Rubrik Kebangsaan IPHI: Pancasila Bertanya; Mengapa IPHI Harus Membina Alumni Haji?
Oleh Rd. H. Holil Aksan Umarzen
(Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia Bidang Organisasi)
(Refleksi Hari Lahir Pancasila, 1 Juni)
Pada setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah momentum untuk merenungkan kembali nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun pada peringatan ini, seakan-akan Pancasila mengajukan sebuah pertanyaan kepada keluarga besar Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI): Mengapa IPHI harus membina alumni haji?
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun sesungguhnya mengandung makna yang sangat mendalam.
Setiap tahun ribuan umat Islam Indonesia kembali dari Tanah Suci dengan membawa pengalaman spiritual yang luar biasa. Mereka telah menunaikan rukun Islam kelima, menyandang gelar haji, dan memperoleh kehormatan sebagai tamu Allah SWT. Akan tetapi, apakah perjalanan haji hanya berakhir ketika pesawat mendarat di tanah air?
Ataukah justru setelah pulang dari Tanah Suci, dimulai sebuah perjalanan yang lebih panjang, yaitu menjaga dan mewujudkan kemabruran sepanjang hayat?
Atas dasar itulah IPHI mengusung visi besar: Haji Mabrur Sepanjang Hayat.
Sebuah visi mulia yang diperuntukkan bagi seluruh anggota IPHI, agar nilai-nilai haji terus hidup dalam perilaku, pengabdian, dan tanggung jawab sosial di tengah masyarakat.
Namun pada Hari Lahir Pancasila ini, kita perlu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: Apakah visi tersebut sudah menjadi gerakan nyata, atau masih lebih sering menjadi slogan yang tertulis di spanduk, baliho, backdrop kegiatan, dan berbagai publikasi organisasi?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Sebab kemabruran adalah proses yang harus terus diperjuangkan. Tetapi justru karena itulah pembinaan alumni haji menjadi sangat penting.
IPHI tidak cukup hanya menjadi wadah silaturahmi para alumni haji. IPHI harus menjadi pusat pembinaan akhlak, penguatan persaudaraan, pemberdayaan umat, pengembangan kepemimpinan, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Sebab nilai-nilai haji sesungguhnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan nilai-nilai Pancasila, yakni:
- Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan penghambaan kepada Allah SWT.
- Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengajarkan penghormatan terhadap sesama manusia.
- Persatuan Indonesia mengajarkan ukhuwah dan kebersamaan.
- Kerakyatan mengajarkan musyawarah dan tanggung jawab sosial.
- Keadilan Sosial mengajarkan kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat.
Bukankah seluruh nilai tersebut juga menjadi ruh dari ibadah haji?
Karena itu, alumni haji semestinya menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Menjadi pelopor persatuan ketika masyarakat terbelah. Menjadi penjaga kejujuran ketika integritas sedang diuji. Menjadi penggerak kepedulian sosial ketika kesenjangan masih terjadi. Dan menjadi contoh dalam menjaga harmoni antara keislaman dan keindonesiaan.
Lalu Pancasila kembali bertanya: Sudahkah para pengurus dan anggota IPHI menjadi haji mabrur dalam kehidupan sehari-hari?
Tentu hanya Allah SWT yang mengetahui kemabruran seseorang. Namun tanda-tandanya dapat dirasakan oleh masyarakat: semakin amanah, semakin rendah hati, semakin peduli, semakin bermanfaat, dan semakin mampu menjadi perekat persaudaraan.
Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang yang pernah berhaji. Bangsa ini lebih membutuhkan orang-orang yang menghadirkan nilai-nilai haji dalam setiap langkah kehidupannya.
Karena itu, visi “Haji Mabrur Sepanjang Hayat” tidak boleh berhenti sebagai semboyan organisasi. Ia harus menjadi budaya, karakter, dan gerakan nyata yang hidup dalam diri setiap anggota IPHI.
Pada Hari Lahir Pancasila ini, marilah kita menjadikan refleksi tersebut sebagai bahan muhasabah bersama.
Sebab pada akhirnya, kemabruran bukan diukur dari berapa kali seseorang pergi ke Mekkah, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada umat, bangsa, dan negara.
Dan mungkin itulah jawaban atas pertanyaan Pancasila: IPHI harus membina alumni haji agar kemabruran tidak berhenti di Tanah Suci, tetapi terus hidup dan memberi manfaat sepanjang hayat bagi Indonesia.







