Catatan Sejarah Nusantara : Gerilya Jendral Sudirman di Gunung Wilis
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Pimpinan Redaksi Kabar Berita Nusantara)
Gunung Wilis tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir Tan Malaka, tetapi juga menjadi saksi bisu perjuangan fisik yang luar biasa dari Panglima Besar Jenderal Sudirman. Di lereng gunung inilah, sang Jenderal mematangkan taktik gerilya yang nantinya melumpuhkan kekuatan Belanda.
Dalam catatan sejarah perjuangan Jenderal Sudirman di wilayah Wilis, Kediri. Tokoh inspiratif yang merupakan kader Persyarikatan Muhammadiyah, yang juga tokoh penting di Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW).
Kedatangan Gerilyawan di Kediri (Desember 1948)
Setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda pada Agresi Militer II, Jenderal Sudirman memulai perjalanan panjang gerilya meski dalam kondisi paru-paru yang hanya berfungsi sebelah.
Beliau tiba di Kota Kediri pada 24 Desember 1948 dan sempat singgah di sebuah rumah di Jalan MH Thamrin (Kelurahan Kemasan). Di rumah inilah, Sudirman bersama para perwira tinggi TNI merumuskan Perintah Siasat No. 1, yang menginstruksikan seluruh pasukan TNI untuk membentuk basis gerilya di pegunungan.
Bergerilya di Lereng Gunung Wilis
Ketika Belanda mulai menduduki pusat Kota Kediri, Sudirman bergerak ke arah barat menuju lereng Gunung Wilis untuk mencari perlindungan yang lebih aman dan strategis.
Dari Dusun Karangnongko, rute menuju dusun ini sangat berat, memakan waktu sekitar 4,5 jam dengan berjalan kaki mendaki.
Dusun Goliman, Desa Parang adalah salah satu titik krusial. Jendral Sudirman singgah di rumah seorang warga bernama Badal pada 27 Desember 1948. Beliau menetap di sini selama sekitar 9 hari, salah satu durasi singgah terlama sepanjang masa gerilyanya.
“Sudirman menyamar sebagai masyarakat biasa, kerap dipanggil “Kiai” untuk menghindari deteksi mata-mata Belanda. Beliau tidur di dipan sederhana beralas tikar, jauh dari kemewahan seorang panglima“
Peran Tukang Panggul Tandu Mbah Djuwari
Kisah gerilya di Wilis tidak lepas dari sosok Mbah Djuwari dan kawan-kawan, warga lokal yang secara sukarela memanggul tandu sang Jenderal menembus hutan rimba dan perbukitan terjal.
Pada Januari 1949, Mbah Djuwari memandu rombongan berjalan kaki sejauh 30 kilometer dari Dusun Goliman (Kediri) menuju Dusun Magersari di Desa Bajulan (Nganjuk). Perjalanan ini membelah jantung Gunung Wilis di bawah ancaman patroli udara pesawat Belanda.
Keajaiban di Bajulan, Nganjuk dimana setelah menyeberangi Wilis, Jendral Sudirman tiba di Bajulan, Nganjuk. Ada kisah menarik di sini, saat pesawat pembom Belanda melintas rendah mencari posisi gerilyawan, konon desa tersebut seolah “menghilang” atau tertutup kabut setelah sang Jenderal memanjatkan doa, sehingga tidak ada satu pun bom yang jatuh di desa tempat beliau bersembunyi.
Jejak Sejarah Jendral Sudirman Saat Ini
Untuk mengenang perjuangan tersebut, setiap tahun (sebelum pandemi) biasanya diadakan acara Napak Tilas Rute Gerilya Sudirman (Kediri-Bajulan). Peserta berjalan kaki sejauh puluhan kilometer menyusuri jalan setapak yang dulu dilewati sang Jenderal.
Bangunan bersejarah rumah singgah Goliman, masih terawat dan menyimpan benda-benda asli seperti dipan dan kendi yang digunakan Jenderal Sudirman. Monumen Jenderal Sudirman di Bajulan, menandai titik persinggahan beliau setelah menembus Gunung Wilis.
“Perjuangan di Gunung Wilis membuktikan bahwa meski secara fisik lemah karena sakit, semangat Jenderal Sudirman tetap mampu menggerakkan perlawanan rakyat”







