AUM Semakin Banyak dan Besar, Kader Harus Bertambah
Oleh Ustadz Anas Febriyanto, SH.
(Kader Muda Muhammadiyah Surabaya)
Perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dalam beberapa dekade terakhir merupakan capaian yang patut disyukuri. Bertambahnya sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai lembaga pelayanan menunjukkan bahwa Muhammadiyah mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui gerakan dakwah yang nyata.
Namun, pertumbuhan tersebut perlu diimbangi dengan pertumbuhan kader. Sebab, hakikat AUM tidak hanya sebagai penyedia layanan publik, melainkan juga sebagai instrumen kaderisasi Persyarikatan.
Dalam perspektif organisasi, keberlanjutan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset atau luasnya jaringan AUM, tetapi oleh keberhasilan menyiapkan kader yang memiliki komitmen ideologis, kapasitas intelektual, dan integritas moral. Oleh karena itu, semakin besar AUM, semestinya semakin besar pula tanggung jawabnya dalam melahirkan kader.
“Fungsi kaderisasi sesungguhnya telah melekat pada keberadaan AUM”
Pendidikan Muhammadiyah, misalnya, tidak hanya bertugas mencerdaskan peserta didik secara akademik, tetapi juga membentuk karakter keislaman dan kemuhammadiyahan.
Rumah sakit Muhammadiyah tidak sekadar memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga menghadirkan nilai dakwah melalui pelayanan yang berlandaskan semangat Al-Ma’un. Demikian pula AUM lainnya, yang pada dasarnya menjadi ruang pembelajaran nilai, kepemimpinan, dan pengabdian.
“Persoalannya, keberhasilan AUM masih sering diukur melalui indikator kuantitatif, seperti jumlah siswa, pasien, aset, atau capaian akreditasi”
Indikator tersebut memang penting, tetapi belum cukup untuk menggambarkan keberhasilan AUM sebagai bagian dari gerakan Muhammadiyah. Seharusnya terdapat ukuran lain yang tidak kalah penting, yakni seberapa banyak kader yang lahir, bertumbuh, dan mengambil peran aktif dalam Persyarikatan maupun organisasi otonom.
Kaderisasi bukanlah proses yang terjadi secara otomatis. Ia memerlukan sistem, keteladanan, pembinaan yang berkesinambungan, serta ekosistem yang mendukung. AUM harus menjadi ruang yang memungkinkan warga, peserta didik, tenaga pendidik, tenaga kesehatan, dan seluruh unsur di dalamnya mengenal, memahami, mencintai, dan akhirnya mengabdi kepada Muhammadiyah.
Dengan demikian, AUM tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten atau tenaga profesional yang unggul, tetapi juga kader yang siap melanjutkan misi dakwah dan tajdid.
Dalam konteks tersebut, sinergi antara AUM dan organisasi otonom seperti; ‘Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah, Kepanduan Hizbul Wathan (HW), dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah menjadi sebuah keniscayaan. Organisasi otonom merupakan wahana kaderisasi yang perlu diperkuat melalui dukungan penuh dari setiap AUM, sehingga proses pembinaan berlangsung secara sistematis dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, kemajuan Muhammadiyah tidak cukup diukur dari semakin megahnya gedung atau semakin besarnya aset yang dimiliki. Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika pertumbuhan AUM berjalan seiring dengan lahirnya kader-kader yang berilmu, berintegritas, memiliki komitmen ideologis, dan siap mengemban amanah Persyarikatan.
“Sebab, aset terbesar Muhammadiyah bukanlah bangunan, melainkan manusia yang mampu menjaga, mengembangkan, dan meneruskan cita-cita dakwah Islam yang berkemajuan dari satu generasi ke generasi berikutnya”







