spot_img
No menu items!
More
    HomeOpiniInspirasi Kehidupan : Guru Berdaya, Bangsa Berjasa

    Inspirasi Kehidupan : Guru Berdaya, Bangsa Berjasa

    Inspirasi Kehidupan : Guru Berdaya, Bangsa Berjasa

    Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2026

    Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.

    (Wakil Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Gerakan Bela Negara Provinsi Jawa Timur)

    Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali arah pendidikan bangsa: mencerdaskan kehidupan rakyat melalui guru yang dimuliakan, dilindungi, dan diberdayakan. Namun realitas hari ini justru memperlihatkan ironi yang menyakitkan

    Pendidikan kerap dipenuhi slogan, tetapi miskin keberpihakan nyata. Guru dipuji dalam pidato seremonial, tetapi sering dibiarkan berjuang sendirian di lapangan.

    Jargon “Guru Berdaya, Bangsa Berjasa” bukan sekadar kalimat indah untuk spanduk. Ia adalah panggilan moral agar negara benar-benar hadir memuliakan guru sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Sebab mustahil lahir generasi unggul jika gurunya hidup dalam ketidakpastian, tekanan, dan ketakutan.

    Hari ini, banyak guru berada pada posisi yang lemah di depan hukum. Ketika guru menertibkan murid, mendisiplinkan murid, atau menanamkan nilai karakter, tidak sedikit yang justru diperkarakan hingga ke ranah kepolisian.

    Padahal pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga pembentukan adab, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Jika guru terus dibayang-bayangi kriminalisasi, maka sekolah akan kehilangan wibawa moralnya.

    “Ironisnya, pada musim politik, guru sering dijadikan komoditas elektoral. Suara dan pengaruh guru diperebutkan dalam kontestasi pemilu”

    Guru dipandang sebagai kelompok strategis untuk mendulang dukungan. Namun setelah pesta demokrasi usai, nasib guru kembali dilupakan. Kesejahteraan, perlindungan hukum, hingga pengembangan kompetensi berjalan lambat dan sering berhenti pada janji.

    Kondisi ini diperparah dengan banyaknya pelaksana tugas (Plt) kepala sekolah di berbagai daerah. Fenomena tersebut menunjukkan lemahnya keseriusan pemerintah dalam menata kepemimpinan pendidikan.

    Sekolah membutuhkan pemimpin definitif yang mampu membuat kebijakan, membangun budaya sekolah, dan menyusun arah pendidikan secara berkelanjutan. Ketika jabatan strategis terlalu lama diisi Plt, pendidikan berjalan tanpa kepastian arah.

    Di sisi lain, kekurangan guru di sekolah negeri masih menjadi persoalan klasik yang belum terselesaikan secara tuntas. Banyak sekolah mengalami beban mengajar berlebih, ketimpangan distribusi tenaga pendidik, hingga minimnya guru bidang tertentu.

    Pemerintah terlihat lebih sibuk memproduksi regulasi daripada memastikan implementasi nyata di lapangan. Aturan terus lahir, tetapi kebutuhan dasar pendidikan belum sepenuhnya terpenuhi.

    Pendidikan tidak akan maju hanya dengan pidato, seremoni, dan pergantian kurikulum. Pendidikan membutuhkan keberanian politik untuk menempatkan guru sebagai pilar utama pembangunan bangsa.

    “Guru harus diberi perlindungan hukum yang jelas, kesejahteraan yang layak, ruang pengembangan diri, serta kepercayaan untuk mendidik dengan wibawa dan keteladanan”

    Jika negara sungguh ingin mewujudkan Indonesia Emas, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memuliakan guru, bukan sekadar memanfaatkan mereka. Sebab sejarah membuktikan: bangsa besar lahir dari pendidikan yang kuat, dan pendidikan yang kuat lahir dari guru yang berdaya.

    Hari Pendidikan Nasional 2026 harus menjadi alarm bersama. Sudah saatnya pemerintah berhenti menjadikan pendidikan sebagai panggung retorika. Pendidikan membutuhkan keberpihakan nyata, bukan sekadar narasi.

    “Karena ketika guru berdaya, bangsa akan benar-benar berjaya”

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here