Bogor, kartanusa – Tidak membayangkan memiliki putra dengan gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan anugerah terindah dari Alloh SWT. Pasalnya, kerja keras mendampingi sang buah hati kini mulai memperlihatkan hasil yang sangat luar biasa, bahkan melahirkan sejumlah prestasi baik akademik maupun non-akademik. Senin (26/01/2026).
Dari fase bayi hingga kini duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar, perjalanan panjang itu menjadi cermin bahwa anak dengan ADHD bukanlah beban, melainkan amanah yang menghadirkan makna pengasuhan yang mendalam.
Pandangan tersebut disampaikan oleh, Ustadzah Nuraini, M.Pd., Pakar Parenting dan Bimbingan Konseling yang juga dosen serta Ketua Program Studi Bimbingan Konseling Islam Institut Ummul Quro’ Al Islami Bogor.
Menurutnya, anak dengan ADHD sejatinya adalah anak istimewa dan bukan anak bermasalah. Mereka hanya memiliki kebutuhan pengasuhan yang berbeda.
“Jika orang tua mampu mendampingi dan memfasilitasi perkembangan psikologinya dengan baik, insyaallah anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berprestasi.” Ujarnya.
Lebih lanjut, Ustadzah Nuraini mengungkapkan bahwa indikasi ADHD pada putranya sudah terlihat sejak usia sangat dini, bahkan sebelum menginjak tiga tahun. Energi yang berlebih, kesulitan diam, dan respons cepat terhadap lingkungan menjadi tanda awal yang ia cermati dengan serius.
“Sejak tahun pertama gejalanya sudah muncul. Kami tidak menutup mata, tapi terus memantau, belajar, dan fokus meluangkan waktu untuk anak.” Tuturnya.
Ia mengatakan bahwa meski melelahkan, fase ini justru menjadi titik awal kesadaran untuk menjalani pengasuhan berbasis ilmu dan kesabaran. Memasuki usia 3–5 tahun, gejala tersebut semakin kuat. Di lingkungan playgroup, aktivitas sang anak kerap membuat guru kewalahan.
“Sering kali guru kebingungan mencari ide untuk melayani aktivitas anak yang sangat aktif.” Kenangnya.
Namun, bagi Ustadzah Nuraini, situasi itu bukan alasan untuk menyerah. Ia meyakini bahwa anak tidak boleh sekadar dibatasi, tetapi perlu diarahkan agar energinya tersalurkan secara positif.
Tantangan yang lebih besar datang saat anak memasuki bangku sekolah dasar. Ia bahkan mengingat satu peristiwa yang cukup berat secara emosional.
“Pernah suatu hari saat di kelas 1 SD, satu sekolah gagal menggelar upacara karena ulah anak saya. Gurunya pusing luar biasa.” Katanya.
Alih-alih putus asa, Ustadzah Nuraini justru menyiapkan mental dirinya dan anaknya untuk menghadapi stigma, bahkan kesalahpahaman, dan dinamika sosial di Sekolah. Pendampingan kemudian difokuskan pada aktivitas positif yang terstruktur. Menurut Ustadzah Nuraini, olahraga menjadi salah satu kunci penting.
“Olahraga sangat efektif untuk menyalurkan energi anak ADHD. Ketika energinya tersalurkan, anak menjadi lebih tenang, bahkan pola tidurnya lebih baik.” Ungkapnya.
Selain olahraga, ia juga menyediakan aktivitas kognitif seperti merangkai, menempel, dan permainan konstruksi. Dari aktivitas tersebut, potensi anak mulai terlihat jelas.
“Setelah kami pelajari lebih dalam, ternyata dia memiliki kecerdasan spasial yang kuat. Dia suka merangkai, konstruksi mainan, dan mengeksplorasi imajinasinya.” Tendas alumni Pascasarjana Universitas Negeri Semarang itu.
Menurutnya, aktivitas kreatif ini tidak hanya mengasah kecerdasan, tetapi juga membantu anak mengelola impulsivitas dan meningkatkan konsentrasi. Salah satu momen paling berkesan terjadi pada peringatan HUT RI tahun 2023, ketika sang anak tampil membaca puisi di atas panggung.
“Bagi anak saya, bisa berdiri diam di panggung selama 30 detik hingga satu menit saja itu sudah sangat sulit. Tapi dia saat itu bisa tampil hampir dua menit membaca puisi sampai tuntas, dan mendapatkan aplaus dari penonton.” Ulas Ustadzah Nuraini penuh haru.
Penampilan tersebut, lanjutnya, menjadi tonggak penting dalam membangun kepercayaan diri dan stabilitas emosional anak. Kepercayaan diri itu terus berkembang. Misalnya pada peringatan ulang tahun sekolah tahun 2026, sang anaknya berhasil meraih juara lomba baca puisi tingkat Sekolah, bahkan mengalahkan kakak kelas 5 dan 6.
“Bagi kami ini kemajuan yang luar biasa. Kata gurunya, sekarang dia jarang sekali berulah justru jadi anak manis di kelasnya.” Tuturnya penuh bangga.
Di bidang olahraga, ia juga memfasilitasi berbagai pilihan seperti berkuda, berenang hingga seni angklung yang beberapa kali tampil di acara Sekolah. Prestasi yang paling menonjol datang dari cabang renang yang baru-baru ini diikuti dang Anak.
“Alhamdulillah, dalam dua bulan terakhir ini berhasil meraih lima medali kejuaraan renang diberbagai Seri dengan proses latihan yang relatif singkat.” Tandasnya penuh semangat.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa dengan pendekatan yang tepat, anak dengan ADHD mampu berprestasi bahkan dalam kompetisi yang menuntut disiplin dan fokus tinggi.
Kini, putra Ustadzah Nuraini duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar dengan kondisi psikologis yang relatif stabil. Semua proses itu dijalani dengan keikhlasan, kesabaran, serta komunikasi intens bersama pasangan.
“Ini adalah proses panjang yang sangat berharga dan menjadi best practice bagi kami dalam merawat anak dengan indikasi ADHD.” Katanya.
Ia bahkan mengaku sesekali rindu masa-masa anaknya masih sering membuat ulah, karena perubahan yang terjadi terasa begitu drastis. Ia juga mengajak Orang tua yang memiliki anak dengan diagnosa ADHD agar tidak khawatir. Karena anak dengan ADHD adalah anak yang memiliki pola perkembangan neuropsikologis berbeda dalam mengelola perhatian, energi, dan kontrol impuls.
Ia kemudian menjelaskan bahwa ADHD ditandai dengan kesulitan fokus, hiperaktivitas, dan perilaku impulsif yang muncul sejak usia dini, namun bukan penyakit, bukan kenakalan, dan bukan kegagalan pengasuhan. ADHD adalah keunikan cara kerja otak yang menuntut pemahaman, kesabaran, dan pendampingan yang konsisten.
Dengan lingkungan yang suportif serta fasilitasi minat dan bakat yang tepat, anak dengan ADHD justru berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, tangguh, dan berprestasi, sebagaimana ditunjukkan oleh kisah Ustadzah Nuraini dan putranya, sebuah pelajaran berharga tentang cinta, ikhtiar, dan harapan. (Harun).







