spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaRefleksi Milad Muhammadiyah Ke-117: Meneguhkan Dakwah Islam yang Mencerahkan dan Berkemajuan

    Refleksi Milad Muhammadiyah Ke-117: Meneguhkan Dakwah Islam yang Mencerahkan dan Berkemajuan

    Refleksi Milad Muhammadiyah Ke-117: Meneguhkan Dakwah Islam yang Mencerahkan dan Berkemajuan

    Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.

    (Wakil Sekretaris LPHU PWM, Bendahara Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur)

    Milad Muhammadiyah ke-117 (08 Dzulhijjah 1330 H-08 Dzulhijjah 1447 H) menjadi momentum krusial untuk melakukan refleksi mendalam mengenai langkah perjuangan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.

    Mengusung tema yang senada dengan napas perjuangannya, “Meneguhkan Dakwah Islam yang Mencerahkan dan Berkemajuan,” refleksi ini bukan sekadar perayaan angka, melainkan sebuah komitmen ulang, re-commitment, terhadap visi awal KH. Ahmad Dahlan.

    Berikut adalah beberapa poin refleksi penting dalam memaknai Milad Muhammadiyah ke-117, yakni:

    Pertama, Reaktualisasi “Islam Berkemajuan” di Era Digital: Muhammadiyah selalu dikenal dengan karakternya yang rasional, moderat, dan adaptif terhadap zaman.

    Di usia ke-117, tantangan dakwah telah bergeser ke ruang-ruang digital, kecerdasan buatan (AI), dan globalisasi yang masif. Ada beberapa hal penting yang mestinya menjadi konsen kita, yakni:

    • Dakwah Digital: Mencerahkan umat berarti hadir di ruang digital dengan narasi yang menyejukkan, berbasis data, dan menyebarkan nilai-nilai toleransi, guna membendung arus polarisasi serta hoaks.
    • Transformasi Berpikir: Berkemajuan berarti tidak antipati terhadap perubahan zaman, melainkan mampu mengontekstualisasikan nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menjawab persoalan kontemporer (sosial, ekonomi, dan teknologi).

    Kedua, Internasionalisasi Gerakan dan Kemanusiaan Semesta: Dakwah Muhammadiyah tidak lagi terbatas pada batas-batas geopolitik Indonesia.

    “Melalui konsep Cosmopolitan Islam, Muhammadiyah semakin meneguhkan perannya di kancah global”

    • Pengembangan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di berbagai belahan dunia, menjadi bukti nyata Internasionalisasi Gerakan dan Kemanusiaan Semesta.
    • Aksi kemanusiaan universal melalui MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) dan LAZISMU (Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah) yang menembus sekat agama dan negara, membuktikan bahwa Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin.

    Ketiga, Merawat Pilar Pendidikan, Kesehatan, dan Sosial (PKS): Kekuatan utama Muhammadiyah terletak pada gerakan amalnya (Amal Usaha Muhammadiyah/AUM).

    Refleksi ke-117 ini menuntut adanya peningkatan kualitas, bukan sekadar kuantitas:

    • Pendidikan yang Membebaskan: Sekolah dan Universitas Muhammadiyah harus melahirkan generasi yang unggul secara intelektual (IPTEK) sekaligus kokoh secara spiritual (IMTAK).
    • Kesehatan dan Filantropi: Rumah sakit dan panti asuhan Muhammadiyah harus tetap inklusif, melayani masyarakat tanpa memandang latar belakang, sebagai wujud nyata dari Teologi Al-Ma’un.

    Keempat, Menjadi Kompas Moral Bangsa: Di tengah dinamika politik dan sosial domestik, Muhammadiyah harus tetap konsisten menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik (high politics/politik nilai).

    “Muhammadiyah berkewajiban moral untuk terus mengawal jalannya pemerintahan, memberikan kritik yang konstruktif, serta menjaga persatuan bangsa di atas kepentingan golongan”

    Dakwah yang mencerahkan adalah dakwah yang membebaskan umat dari kebodohan dan kemiskinan. Dakwah yang berkemajuan adalah dakwah yang membawa umat menatap masa depan dengan optimisme, ilmu pengetahuan, dan akhlak yang mulia.

    “Selamat Milad ke-117 Muhammadiyah. Semoga terus konsisten memahat peradaban, mencerahkan semesta, dan membawa Indonesia menuju gerbang kemakmuran yang berkemajuan”

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here