Meneguhkan Jati Diri Pendidik: Refleksi Hizbul Wathan, Bela Negara, dan Wawasan Kebangsaan
Oleh Ramanda Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Bendahara Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur, Guru Ismuba SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya)
(Sebuah refleksi untuk teman-teman Calon Pendidikan Profesi Guru Fakultas Ilmu Pendidikan, Komunikasi, dan Sains Universitas Muhammadiyah Surabaya, Trawas, Kabupaten Mojokerto)
Sebagai calon pendidik yang ditempa di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), teman-teman tidak hanya dipersiapkan untuk mentransfer ilmu pengetahuan di dalam kelas, tetapi dipersiapkan untuk menjadi arsitek peradaban bangsa, menjadi pandu, menjadi teladan dalam mendidik generasi emas masa depan.
“Di tangan teman-teman, nilai-nilai kemanusiaan, keislaman, dan kebangsaan akan menyatu dalam proses pembentukan karakter generasi penerus yang mempunyai karakter 3P; Pelopor, Pelangsung dan Penyempurna”
Berikut adalah refleksi mendalam mengenai keterkaitan antara semangat Pandu Hizbul Wathan, Bela Negara, dan penguatan nilai kebangsaan dalam konteks profesi guru masa kini.
Pertama, Hizbul Wathan: Etos Kerja dan Karakter Pengabdi: Pandu Hizbul Wathan (HW) bukan sekadar organisasi kepanduan, tepati laboratorium pembentukan karakter.
Filosofi “Fastabiqul Khairat” (berlomba-lomba dalam kebaikan) yang diajarkan dalam HW adalah fondasi bagi seorang guru, khususnya guru di era globalisasi dengan model generasi muda masa kini.
- Disiplin sebagai Keteladanan: Seorang guru yang memiliki jiwa pandu akan menempatkan kedisiplinan bukan sebagai beban, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu dan amanah mendidik.
- Kemandirian dalam Menjawab Tantangan: Di era disrupsi informasi, pendidik dituntut memiliki daya tahan (resilience).
“Jiwa HW mengajarkan bahwa dalam situasi sesulit apa pun, pendidik harus mampu memberikan solusi, bukan sekadar keluhan”
Kedua, Bela Negara: Guru sebagai Benteng Ideologi. Bela negara bagi seorang pendidik tidak berarti mengangkat senjata di medan perang, melainkan bagaimana memenangkan “perang pemikiran” di ruang kelas.
- Menangkal Radikalisme dan Intoleransi: Dengan menginternalisasi nilai-nilai bela negara, Anda menjadi garda terdepan yang mampu membedakan antara kritik yang membangun dan upaya yang merusak sendi-sendi kebangsaan.
- Pendidikan Berbasis Inovasi: Bela negara di era modern berarti meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguasaan sains dan komunikasi.
“Guru yang kompeten secara profesional adalah bentuk nyata kontribusi terhadap kedaulatan bangsa agar Indonesia mampu bersaing di kancah global”
Ketiga, Bhinneka Tunggal Ika: Harmoni dalam Perbedaan. Indonesia adalah mozaik yang sangat luas, dimana teman-teman akan menghadapi peserta didik dari berbagai latar belakang, suku, dan pandangan.
- Pendidik sebagai Penengah (Moderator): Di kelas, Bhinneka Tunggal Ika harus diterjemahkan menjadi praktik inklusi. Guru adalah ruang aman bagi setiap anak untuk belajar menghargai perbedaan tanpa kehilangan identitasnya sendiri.
- Wawasan Kebangsaan yang Luas: Mengajarkan persatuan bukan berarti menyeragamkan, melainkan membangun kesadaran bahwa kemajuan Indonesia adalah hasil dari kolaborasi berbagai potensi yang berbeda.
Pesan untuk Calon Guru Profesional
“Teman-teman calon PPG, perjalanan teman-teman untuk menjadi guru profesional adalah sebuah ikhtiar spiritual, niatkan untuk mengabdi, sehingga kita menemukan makna sejati sebagai seorang guru”
Selama 14 tahun berdiri di depan kelas, bersama anak-anak dengan berbagai karakter dan latar belakang. 12 tahun mengabdi di Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya dan 2 tahun di Sekolah Unggul Nasional SMP Muhammadiyah 5 (Spemma) Pucang Surabaya.
Sekolah Karakter SDM 24 Surabaya, yang dulunya dikenal sebagai Laskar Pelangi Surabaya yang berhasil bertransformasi menjadi Sekolah Unggul dengan brand Sekolah Karakter. ingatlah bahwa:
Pertama, Guru adalah Teladan: Apa yang kita lakukan seringkali lebih berpengaruh daripada apa yang kita katakan. Tunjukkan integritas yang bersumber dari spiritualitas yang kuat.
“Didiklah anak-anak kita dengan penuh keikhlasan dan keteladanan, sehingga mereka menemukan makna sejati tentang kehidupan”
Kedua, Guru adalah Jembatan: Jadilah jembatan yang menghubungkan masa depan anak didik dengan realitas kebutuhan bangsa. Ilmu yang kita berikan harus mampu menjawab tantangan nyata di masyarakat.
Ketiga, Guru adalah Penjaga Nyala Harapan: Jangan biarkan api semangat nasionalisme dan kecintaan pada tanah air padam di ruang kelas.
Integrasi antara semangat Hizbul Wathan yang militan, komitmen bela negara yang berbasis sains, dan pemahaman Bhinneka Tunggal Ika yang inklusif akan menjadikan guru yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral.
“Selamat berjuang dalam pendidikan profesi ini. Jadilah guru yang dirindukan karena ilmunya, dan diteladani karena karakternya”







