Surabaya, kartanusa – Suasana lapangan SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Surabaya pada Senin (9/2/2026) tampak berbeda. Di tengah deretan siswa yang mengenakan kain ihram, sosok Engie EN Nana, pelajar pertukaran pelajar asal Prancis, mencuri perhatian. Baginya, mengikuti ujian praktik manasik haji bukan sekadar tugas sekolah, melainkan pengalaman spiritual yang membuka mata.
Kekaguman akan Kurikulum Indonesia
Engie mengaku sangat terkesan dengan cara sekolah di Indonesia, khususnya SMAMDA, dalam memperkenalkan nilai-nilai agama kepada siswanya. Hal ini menurutnya sangat kontras dengan sistem pendidikan di negara asalnya.
”Acara ini sangat menarik dan luar biasa. Di Prancis, kami tidak bisa mempelajari hal-hal spesifik tentang agama seperti ini di sekolah. Jadi, bagi saya ini pengalaman yang sangat berharga,” ungkapnya.
Menurut Engie, praktik manasik haji memberikan gambaran nyata yang sulit didapatkan hanya dari teori. Kebebasan dan dukungan sekolah dalam memfasilitasi pembelajaran agama menjadi poin yang paling ia syukuri selama berada di Surabaya.
Mimpi Menuju Baitullah
Pengalaman praktik ini rupanya membekas jauh di dalam hati Engie. Saat ditanya mengenai harapannya terhadap kehidupan beragama di masa depan, ia menjawab dengan penuh keyakinan.
Engie berharap bisa terus konsisten menjalankan ibadah wajib, termasuk menjaga salat lima waktu setiap hari.
Namun, ada satu mimpi besar yang kini terpatri di benaknya: pergi ke Tanah Suci.
”Saya berharap bisa terus lanjut salat setiap hari, dan saya berharap suatu hari nanti bisa pergi ke Mekkah, insya Allah,” tuturnya.
Menuju Ka’bah yang Sesungguhnya
Melihat semangatnya, Engie pun mengonfirmasi keinginannya untuk bisa melihat dan menyentuh Ka’bah secara langsung di masa depan.
Kalimat “Insya Allah” berkali-kali terucap dari lisan pelajar Prancis ini, menandakan harapan besar agar langkah kakinya di lapangan SMAMDA hari ini menjadi langkah awal perjalanannya menuju Mekkah yang sesungguhnya.
Kegiatan manasik haji di SMAMDA ini pun ditutup dengan kesan manis, membuktikan bahwa pendidikan agama yang dikemas dengan praktik nyata mampu menyentuh hati siapa saja, lintas negara dan budaya. (Yuda)







