spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeKebudayaanKabar Nusantara : Catatan Sejarah Nusantara

    Kabar Nusantara : Catatan Sejarah Nusantara

    Catatan Sejarah Nusantara 

    Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR

    (Pimpinan Redaksi Kabar Berita Nusantara)

    Sejarah kapal legendaris Melaka mencakup dua kisah utama, yaitu; satu dari era Kesultanan Melayu yang penuh dengan mitos kepahlawanan, dan satu lagi dari masa penjajahan Portugis yang berakhir tragis.

    Kapal Legendaris: “Mendam Berahi”

    Dalam epik sastra Melayu, Hikayat Hang Tuah, disebutkan tentang sebuah kapal perang legendaris milik Kesultanan Melaka yang bernama Mendam Berahi. Kapal ini digambarkan sebagai kapal yang sangat besar dan tangguh, yang dibuat khusus untuk misi diplomatik dan militer.

    Kapal ini konon dibangun untuk membawa perutusan kerajaan Melaka ke Majapahit dan digunakan dalam berbagai pertempuran. Mendam Berahi digambarkan memiliki ukuran yang luar biasa dan dipersenjatai dengan meriam.

    Menurut hikayat, Mendam Berahi memainkan peran penting dalam pertempuran melawan kapal-kapal Portugis yang pertama kali tiba di Melaka pada tahun 1509, bahkan berhasil menenggelamkan dua kapal musuh.

    Meskipun kisahnya sangat terkenal, banyak sejarawan modern menganggap Mendam Berahi sebagai kapal mitos atau fiktif. Jenis kapal (galai) yang disebutkan dalam hikayat diyakini belum ada di kawasan Nusantara pada masa itu, dan tidak ada catatan sejarah lain yang mendukung keberadaannya. Namun, kisah ini tetap menjadi simbol kekuatan maritim dan kegagahan Melayu.

    Kapal Penakluk yang Tenggelam: “Flor de la Mar”

    Kapal lain yang tak kalah legendaris dan memiliki kaitan erat dengan sejarah Melaka adalah Flor de la Mar (“Bunga Laut”), sebuah kapal Portugis yang tenggelam di Selat Melaka.

    Flor de la Mar adalah kapal kargo berbobot 400 ton yang melayani armada Portugis. Setelah penaklukan Melaka oleh Afonso de Albuquerque pada tahun 1511, kapal ini dimuati dengan harta rampasan yang sangat berharga, termasuk emas, perak, permata, dan benda-benda seni dari istana Kesultanan Melaka, untuk dibawa ke Portugal.

    Saat berlayar meninggalkan Melaka pada akhir tahun 1511, kapal ini diterpa badai dahsyat. Dindingnya yang sudah rapuh karena pelayaran panjang tidak mampu menahan ombak, dan akhirnya kapal itu karam di perairan lepas pantai Aceh (tepatnya di daerah Pidie).

    Meskipun Afonso de Albuquerque dan beberapa awak berhasil selamat, seluruh harta rampasan dan lebih dari 400 orang lainnya tewas. Bangkai kapal ini hingga kini tidak pernah ditemukan.

    Kisah Flor de la Mar menjadi legenda harta karun yang paling dicari, dan replika kapal ini kini menjadi museum maritim di Melaka, berfungsi sebagai pengingat akan masa lalu yang penuh gejolak.

    Senin, 25 Agustus 2025, Kabar Berita Nusantara (kartanusa)

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here