Banjarmasin, kartanusa – Dalam upaya memperkokoh fondasi organisasi dan menjaga arah perjuangan para muassis, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Selatan menggelar Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) bagi jajaran Syuriyah se-Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah. Dilansir dari laman resmi media sosial pribadi KH. Cholil Nafis, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmat 2022-2027, pada Ahad (19/07/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak Sabtu hingga Selasa ini menjadi momentum strategis untuk membekali para ulama dengan ‘ainil bashirah (mata batin yang bersih) dalam menavigasi organisasi di tengah dinamika zaman.
Menjawab Tantangan Zaman dengan Fiqh al-Waqi’
Pendidikan ini diselenggarakan dengan kesadaran bahwa tantangan yang dihadapi umat dan organisasi saat ini semakin kompleks. Ulama di lingkungan Syuriyah kini tidak hanya dituntut untuk mendalami khazanah turats dan metodologi istinbath hukum semata, tetapi juga harus mampu merespons perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan publik, ekonomi, hingga persoalan lingkungan dan hubungan internasional.
“Pengembangan wawasan ini adalah kebutuhan strategis bagi Syuriyah sebagai marja’iyyah diniyyah (rujukan keagamaan) dan penentu arah kebijakan organisasi, baik secara jama’atan (keorganisasian) maupun jam’iyatan (perkumpulan).” Ujar KH. Cholil Nafis.
Melalui kegiatan ini, tambahnya, bahwa para ulama didorong untuk mengasah kemampuan fiqh al-waqi’ (memahami realitas), sehingga setiap kebijakan yang dihasilkan tetap berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah namun tetap relevan dan kontekstual dengan kebutuhan zaman.
Investasi Kelembagaan untuk Keberlanjutan Organisasi
Sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam struktur Nahdlatul Ulama, Syuriyah memikul tanggung jawab besar untuk menjaga marwah dan arah perjuangan organisasi agar selaras dengan maqashid syariah dan cita-cita para pendiri.
PPWK ini dipandang bukan sekadar program peningkatan kapasitas personal bagi para kiai, melainkan sebuah investasi kelembagaan yang krusial. Perpaduan antara kedalaman pemahaman teks klasik dengan wawasan modern diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan ulama yang kokoh dalam prinsip, luas dalam pandangan, dan bijaksana dalam mengambil keputusan.
“Dengan keluasan wawasan tersebut, Syuriyah diharapkan dapat memberikan panduan moral dan strategis yang kuat bagi Nahdlatul Ulama dalam menghadapi berbagai isu kontemporer, sekaligus menjadi penjaga arah perjuangan organisasi agar senantiasa istiqamah dalam mengabdi kepada agama, bangsa, dan kemaslahatan umat.” Tambah KH. Cholil Nafis.
Kegiatan yang diikuti oleh jajaran Syuriyah dari Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah ini diisi dengan berbagai sesi pendalaman, mulai dari penguatan metodologi bahtsul masail hingga diskusi strategis terkait persoalan kebangsaan dan kemanusiaan.
Melalui PPWK ini, PWNU Kalsel optimistis bahwa kepemimpinan ulama akan semakin berkualitas dalam memimpin Nahdlatul Ulama di masa depan. (Humas/Gus).








