustakawan, orang tua, bahkan siswa dapat dilibatkan. Guru membiasakan membaca di kelas, orang tua mendampingi anak membaca di rumah, dan sekolah menyediakan ruang apresiasi bagi siswa yang aktif literasi.
“Kolaborasi membuat masalah sekolah tidak terasa sebagai beban individu, melainkan sebagai tanggung jawab bersama.” Tandasnya.
Keempat, Commitment; Komitmen terhadap Visi Sekolah Unggul: Pilar keempat adalah commitment, yaitu komitmen. Sekolah unggul membutuhkan orang-orang yang tidak hanya semangat di awal, tetapi konsisten sampai akhir. Komitmen berarti tetap menjalankan tugas dengan tanggung jawab meskipun menghadapi tantangan.
Problematika sekolah bisa bermacam-macam: siswa yang beragam karakternya, tuntutan prestasi, adaptasi kurikulum, perkembangan teknologi, keterbatasan waktu, hingga harapan tinggi dari masyarakat.
Di tengah semua itu, komitmen menjadi penguat.
Guru tetap hadir dengan energi mendidik. Kepala sekolah tetap menjaga arah visi. Tenaga kependidikan tetap melayani dengan baik. Orang tua tetap mendampingi anak di rumah. Siswa juga belajar untuk bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.
“Komitmen membuat sekolah tidak mudah goyah oleh masalah, karena semua warga sekolah sadar bahwa mereka sedang membangun masa depan anak-anak.” Tandasnya.
Kelima, Appreciation; Saling Menghargai dan Mengapresiasi: Pilar kelima adalah appreciation, yaitu apresiasi.
Dalam perjalanan menjadi sekolah unggul, sering kali yang terlihat hanya hasil besar: juara lomba, nilai bagus, atau program sukses. Padahal di balik itu ada banyak usaha kecil yang perlu dihargai.
Guru yang sabar membimbing siswa perlu diapresiasi. Siswa yang mulai berani berbicara di depan kelas perlu dihargai. Orang tua yang aktif mendukung program sekolah perlu diberi ucapan terima kasih. Tenaga kependidikan yang menjaga kebersihan, administrasi, dan pelayanan sekolah juga memiliki peran penting.
Apresiasi tidak harus selalu berupa hadiah besar. Senyum, ucapan terima kasih, pujian yang tulus, dan pengakuan atas kerja keras sudah mampu menumbuhkan semangat.
“Sekolah yang penuh apresiasi akan melahirkan warga sekolah yang merasa dihargai, dicintai, dan terdorong untuk terus berkembang.” Katanya.
Menjadi SD Muhammadiyah 24 Surabaya yang unggul bukan berarti bebas dari problematika. Justru problematika adalah bagian dari proses bertumbuh.
Dengan lima pilar teamwork efektif ; trust, communication, collaboration, commitment, dan appreciation, setiap tantangan dapat dihadapi bersama.
Keunggulan sekolah tidak hanya diukur dari prestasi, tetapi juga dari kemampuan seluruh warga sekolah untuk saling percaya, berkomunikasi dengan baik, berkolaborasi, berkomitmen, dan saling menghargai.
“Pada akhirnya, sekolah unggul adalah sekolah yang mampu berkata: Masalah kita hadapi bersama, prestasi kita raih bersama, dan keberhasilan anak-anak adalah tanggung jawab kita bersama.” Pungkasnya. (Taufikhi).







