spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaInspirasi Kehidupan: Kenapa Takut dengan Kesulitan?

    Inspirasi Kehidupan: Kenapa Takut dengan Kesulitan?

    Inspirasi Kehidupan: Kenapa Takut dengan Kesulitan?

    Oleh Dr. K.H. Fathur Rohman, M.Pd.I.

    (Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur, Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI)

    (Catatan di bandara Juanda, Jum’at, 24 Juli 2026 hendak terbang ke Jakarta)

    Kenapa Takut dengan Kesulitan?

    Sulit adalah satu kata yang jadi hantu bagi sebagian orang. Ada orang yang begitu mendengar kata sulit, nyalinya langsung ciut. Ragu dan bimbang untuk melangkah.

    Sesuatu yang dianggap sulit seseorang belum tentu sulit bagi kita. Demikian juga sesuatu yang sulit bagi kita belum tentu sulit bagi orang lain.

    “Maka, jika kita ingin yang sulit itu bukan menjadi beban kita maka kita harus mau berkolaborasi dengan pihak lain untuk memecahkan yang sulit itu”

    Demikian juga jika ada orang yang sharing kepada kita tentang kesulitan hendaknya kita menerimanya dengan lapang.

    Jika itu kita lakukan, maka tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Kebersamaan adalah kunci untuk meringankan kesulitan. Kebersamaan adalah kunci untuk menghilangkan kesulitan.

    “Jangan pernah merasa sendirian jika kita bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berbaik sangka, husnudhdhon akan memudahkan langka menuju kemudahan”

    Enam belas tahun yang lalu bagi Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI adalah masa-masa yang tidak semua orang menganggap mudah.

    Di tanah yang gersang dan susah air sulit rasanya dibayangkan kalau di tempat itu akan berdiri sebuah bangunan pondok pesantren sebagai tempat pendidikan pusat tafaqquh fiddien.

    Saya teringat ucapan salah satu orang tua mantan kepala dusun di kampung itu, Pak Polo Sinar, katanya; “Bah, kata orang-orang tua dulu, suatu saat nanti (onok rejone zaman) di antara dua desa ini akan menjadi pusatnya ilmu”.

    Kalimat itu diucapkan kepada saya di awal-awal pendirian pondok pesantren eLKISI.

    “Ternyata, kata-kata itu menjadi kenyataan.” Sambung beliau.

    Tentu saja semua itu tidak lepas dari kehendak Alloh SWT yang sudah tertulis di “Lauhil Mahfudh”.

    Perjuangan Mendirikan Pondok Pesantren

    Januari tahun 2010, peletakan pondasi pertama bangunan Pondok Pesantren eLKISI dilakukan. Kurang lebih 45 hari bangunan yang terdiri dari 4 lokal ruang belajar, 6 ruang kamar mandi, 1 dapur dan ruang makan, dan 1 masjid berukuran 10 x 10 M2 selesai proses pembangunannya.

    Ketika bangunan sudah jadi pertama-tama yang berandil meramaikan Pondok Pesantren ini adalah warga Mojodadi. Selanjutnya awal tahun ajaran 2011, kami membuka pendaftaran santri baru.

    Sulitkah? Bagi orang yang akrab dan terbiasa sambat pasti akan mengatakan sulit. Beda halnya dengan orang yang sudah biasa menghadapi kesulitan dan terlatih mencari solusi dari kesulitan.

    Alkisah, pada saat hendak memulai rencana peletakan baru pertama. Kami mengundang teman-teman di rumah perjuangan (kontrakan) di Banjarsari Buduran Sidoarjo. Rumah kontrak yang kami tempati sekeluarga itu adalah rumah Ustadz Mudjib Abdurrahman, Allohu yarham, salah seorang pengasuh di Ponpes eLKISI.

    “Saat itu, kami hanya punya modal lima juta rupiah, waqaf dari bapak H. Dulasid warga PPLI Waru Sidoarjo”

    Dengan bermodal lima juta rupiah, kami bikin proposal sebanyak 2000 exs dengan edisi lux (berwarna). Kepada teman-teman kami sampaikan bahwa dua ribu proposal tersebut harus kita bagi dalam seminggu ini. Dan dalam seminggu ini harus habis.

    Bingung? Pasti bingung, sulitkah?

    Tergantung siapa yang membawa proposal tersebut. Tapi, kami mencoba meyakinkan mengapa dalam seminggu harus habis? Jika dalam seminggu proposal kita habis, maka dalam seminggu itu pula ada dua ribu orang yang mengenal eLKISI.

    Dan menurut kami ini sangat logis. Inilah langkah yang kami tempuh yang bisa jadi sebagian teman mengatakan; “Wong iki gendeng bee (orang ini mungkin gila)”.

    Bagi kami, kita harus punya ide-ide yang gila dan memiliki langkah-langkah yang gila. Atau saat ini orang menyebutnya; “Out of The Box”. Panjang lebar kami mencoba memahamkan dan memotivasi.

    “Alhamdulillah, akhirnya semua terjadi. Dan alhamdulillah itu berlaku sampai sekarang”

    Kami yakin dengan janji Alloh SWT; Inna ma’al ‘usri yusra. Fainna ma’al usri yusra. (Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan) dua kali diulang oleh Alloh SWT. (InsyaAllah bersambung).

    fortasi
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here