spot_img
No menu items!
More
    HomeEkonomi & BisnisSaat Dunia Panik karena Krisis Minyak: Mampukah Indonesia Selamat?

    Saat Dunia Panik karena Krisis Minyak: Mampukah Indonesia Selamat?

    Saat Dunia Panik karena Krisis Minyak: Mampukah Indonesia Selamat?

    Oleh Adhwa’ Laila Istiqomah

    (Mahasiswa S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya)

    Dalam beberapa dekade terakhir, dunia berkali-kali diguncang oleh krisis energi. Namun, bayangkan jika harga minyak melonjak tajam hingga mengguncang stabilitas global.

    “Negara-negara besar bisa goyah, ekonomi melemah, dan ketergantungan pada energi fosil menjadi ancaman nyata”

    Jika harga minyak dunia melonjak hingga 300 dolar per barel dari yang saat ini sekitar 100 dolar dampaknya akan terasa besar, terutama di Amerika. Selama ini banyak orang hanya melihat kenaikan harga bensin, padahal minyak memiliki peran jauh lebih luas: digunakan untuk obat-obatan, energi, industri, hingga kebutuhan sehari-hari. Jika skenario itu terjadi, harga bensin bisa menembus 15 dolar per galon, dan biaya obat-obatan pun berpotensi naik hingga dua sampai tiga kali lipat.

    Namun persoalannya tidak sesederhana itu. Kekuatan utama Amerika bukan hanya pada militernya, melainkan pada dolar. Sejak akhir 1940an, perdagangan minyak global hampir selalu menggunakan dolar sebagai alat transaksi. Artinya, ketika pasar minyak terguncang, stabilitas dolar juga ikut terancam. Di saat yang sama, beberapa negara seperti Iran dan kelompok BRICS mulai mendorong alternatif sistem keuangan berbasis emas.

    Tekanan ini semakin besar karena pasar keuangan Amerika saat ini juga ditopang oleh fenomena bubble AI, yang oleh sebagian pihak dinilai lebih banyak dipenuhi ekspektasi daripada keuntungan nyata.

    “Jika gelembung ini pecah, dampaknya bisa meluas: pasar saham jatuh, dana pensiun terguncang, dan kondisi ekonomi melemah”

    Pandangan ini sejalan dengan pendapat Ray Dalio yang menyebutkan bahwa dalam siklus sejarah, kekuatan dunia cenderung berganti setiap 75 hingga 100 tahun. Amerika yang telah menjadi super power lebih dari satu abad berpotensi sedang berada di fase akhir siklus tersebut. Jika tekanan terhadap minyak, dolar, dan pasar saham terjadi secara bersamaan, maka risiko krisis besar menjadi semakin nyata.

    Di sisi lain, beberapa negara di Asia mulai merasakan dampak krisis energi. Kondisi kelangkaan bahan bakar di sejumlah negara menjadi pengingat betapa rapuhnya sistem energi global saat ini. Dalam situasi seperti ini, Indonesia justru memiliki peluang untuk bertahan, salah satunya melalui kebijakan energi mandiri.

    Pemanfaatan minyak sawit sebagai campuran bahan bakar menjadi contoh nyata. Meski sering mendapat kritik, kebijakan ini terbukti membantu Indonesia menghemat anggaran dalam jumlah besar sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.

    Selain itu, limbah seperti minyak jelantah kini mulai dimanfaatkan kembali menjadi bahan bakar, bahkan untuk kebutuhan aviasi. Ke depan, Indonesia juga menargetkan penggunaan energi berbasis sumber daya dalam negeri secara lebih maksimal.

    Hal inilah yang membuat Indonesia relatif lebih stabil saat tekanan global meningkat. Harga bahan bakar masih terjangkau, aktivitas masyarakat tetap berjalan, dan kondisi ekonomi cenderung lebih terjaga dibandingkan sejumlah negara lain.

    Oleh karena itu, di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian, hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah memperkuat persatuan. Bukan saling menyalahkan, melainkan saling mendukung. Sebab jika krisis besar benar-benar terjadi, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

    “Indonesia adalah rumah kita. Dan rumah ini hanya akan tetap kokoh jika kita menjaganya bersama”

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here