spot_img
No menu items!
More
    HomeOpiniInspirasi Kehidupan : Isra' Mi'raj Momentum Menguatkan Kebangsaan 

    Inspirasi Kehidupan : Isra’ Mi’raj Momentum Menguatkan Kebangsaan 

    Inspirasi Kehidupan : Isra’ Mi’raj Momentum Menguatkan Kebangsaan 

    Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.

    (Bendahara Kwarwil HW, Wakil Sekretaris Gerakan Bela Negara Jawa Timur)

    Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan hanya sekadar perjalanan spiritual vertikal antara Rasulullah SAW dengan Allah SWT, tetapi juga menyimpan dimensi horizontal yang sangat relevan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

    Memulai momentum Isra’ Mi’raj ini perlu adalah refleksi dalam menguatkan kebangsaan kita, menjadi persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yakni:

    Pertama, Keadilan Sosial dan Empati (Spirit Humanisme); Dalam perjalanan Mi’raj, Rasulullah diperlihatkan berbagai tamsil (perumpamaan) tentang kondisi sosial, termasuk dampak dari ketidakadilan dan penindasan.

    “Hal ini menjadi pengingat bahwa kesalehan spiritual harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial”

    Dalam konteks kebangsaan, ini sejalan dengan Sila ke-5 Pancasila, di mana setiap warga negara dan pemimpin bertanggung jawab menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat tanpa pandang bulu.

    Kedua, Kepemimpinan yang Amanah dan Melayani; Refleksi kepemimpinan terlihat saat Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat. Beliau “bolak-balik” memohon keringanan untuk umatnya dari 50 waktu menjadi 5 waktu, yang menggambarkan betapa cintanya kepada umatnya.

    Momentum ini juga menunjukkan tentang penguatan karakter kepemimpinan yang mestinya menjadi renungan bagi kita generasi bangsa, yakni:

    • Amanah: Memegang teguh mandat dari Tuhan.
    • Empati: Sangat mempedulikan beban dan kemampuan rakyat (umatnya).
    •  Negosiator Ulung: Berjuang demi kemaslahatan publik di atas kepentingan pribadi.

    Ketiga, Persatuan dalam Keberagaman (Ukhuwah Wathaniyah); Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha menyimbolkan titik temu antarperadaban dan agama-agama samawi.

    “Di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), hal ini merefleksikan pentingnya kerukunan antar umat beragama”

    Isra Mi’raj mengajarkan kita untuk menghormati “tempat-tempat suci” dan keyakinan orang lain, demi menjaga persatuan bangsa yang majemuk (Bhinneka Tunggal Ika).

    Keempat, Integritas dan Kedisiplinan
    Ibadah salat yang dibawa dari peristiwa Mi’raj adalah instrumen pendidikan karakter:

    • Disiplin Waktu; Shalat tepat waktu melatih warga negara untuk menghargai waktu dan aturan.
    • Integritas; Shalat mencegah perbuatan keji dan munkar (korupsi, hoaks, fitnah). Jika ritual ini diresapi, maka integritas moral bangsa akan semakin kuat.

    Kelima, Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; Peristiwa melintasi ruang angkasa dalam waktu singkat adalah isyarat bagi umat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).

    Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melakukan “Mi’raj” secara intelektual, terus naik level dalam inovasi dan peradaban agar tidak tertinggal oleh bangsa lain.

    “Isra Mi’raj dalam perspektif kebangsaan adalah momentum untuk memperkuat relasi spiritual (hablum minallah) sekaligus relasi sosial (hablum minannas). Jadi, peristiwa ini mengajak kita menjadi individu yang saleh secara pribadi dan bermanfaat secara publik.”

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here