spot_img
No menu items!
More
    HomeEkonomi & BisnisCatatan Demokrasi : Refleksi Stimulus Ekonomi 2025–2026, Efisiensi Vs Skala

    Catatan Demokrasi : Refleksi Stimulus Ekonomi 2025–2026, Efisiensi Vs Skala

    Catatan Demokrasi : Refleksi Stimulus Ekonomi 2025–2026, Efisiensi Vs Skala

    Oleh Ustadz Dr. Mangesti Waluyo Sedjati, MM.

    (Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah, Wakil Ketua PW IPHI Jawa Timur, Sekjen DPP Al-Ittihadiyah)

    Sahabat semua, izinkan saya berbagi refleksi menyeluruh atas Stimulus Ekonomi 2025–2026, ditulis berbasis data, dan berangkat dari kegelisahan sederhana: “Apakah kebijakan triliunan rupiah benar-benar menjadi napas baru bagi rakyat kecil, atau hanya angka di layar?”

    Apa yang Sedang Dikerjakan Negara?

    Paling tidak, kita mempunyai tiga mesin pemulihan:

    Pertama, Likuiditas Rp200T ke perbankan dengan kewajiban disalurkan ke kredit produktif, bukan parkir di SBN.

    Kedua, Stimulus Rp16,23T: beras 10 kg untuk 18,3 juta keluarga, cash-for-work 600 ribu pekerja, PPh final UMKM 0,5% diperpanjang, magang berbayar 20.000 lulusan, insentif pekerja informal, dll.

    Ketiga, Paket “8+4+5” (17 program) termasuk replanting 870 ribu ha (target serap ±1,6 juta tenaga kerja di 2026).

    Dalam konteks data bahwa pertumbuhan ekonomi 5,12% (Q2-2025); inflasi 2,31% (Agustus); kemiskinan 8,47%; TPT 4,76%; Gini 0,375. Indikator stabil, tetapi daya beli bawah masih rapuh, terutama karena pangan.

    “Inti masalahnya bukan sekadar skala, melainkan efisiensi dan tepat sasaran.”

    • Skala tanpa efisiensi adalah kebijakan kertas. Rp200T hanya berarti bila menetes ke UMKM mikro–kecil, bukan macet di korporasi.
    • Bansos besar tanpa ketepatan adalah ilusi sesaat. 10 kg beras membantu, tapi singkat harus terhubung ke pendapatan berkelanjutan.
    • Koordinasi menentukan sukses 17 program. Tanpa eksekusi lintas kementerian yang rapi, seremoni lebih cepat daripada dampak.
    • Trust adalah ujian terbesar. Di era algoritma & hoaks, transparansi mengalahkan retorika.

    Apa yang Perlu Kita Pastikan Bersama?

    1) Transparansi Seterang Siang; Bangun Stimulus Open Dashboard publik, real-time & bisa diaudit. Tampilkan:

    • Kredit dari Rp200T per bank/provinsi/sektor/ukuran usaha.
    • Distribusi beras 10 kg per kab/kota (dengan timestamp).
    • Progres padat karya (lokasi–upah–pekerja).
    • Magang 20.000 (kuota–penempatan–konversi kerja),
    • Replanting 870 ribu ha (tenaga kerja–lokasi–progres).

    “Tanpa data terbuka, narasi lip service akan selalu unggul di lini masa.”

    2) Kredit yang Benar-benar Produktif.

    • Pasang Conditionality Keras: minimal 60%dana penempatan wajib jadi kredit UMKM mikro–kecil, dengan kuota wilayah miskin dan plafon kecil (≤Rp500 juta).
    • Sanksi & Insentif Transparan: yang tak capai target, biaya dana naik; yang unggul, biaya dana turun.
    • Gunakan cash-flow based lending: data QRIS, POS, e-commerce, utilitas sebagai proxy kelayakan, agar pelaku usaha kecil, bankable tanpa jaminan berlebih.
    • Aktifkan supply chain finance (faktorisasi invoice) supaya UMKM pemasok BUMN/anchor cepat cair modal kerja.

    3) Bansos yang Menjembatani ke Pemberdayaan.

    • Beras 10 kg harus tepat sasaran & tepat waktu. Setelah perut aman, sambungkan ke padat karya produktif: irigasi desa, pasar rakyat, sanitasi, jalan tani & cold chain.
    •  Terapkan verifikasi berlapis: DTKS–Dukcapil yang dibersihkan, verifikasi komunitas (Masjid, Pesantren, Ormas).

    “Ketepatan penerima adalah akhlak kebijakan; salah sasaran adalah kezhaliman administratif.”

    4) Place-Based Policy ke Mana Rupiah Diarahkan?

    • Urban miskin (sebagian kota kemiskinannya naik) butuh paket spesifik: transport murah, pasar murah, perumahan sewa, childcare komunitas.
    • Desa produktif butuh alat pascapanen, irigasi mikro, koperasi pendingin, akses logistik.
    • Perikanan & nelayan: BBM, es, gudang dingin, akses pasar daring.

    “Satu resep untuk 38 provinsi adalah mitos. Kebijakan yang adil adalah kebijakan yang peka tempat.”

    5) Peran ulama & komunitas, moral guardrails

    • Islam menegaskan: “agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang kaya”.
    • Ulama/ormas menjadi social auditor: mengawasi bansos, mencegah kebocoran, mengedukasi etika penerima & pelaksana.

    “Efisiensi tanpa keadilan adalah pincang; skala besar tanpa sasaran tepat hanyalah ilusi.”

    Dampak yang Kita Kejar: Nyata, Terukur

    • Jangka pendek: inflasi pangan tertahan, daya beli tersangga, kerja sementara terbuka.
    • Menengah: kredit UMKM mengalir, rantai pasok daerah membaik, UMKM naik kelas.
    • Panjang: kepercayaan publik pulih, karena rakyat melihat dan merasakan, bukan sekadar mendengar.

    Kenapa ini Genting?

    Sejarah kebijakan kita sering menulis paradoks: “headline spektakuler tak selalu hadir di dapur rakyat.”

    Stimulus kali ini adalah peluang sekaligus cermin, apakah birokrasi kita cukup tangkas, perbankan cukup berani, dan masyarakat cukup terlibat untuk menjadikannya obat ekonomi sekaligus penyembuh krisis kepercayaan.

    Ajakan Kolaborasi: yang Bisa Kita Lakukan Hari ini

    • Dorong & pantau: minta dashboard publik, datanya harus hidup (T+7, bukan T+7 bulan).
    • Laporkan: gunakan kanal aduan dengan bukti foto + geotag; minta nomor tiket & tindak lanjut.
    • Organisir: bentuk grup UMKM kecamatan untuk bulk buying, berbagi pemasok, dan masuk e-proc (minta pembayaran ≤14 hari).
    • Edukasi: lawan hoaks dengan fakta lapangan; dukung tokoh agama sebagai jembatan informasi yang menyejukkan.

    Kesimpulan yang Jujur

    Pertama, Skala stimulus kita sudah besar. Kini yang diuji adalah efisiensi, keadilan, dan keberanian membuka data. Bila tiga hal ini tegak, rakyat kecil akan merasakan manfaat, dan kepercayaan publik pulih. Bila tidak, kita hanya menambah “proyek angka tanpa ruh.”

    “Mari jaga kesadaran kolektif, bersuara dengan adab, mengawasi dengan data, bekerja bersama lintas sektor. InsyaAllah, dengan niat lurus dan tata kelola yang terang, stimulus ini bukan sekadar wacana, melainkan napas baru bagi keluarga-keluarga yang sedang bertahan.”

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here