Inspirasi Kehidupan : Jokowi Rocky Roy Rismon Refly Egy Gibran, Siapa Menzalimi Siapa ?
Oleh KH. Nurbani Yusuf
(Komunitas Padhang Makhsyar, Direktur Pusat Studi Islam dan Pemikiran Kyai Hadji Ahmad Dahlan)
“Ini puasa, saya sedang tidak mengghiba, hanya ingin mendudukan kezaliman dan kebencian dalam perspektif nilai-niai ke-Islaman yang saya anuti”
Allah berfirman, yang artinya :“Balaslah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”.
Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan sepadan, melainkan melepaskan hak untuk membalas. Memaafkan dan ridha. Menjawab perkataan kasar dengan tutur kata yang sopan dan lemah lembut.
Tidak semua orang beriman bisa melakukan hal ini, kecuali orang beriman yang sabar dan orang beriman yang diberi keberuntungan yang besar.
Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa siapa yang menutupi aib sesama muslim, Allah SWT akan menutup aibnya. Sebaliknya, orang yang membuka aib saudaranya, maka Allah akan membuka aibnya, bahkan di dalam rumahnya sendiri.
Membuka aib adalah ghiba, dosa besar setelah syirik. Susah dimaafkan dan diistighfari, sebab ia berhubungan dengan hak orang lain. Nabi SAW berkata, ghiba itu menceritakan sesuatu yang tidak di suka saudaranya meski benar. Fitnah jika salah, dosanya lebih berat dari membunuh.
“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)”
Jangan saling mencela satu sama lain dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
Pendukung yang satu mencela pendukung yang lain, kemudian memanggil dengan nama nama yang buruk (termul kadal gurun anak abah) adalah kezaliman.
Jika dua mukmin berselisih maka damaikanlah, jangan dikompori jangan dibisiki biar tambah nemen permusuhannya.
Maka, sangat mengherankan jika ada ulama tokoh atau agama ketika ada perselisihan bukannya mendamaikan, malah ikutan berpihak dan menjadi kompor.
“Jangan lah kebencianmu terhadap Jokowi, Gibran, Anis, membuatmu berbuat tidak adil. Balaslah kejahatan dengan kebaikan, jawab kata kasarnya dengan kelembutan, kunjungi rumahnya jabat tangannya, duduki kursinya, sruput kopinya makan pisang rebusnya”







