Gresik, kartanusa – Sebanyak 19 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 27 Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) memulai langkah awal pengabdian kepada masyarakat dengan melakukan pemetaan sosial (social mapping) di Desa Dapet, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik. Kegiatan tersebut menjadi dasar penyusunan program kerja yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Selasa (07/07/2026).
Pemetaan sosial dilakukan secara serentak di tiga dusun, yakni Dusun Kedungdowo, Dusun Dapet, dan Dusun Sugihwaras. Para mahasiswa mewawancarai kepala dusun untuk menggali informasi mengenai potensi desa, persoalan yang dihadapi masyarakat, serta harapan terhadap program yang akan dijalankan selama pelaksanaan KKN.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Kelompok 27 KKN UMSURA, Taufiq, menjelaskan bahwa social mapping merupakan tahapan penting sebelum menentukan program pengabdian. Menurutnya, mahasiswa tidak ingin hanya menghadirkan kegiatan seremonial, melainkan program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin program yang kami jalankan berbasis data lapangan. Karena itu, kami terlebih dahulu berdiskusi langsung dengan para kepala dusun agar memahami kondisi riil masyarakat.” Ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, mahasiswa membahas berbagai aspek pelayanan publik. Mulai dari pemerataan layanan Posyandu, akses pendidikan bagi anak-anak, hingga kondisi sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama sebagian besar warga Desa Dapet.
Selain menggali potensi ekonomi desa, mahasiswa juga memetakan berbagai persoalan sosial yang memerlukan perhatian bersama. Isu kesehatan mental, perilaku remaja, hingga ketahanan keluarga menjadi fokus pembahasan dengan para perangkat desa.
Salah satu perhatian utama adalah upaya mengidentifikasi tingkat kerentanan penyalahgunaan NAPZA, angka pernikahan usia dini beserta faktor penyebabnya, serta potensi kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah. Informasi tersebut diperoleh melalui wawancara mendalam bersama Kepala Dusun Kedungdowo dan Kepala Dusun Dapet, Sandi, serta perangkat desa lainnya.
Menurut Taufiq, hasil pemetaan menunjukkan bahwa persoalan sosial memerlukan pendekatan edukatif yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk sekolah, orang tua, dan pemerintah desa.
“Data yang kami kumpulkan akan menjadi dasar penyusunan program sosialisasi, terutama edukasi pencegahan pernikahan dini bagi siswa SMP. Harapannya, materi yang kami sampaikan benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat Desa Dapet.” Katanya.
Kepala Dusun Dapet, Sandi, mengapresiasi langkah mahasiswa yang memulai kegiatan KKN dengan mendengarkan aspirasi masyarakat. Menurutnya, pendekatan tersebut membuat program mahasiswa lebih relevan dengan kebutuhan warga.
Ia berharap hasil pemetaan sosial tidak hanya menjadi laporan akademik, tetapi juga melahirkan rekomendasi yang dapat dimanfaatkan pemerintah desa dalam menyusun program pembangunan sosial di masa mendatang.
Melalui pendekatan berbasis data tersebut, Kelompok 27 KKN UMSURA berharap mampu menghadirkan program pengabdian yang berdampak nyata bagi masyarakat. Pemetaan sosial menjadi fondasi penting agar setiap kegiatan yang dilaksanakan tidak sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi warga Desa Dapet.
Dengan demikian, semangat kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat diharapkan mampu mendorong pembangunan desa yang lebih partisipatif dan berkelanjutan. (Huda).







