spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaMenjaga Kemurnian Tauhid: Pengajian Guru dan Karyawan SMP Muhammadiyah 5 Surabaya Kupas...

    Menjaga Kemurnian Tauhid: Pengajian Guru dan Karyawan SMP Muhammadiyah 5 Surabaya Kupas Bahaya Niat dan Tempat Penyembelihan

    Surabaya, kartanusa — Terus berkemajuan dan mencerahkan, guru dan karyawan Sekolah Unggul Nasional SMP Muhammadiyah 5 (Spemma) Pucang Surabaya menggelar kegiatan pengajian rutin yang mengangkat materi penting mengenai kemurnian akidah berdasarkan Kitab Tauhid Bab 10 dan 11, di Meeting Room Spemma pada Rabu (09/09/2026).

    Hadir dalam kajian rutin tersebut, Drs. KH. Najih Ihsan, M.Ag., Ahli Kitab Tauhid yang juga Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Kajian ini mengupas secara mendalam tentang prinsip ibadah kurban dan penyembelihan hewan yang mutlak hanya diperuntukkan bagi Allah SWT, serta bahaya penyembelihan dengan niat atau di tempat yang salah.

    Dalam pemaparannya, KH. Najih, panggilan akrabnya, jamaah diingatkan kembali pada pedoman hidup seorang Muslim sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 162–163. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

    Artinya :“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 162).

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَ نَاۡ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

    Artinya :“Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri (muslim).” (QS. Al-An’am 6: Ayat 163).

    “Ayat tersebut menggarisbawahi bahwa seluruh aspek kehidupan, mulai dari salat, ibadah, hidup, hingga kematian, murni dipersembahkan hanya kepada Allah SWT tanpa ada sekutu bagi-Nya.” Tuturnya.

    Lebih lanjut, kajian tersebut menyoroti ibadah nusuk (penyembelihan) yang disandingkan dengan perintah salat dalam Surat Al-Kautsar ayat 2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

    فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَا نْحَرْ

    Artinya :“Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (QS. Al-Kausar 108: Ayat 2).

    “Penyembelihan hewan merupakan ibadah agung untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, niat dan pelaksanaannya harus steril dari unsur-unsur selain Allah SWT.” Tegasnya.

    Pembahasan juga merujuk pada hadits riwayat Abu Dawud dari Tsabit bin Dhahaq mengenai seseorang yang bernazar menyembelih unta di Buanah. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah SAW teliti memastikan apakah di tempat tersebut pernah ada berhala atau perayaan jahiliyah sebelum mengizinkan pemenuhan nazar, guna membentengi akidah umat dari penyerupaan terhadap ritual batil.

    Kajian ini turut mengingatkan bahaya tersembunyi ketika seseorang berniat menyembelih karena Allah SWT, namun dilakukan di tempat yang biasa digunakan untuk ritual selain Allah atau di dekat kuburan dengan keyakinan tertentu.

    “Jika penyembelihan di dekat kuburan dilakukan untuk mengagungkan selain Allah SWT, maka hal tersebut dikategorikan sebagai syirik akbar.” Tandas KH. Najih.

    Namun, lanjutnya, jika tujuannya mengagungkan Allah SWT tetapi dilakukan di tempat tersebut karena keliru menganggapnya lebih utama, maka hal itu menjadi perbuatan bid’ah yang bisa menjadi sarana menuju kesyirikan.

    Sebagai penutup materi, disampaikan pula kisah masyhur riwayat Ahmad mengenai dua orang yang melewati sebuah kaum penyembah berhala. Kaum tersebut mengharuskan setiap orang yang lewat untuk mempersembahkan korban, meski hanya seekor lalat.

    “Orang pertama terjatuh ke dalam neraka karena menuruti permintaan tersebut dan mempersembahkan seekor lalat kepada selain Allah. Sebaliknya, orang kedua memilih mempertahankan akidahnya dan rela dipenggal lehernya karena menolak berkurban kepada selain Allah, sehingga ia mengantarkan dirinya masuk ke surga.” Pungkasnya.

    Melalui pengajian ini, para guru dan karyawan SMP Muhammadiyah 5 Surabaya diharapkan semakin teguh menjaga kemurnian tauhid, memperkuat ketulusan niat dalam beribadah, serta lebih peka terhadap potensi penyimpangan akidah dalam kehidupan sehari-hari. (Humas/Gus).

    fortasi
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here