Surabaya, kartanusa – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia menyampaikan tiga hal penting yang harus dihindari warga Muhammadiyah pada Perayaan Milad ke-113 Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Aula di KH. Mas Mansur, Gedung PWM Jatim. Sabtu (29/11/2025).
Turut dalam kesempatan tersebut Ketua PWM Jatim, Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM., Sekretaris PWM Jatim, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., serta Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., yang hadir secara daring.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah menyampaikan materi dengan tema; “Memajukan Kesejahteraan Bangsa dalam Perspektif Pendidikan”, yang menegaskan kembali pesan yang sebelumnya disampaikan Prof. Haedar.
“Saya ingin menegaskan apa yang disampaikan Pak Haedar. Dalam 113 tahun Muhammadiyah berdiri, warga persyarikatan harus menghindari 3K.” Tuturnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa 3K yang dimaksud yakni: Pertama, Konflik; Warga Muhammadiyah untuk menghindari perebutan kepentingan sempit atau yang ia sebut sebagai “rebutan balung.”
“Tafarruq adalah pilihan, sementara perbedaan (khilafiyah) merupakan sunnatullah yang tidak perlu diperuncing.” Jelasnya.
Kedua, Korupsi; Perilaku korupsi merupakan bentuk pendustaan moral. Ia menekankan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi Islam dengan tata kelola yang rapi dan akuntabel.
“Accountable itu berarti transparan dengan makna jaga kredibilitas, karena itu adalah barang yang tidak bisa dibeli dengan harga berapa pun.” Ungkapnya.
Ketiga, Kolot atau Jumud; Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang membawa misi amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid.
“Jika kehilangan spirit pembaruan, Muhammadiyah akan tergilas oleh perkembangan zaman. Karena itu, K yang lain adalah Kreatif.” Tegasnya.
Di akhir pemaparannya, Prof. Mu’ti, panggilan akrabnya, mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk memperkuat barisan dengan pemahaman yang komprehensif.
“Mari kita merapatkan barisan dengan pemahaman syumuliyah, memperkuat gerakan, dan mewujudkan sustainable wellbeing, kesejahteraan mental, spiritual, dan kontribusi nyata bagi bangsa.” Pungkasnya. (Humas/Gus).







