Malang, kartanusa – Aroma gurih tempe digoreng menyeruak dari salah satu sudut Kampung Sanan, Kota Malang, Jawa Timur. Di sinilah UMKM Keripik Tempe Icik bertahan, merawat warisan kuliner khas daerah yang menjadi buruan para wisatawan. Namun, di balik renyahnya cita rasa tradisional tersebut, ada tantangan besar yang selama ini mengintai: sistem pengelolaan usaha yang masih terjebak di masa lalu.
Selama bertahun-tahun, pencatatan stok dan inventarisasi produk di tempat ini mengandalkan cara konvensional. Lembar demi lembar buku catatan menjadi saksi bisu keluar-masuknya barang. Cara manual ini bukannya tanpa risiko. Kesalahan rekap, kertas yang robek, hingga data yang terselip kerap menjadi pemicu goyahnya manajemen operasional usaha.
Di sisi lain, meski Keripik Tempe Icik sudah merambah pasar online melalui platform food delivery seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood, identitas digital mereka masih tercecer. Mereka belum memiliki “rumah resmi” di dunia maya yang bisa mengintegrasikan seluruh informasi bisnis dalam satu pintu. Masalah ini kian diperumit dengan belum optimalnya pemanfaatan Google Business Profile, membuat toko fisik mereka kerap luput dari radar pencarian peta digital para wisatawan luar daerah.
Melihat urgensi tersebut, tim mahasiswa Program Studi S1 Informatika Telkom University Surabaya turun tangan melalui Program Informatika untuk Masyarakat (IUM). Pada Juni 2026, mereka menggelar aksi pengabdian masyarakat untuk memodernisasi cara kerja UMKM legendaris ini tanpa merusak orisinalitas rasanya.
Dua Pintu dalam Satu Sistem Informasi
Menjawab kendala tersebut, tim pengabdian membangun sebuah Sistem Informasi Manajemen berbasis web yang dirancang khusus untuk Keripik Tempe Icik. Sistem ini bekerja melalui dua pintu utama.
- Pintu Pertama: Halaman Publik (Company Profile) Berfungsi sebagai etalase digital resmi. Melalui layar gawai atau komputer, masyarakat luas kini dapat mengakses sejarah usaha, menjelajahi katalog produk secara interaktif, hingga mengecek ketersediaan varian rasa secara real-time sebelum datang ke toko.
- Pintu Kedua: Panel Kontrol (Dashboard Admin) Ini adalah ruang kerja digital bagi pengelola. Didesain dengan antarmuka yang ringkas dan bebas rumit, fitur ini menjadi pusat manajemen inventaris (inventory management). Admin toko kini bisa memperbarui stok, menambah varian rasa baru, dan memantau sisa produk dengan aman tanpa takut kehilangan data historis.
Membuka Gerbang untuk Wisatawan
Bukan sekadar membenahi sistem internal, ekosistem digital terluar juga diperkuat. Mengingat Kota Malang merupakan destinasi wisata utama, tim mengoptimalkan Google Business Profile (Google Maps) milik mitra.
Melalui langkah ini, titik koordinat akurat, rute jalan, nomor kontak resmi, hingga jam operasional Keripik Tempe Icik kini terindeks sempurna di mesin pencari. Wisatawan yang tengah mencari buah tangan di sekitar lokasi akan langsung diarahkan oleh peta digital menuju toko fisik.
“Program digitalisasi ini berhasil menjembatani kesenjangan antara metode bisnis tradisional dan kebutuhan pasar modern,” ujar salah satu perwakilan tim pengabdian Telkom University Surabaya.
Pendampingan Humanis untuk Transisi yang Mulus
Inovasi teknologi tidak akan berdampak jika manusianya tertinggal. Menyadari hal tersebut, tim pengabdian menggelar pelatihan intensif dan pendampingan melekat kepada pemilik serta pengelola Keripik Tempe Icik.
Pemilik UMKM didampingi langsung untuk melakukan simulasi input data riil—mulai dari memasukkan jumlah keripik siap jual, mengkategorikan varian rasa seperti original, pedas, dan daun jeruk, hingga mempraktikkan pembaruan stok otomatis pasca-transaksi penjualan. Pendampingan ini terbukti sukses mengikis kegagapan teknologi dan membangun rasa percaya diri mitra untuk beralih sepenuhnya dari kertas ke layar digital.
Menatap Masa Depan Pasar Digital
Kini, Keripik Tempe Icik telah siap bersaing di pasar yang lebih luas. Dengan manajemen internal yang rapi dan visibilitas online yang kuat, kendala klasik pembukuan manual berhasil dituntaskan.
Langkah digitalisasi ini diproyeksikan tidak akan berhenti sampai di sini. Ke depan, sistem informasi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh, seperti integrasi chatbot WhatsApp otomatis untuk melayani pesanan 24 jam, serta penerapan algoritma prediksi stok sederhana guna memproyeksikan kebutuhan produksi menjelang musim puncak (peak season) kunjungan wisatawan ke Kota Malang. (Red)







