spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaWakil Ketua PDM Kota Surabaya, Ingatkan Risalah Islam Berkemajuan pada Kajian Ahad...

    Wakil Ketua PDM Kota Surabaya, Ingatkan Risalah Islam Berkemajuan pada Kajian Ahad Pagi Pencerah PRM Jagir

    Surabaya, kartanusa – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo gelar Kajian Rutin Ahad Pagi Pencerah, yang dikomandoi oleh Majelis Tabligh PCM Wonokromo. Kali ini adalah Edisi Ranting yang bertempat di Masjid Nurul Huda yang berada di wilayah Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jagir, suasana ini terasa begitu khidmat. Ahad (12/04/2026).

    Hadir sebagai narasumber utama, Ustadz Muhammad Jemadi, S.Ag., MA., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya menyampaikan materi mendalam mengenai refleksi keteladanan tokoh bangsa dan esensi Islam Berkemajuan.

    Ustadz Jemadi, Wakil Ketua PDM Kota Surabaya mengawali kajian dengan mengisahkan sosok legendaris Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Pak Abdur Rozaq (AR) Fachrudin. Beliau adalah potret nyata kesederhanaan yang tak lekang oleh zaman.

    “Pak AR lebih memilih menginap di rumah warga daripada di hotel mewah saat diundang berdakwah.” Ujar Ustadz Jemadi.

    Selanjutnya, Ustadz Jemadi juga mengatakan bahwa kesederhanaan ini lahir dari semangat tholabul ilmi yang tulus. Menuntut ilmu bagi kader Muhammadiyah bukan sekadar menambah wawasan, melainkan bekal penyelamat di akhirat kelak.

    “Hal ini selaras dengan janji Allah dalam semangat Yarfa’illahulladzina amanu minkum walladzina utul ilma darajat, bahwa Allah akan meninggikan derajat mereka yang beriman dan berilmu.” Tegasnya.

    Ustadz Jemadi juga mengulas kembali momentum Muktamar Solo, bahwa istilah “Berkemajuan” sebenarnya sudah digaungkan sejak zaman Ir. Soekarno. Bung Karno membedakan antara Islam yang dinamis dengan “Islam Sontoloyo” yang hanya berisi ajaran khurafat tanpa nalar kritis.

    Dalam perspektif Muhammadiyah, lanjut Ustadz Jemadi, bahwa Islam Berkemajuan berpijak pada lima pilar utama yang dipaparkan secara lugas oleh Ustadz Jemadi, yakni:

    Pertama, Bertauhid yang Membebaskan: Tauhid yang murni akan melahirkan jiwa Wala Khaufun Wala Yahzanun—tidak ada rasa takut dan sedih yang berlebihan.

    “Tauhid membebaskan manusia dari penindasan dan kesombongan. Sesuai prinsip Intansurullaha yansurkum, merawat tauhid adalah kunci mendapat pertolongan Allah SWT.” Ungkapnya.

    Kedua, Ikhlas dalam Berkhidmat: Seorang kader tidak boleh mudah mutungan (patah semangat). Sebagaimana pesan dalam QS. Al-An’am: 162, Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin, seluruh aspek hidup harus berorientasi pada Li’ilaai Kalimatillah.

    Ketiga, Al-Qur’an & Sunnah sebagai Sumber Kehidupan: Muhammadiyah mengambil keputusan hukum melalui integrasi pendekatan BayaniBurhani, dan Irfani. Mengamalkan Al-Qur’an secara nyata adalah jalan untuk mengubah peradaban.

    Keempat, Membangun Kepedulian Sosial: Kader Muhammadiyah dituntut menjadi Man of Action. Iman tidak sempurna jika seseorang belum mencintai sesamanya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

    Kelima, Membangun Peradaban Mulia: Orientasi akhir dari Islam Berkemajuan adalah Kemenangan Kemanusiaan.

    “Sebuah tatanan yang di dalamnya tegak jiwa yang adil, jujur, ikhlas, dan peduli terhadap sesama.” Tegasnya.

    Di akhir kajian, Ustadz Jemadi mengingatkan agar seluruh warga PRM Jagir terus merawat semangat kepedulian sosial sebagai bukti nyata dari iman yang hidup.

    “Semoga semangat Islam Berkemajuan ini terus memancar dari sudut-sudut kota Surabaya.” Pungkas Ustadz Jemadi. (Taufiki).

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here