spot_img
No menu items!
More
    HomeOpiniCatatan Sejarah Nusantara : Tan Malaka Bapak Republik Indonesia, Benarkah!

    Catatan Sejarah Nusantara : Tan Malaka Bapak Republik Indonesia, Benarkah!

    Catatan Sejarah Nusantara : Tan Malaka Bapak Republik Indonesia, Benarkah!

    Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.

    (Pimpinan Redaksi Kabar Berita Nusantara)

    Tan Malaka, sosok yang dijuluki “Bapak Republik Indonesia” sekaligus “Che Guevara dari Asia”, memiliki akhir hayat yang penuh misteri selama puluhan tahun. Pencarian jejaknya akhirnya berujung di lereng Gunung Wilis, Kediri.

    Berikut adalah ulasan mengenai sejarah dan keberadaan makam Tan Malaka di wilayah tersebut. Sejarah yang penting dan penuh misteri, mulai pemikiran, pergerakan hingga meninggalnya kontroversial.

    Sejarah Singkat Akhir Hayat Tan Malaka

    Tan Malaka adalah tokoh pergerakan nasional yang sering berbeda pandangan politik dengan pemerintah pusat saat itu. Pada masa Revolusi Fisik (1949), ia memimpin Gerakan Pembela Proklamasi di Jawa Timur.

    Peristiwa di Kediri, pada Februari 1949, saat Agresi Militer Belanda II berlangsung, Tan Malaka bersama pengikutnya sedang bergerak di wilayah Jawa Timur. Namun, terjadi gesekan internal antara kelompok Tan Malaka dengan unit militer resmi (TNI) saat itu.

    Berdasarkan penelitian sejarah, Tan Malaka ditangkap dan dieksekusi tanpa pengadilan pada 21 Februari 1949 di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kediri, oleh satuan militer di bawah komando Letnan Dua Soekotjo.

    Penemuan Makam di Selopanggung
    Selama puluhan tahun, lokasi tepatnya makam Tan Malaka tidak diketahui secara pasti. Misteri ini baru mulai terkuak setelah penelitian panjang oleh sejarawan asal Belanda, Harry A. Poeze, yang menghabiskan waktu puluhan tahun menelusuri jejak sang revolusioner.

    Lokasi makam ini terletak di Desa Selopanggung, lereng Gunung Wilis, Kediri. Kondisi medan makam berada di perbukitan yang cukup terjal, menunjukkan betapa terpencilnya lokasi eksekusi tersebut saat itu.

    Identifikasi dimulai pada tahun 2009, dilakukan pembongkaran makam (ekshumasi) untuk keperluan tes DNA. Meski hasil DNA-nya tidak 100% konklusif karena kondisi tulang yang sudah tua, ciri-ciri fisik dan data sejarah dari saksi mata setempat sangat kuat mengarah pada sosok Tan Malaka, seperti posisi tangan yang terikat ke belakang saat dikubur.

    Makam Selopanggung Kabupaten Kediri

    Meskipun Tan Malaka secara resmi telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI No. 53 tahun 1963, makamnya di Selopanggung tetap dipertahankan dalam kesederhanaan.

    Makamnya saat ini menjadi wisata sejarah, menjadi tujuan peziarah, aktivis, mahasiswa, dan masyarakat umum yang ingin menghormati jasa-jasanya.

    Menjadi simbol perjuangan, keberadaan makam ini di kaki Gunung Wilis menjadi pengingat tragis tentang bagaimana seorang pemikir besar bangsa harus gugur di tangan bangsanya sendiri di tengah situasi perang yang kacau.

    Pada tahun 2017, dilakukan upacara adat pengangkatan “tanah” dari makam Selopanggung untuk dibawa ke kampung halaman Tan Malaka di Pandam Gadang, Sumatera Barat, sebagai simbol “kepulangan” sang pahlawan ke tanah kelahirannya secara adat (Gelarnya adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka).

    “Tan Malaka pernah menulis dalam bukunya, “Suaraku akan lebih keras dari dalam kubur”. Lokasi sunyi di lereng Wilis ini menjadi saksi bisu dari janji tersebut”

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here