Surabaya, kartanusa — Ampas kopi dan tempurung kelapa biasanya berakhir di tempat sampah. Namun di tangan Raffasya Daniyal Alfarizqi, siswa kelas 7 SMP Negeri 46 Surabaya, limbah yang kerap diabaikan tersebut diolah menjadi BIOCOCA INK, tinta spidol ramah lingkungan. Dalam rilisnya, Selasa (16/06/2026).
Ide inovasi tersebut muncul dari kepedulian Raffasya terhadap banyaknya limbah organik yang belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagai salah satu produsen kopi dan kelapa terbesar di dunia, Indonesia menghasilkan jutaan ton limbah dari kedua komoditas tersebut setiap tahun. Sebagian besar hanya dibuang, dibakar, atau berakhir di tempat pembuangan sampah.
“Kalau jumlahnya sangat banyak, mengapa tidak diubah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat?” Ujar Raffasya.
Pertanyaan sederhana itu menjadi awal pengembangan BIOCOCA INK. Nama BIOCOCA INK berasal dari kata BIO yang menggambarkan sifat ramah lingkungan, CO (coffee grounds) yang berarti ampas kopi, dan CA (coconut shell charcoal) yang berarti arang tempurung kelapa. Kedua bahan tersebut tidak hanya mudah ditemukan, tetapi juga memiliki kandungan karbon yang tinggi serta berpotensi digunakan sebagai sumber pigmen alami.
Melalui inovasi tersebut, Raffasya ingin menghadirkan alternatif tinta spidol ramah lingkungan yang dapat menjadi pengganti tinta berbahan kimia dalam mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Dalam proses pengembangan tinta ramah lingkungan, Raffasya melakukan beberapa percobaan dengan tiga formula tinta, yaitu tinta berbahan dasar ampas kopi, tinta berbahan dasar arang tempurung kelapa, serta kombinasi kedua bahan tersebut. Setiap formula diuji berdasarkan tingkat kepekatan warna, kelancaran penulisan, waktu pengeringan, dan kestabilan aliran tinta.
“Tidak semua percobaan berhasil. Ada yang warnanya terlalu pudar, ada yang terlalu encer, bahkan ada yang tidak mengalir dengan baik. Dari situ saya terus belajar dan memperbaiki formula tinta sampai mendapatkan hasil yang optimal.” Ungkapnya penuh optimis.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kombinasi ampas kopi dan arang tempurung kelapa menghasilkan performa tinta terbaik. Perpaduan kedua bahan tersebut mampu menghasilkan warna hitam yang lebih pekat, aliran tinta yang stabil, serta kualitas penulisan yang lebih baik dibandingkan formula tinta lainnya.
Berkat inovasi tersebut, Raffasya berhasil meraih Medali Emas pada kompetisi daring kategori Bioteknologi jenjang sekolah menengah (SMP dan SMA) dalam ajang The 6th Global Competition for Life Science (GLoCoLiS) 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan Politeknik Negeri Malang. Kompetisi internasional tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, Vietnam, Amerika Serikat, Thailand, Puerto Rico, Hong Kong, dan Korea Selatan.
Selama proses penelitian, Raffasya mendapat pendampingan dari guru IPA SMP Negeri 46 Surabaya, Aditya Gama Nurcahyo, S.Pd., yang secara konsisten memantau perkembangan proyek dan memotivasinya untuk terus menyempurnakan inovasi.
“Ketika Raffasya menyampaikan idenya kepada saya, saya menilai idenya sangat bagus karena mengangkat masalah nyata di sekitar kita. Yang menarik, ia mampu melihat potensi besar pada ampas kopi dan tempurung kelapa yang selama ini dianggap limbah untuk diolah menjadi produk yang bernilai guna, ramah lingkungan, dan memiliki peluang pengembangan yang luas.” Tuturnya.
Apresiasi juga disampaikan Kepala SMP Negeri 46 Surabaya, Ani Musafa’ah, M.Pd., seusai Upacara Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Juni 2026.
“Prestasi yang diraih Raffasya di tingkat internasional tentu menjadi kebanggaan bagi sekolah.” Ujar Ani Musafa’ah, M.Pd.
Namun yang lebih berharga, lanjutnya, adalah kemampuannya dalam mengubah kepedulian terhadap lingkungan menjadi sebuah inovasi yang bermanfaat. Ia juga berharap capaian tersebut menginspirasi orang lain.
“Kami berharap pencapaian ini dapat menginspirasi siswa lain bahwa ide sederhana, jika dikembangkan dengan ketekunan dan semangat belajar, dapat menghasilkan karya yang berdampak luas.” Imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Raffasya juga berharap BIOCOCA INK yang dibuatnya dapat terus dikembangkan agar tidak hanya digunakan sebagai tinta spidol, tetapi juga dapat digunakan untuk tinta bolpoin dan tinta printer.
“Ini baru langkah awal bagi saya. Ke depan, saya ingin terus mengembangkan BIOCOCA INK agar bisa digunakan tidak hanya untuk tinta spidol, tetapi juga tinta bolpoin dan tinta printer. Semoga inovasi ini bisa bermanfaat dan membuat lebih banyak orang peduli terhadap lingkungan.” Pungkas Raffasya. (Humas/Andik).







