spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeOpiniHarkitnas 2026, Teguhkan Komitmen Aktualisasi Nilai-nilai Bela Negara 

    Harkitnas 2026, Teguhkan Komitmen Aktualisasi Nilai-nilai Bela Negara 

    Harkitnas 2026, Teguhkan Komitmen Aktualisasi Nilai-nilai Bela Negara 

    Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.

    (Wakil Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Gerakan Bela Negara Jawa Timur)

    Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 yang diperingati setiap tanggal 20 Mei bukan sekadar seremoni historis untuk mengenang berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908. Dalam konteks modern, Harkitnas merupakan momentum krusial untuk mereaktualisasi nilai-nilai Bela Negara.

    Jika dahulu fajar kebangkitan diarsiteki oleh kaum pergerakan melalui diplomasi dan organisasi, hari ini esensi “kebangkitan” harus diterjemahkan ke dalam ketahanan ideologi, ekonomi, budaya, dan kedaulatan digital.

    Mereaktualisasi nilai-nilai Bela Negara di Hari Kebangkitan Nasional adalah sebagai berikut:

    Pertama, Transformasi Makna “Ancaman” dan Manifestasi Bela Negara: Pada tahun 1908, musuh bangsa bersifat fisik dan terlihat jelas: kolonialisme imperialis.

    “Bela Negara saat itu mewujud dalam bentuk kesadaran nasional untuk bersatu mengakhiri sekat-sekat kedaerahan”

    Nah, di era kontemporer, ancaman beralih menjadi asimetris, hibrida, dan non-militer. Kebangkitan nasional hari ini adalah tentang bagaimana setiap warga negara membela negaranya dari ancaman modern seperti:

    • Penjajahan Ekonomi: Ketergantungan pada produk asing dan kerentanan pangan/energi.
    • Perang Siber dan Informasi: Penyesatan informasi (hoaks), polarisasi sosial, dan infiltrasi ideologi yang merongrong Pancasila.
    • Pelemahan Karakter Bangsa: Memudarnya etos kerja, integritas, dan rasa bangga terhadap identitas nasional.

    Kedua, Implementasi 5 Pilar Bela Negara dalam Esensi Harkitnas: Mengaitkan momentum Harkitnas ke-118 dengan 5 nilai dasar Bela Negara menghasilkan panduan aksi yang nyata bagi seluruh elemen bangsa, yakni:

    • Cinta Tanah Air: Kebangkitan nasional dimulai dari rasa memiliki. Di era digital, cinta tanah air tidak hanya diwujudkan dengan mengagumi masa lalu, tetapi dengan menjaga ruang digital kita tetap sehat, mempromosikan narasi positif tentang Indonesia, serta bangga dan konsisten menggunakan produk-produk dalam negeri demi kemandirian ekonomi.
    • Kesadaran Berbangsa dan Bernegara: Boedi Oetomo lahir untuk menyatukan visi kelumpuhan bangsa yang terkotak-kotak. Menghidupkan kembali semangat ini berarti mengikis ego sektoral, kelompok, atau politik.

    “Kesadaran ini menuntut kita untuk mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi atau golongan, terutama dalam menjaga kerukunan di tengah keberagaman”

    • Setia pada Pancasila sebagai Ideologi Negara: Harkitnas adalah momentum untuk membentengi masyarakat dari radikalisme dan liberalisme ekstrem.

    “Pancasila harus diposisikan sebagai working ideology—ideologi yang bekerja dalam kebijakan publik, tata kelola media, pendidikan karakter, dan kehidupan sehari-hari, bukan sekadar hafalan teks”

    • Rela Berkorban untuk Bangsa dan Negara: Para pendiri bangsa mengorbankan waktu, harta, bahkan nyawa demi memicu kesadaran nasional. Hari ini, rela berkorban diwujudkan melalui kontribusi profesional.

    “Seorang jurnalis yang berkomitmen menyajikan berita objektif dan mengedukasi publik, atau seorang guru yang berdedikasi membangun karakter generasi muda di pelosok, adalah bentuk nyata dari kerelaan berkorban ini”

    • Memiliki Kemampuan Awal Bela Negara: Kemampuan ini mencakup aspek fisik (kesehatan dan ketahanan diri) serta non-fisik (kecerdasan intelektual, literasi digital, dan keahlian profesi). Bangsa yang bangkit adalah bangsa yang diisi oleh individu-individu kompeten yang siap bersaing di kancah global demi mengangkat martabat negaranya.

    Ketiga, Pers, Literasi, dan Kedaulatan Informasi: Salah satu pilar penting dalam sejarah Kebangkitan Nasional adalah lahirnya pers bumiputera yang menjadi motor penggerak kesadaran massa.

    Dalam perspektif Bela Negara saat ini, sektor media dan informasi memegang peran taktis:

    • Media adalah Benteng Informasi: Di tengah banjir informasi, pers nasional berfungsi sebagai penyaring (clearing house) untuk menangkal disinformasi yang berpotensi memecah belah bangsa.
    • Edukasi Bela Negara Era Modern: Mengemas nilai-nilai patriotisme, cinta tanah air, dan wawasan kebangsaan melalui konten-konten yang relevan, solutif, dan mudah dicerna oleh generasi muda (Gen Z dan Milenial).

    Tiga Refleksi Harkitnas 2026

    Pertama, Hari Kebangkitan Nasional dalam perspektif Bela Negara bukanlah panggilan untuk angkat senjata, melainkan panggilan untuk angkat karya, integritas, dan kompetensi.

    Kedua, Bangsa ini tidak akan benar-benar bangkit jika rakyatnya sekadar menjadi konsumen di negeri sendiri atau menjadi penonton di tengah perubahan global.

    Ketiga, Kebangkitan sejati terjadi ketika setiap individu menyadari bahwa profesi dan tindakan sehari-hari mereka adalah lini terdepan dalam mempertahankan kedaulatan NKRI.

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here